Rabu, 01 Juni 2016

Battle Royale by Stella Furuya


Paperback 228 pages
Penerjemah
Published 2013 by Zettu
Rating: 1,5/5

Jauh sebelum saya memutuskan membeli buku ini, saya sudah punya file film Jepang yang terkenal sadis, bloody nan gory ini. Saya juga sudah mendengar bahwa novel ini konon yang menginspirasi Suzanne Collins menulis trilogi Hunger Games, hanya jauh lebih tidak manusiawi. Tapi entah kenapa, ketika melihat buku ini dipajang di salah satu olshop buku langganan saya di Facebook, saya tertarik membelinya. Jika saya sering tak kuat melihat cipratan darah di film-film, saya berpikir, mungkin saya lebih 'tahan' dengan cipratan darah ini dalam bentuk tulisan. Ngga ada salahnya jika saya membacanya, siapa tau saya menemukan keasyikan tersendiri dengan kisah sadis nan berdarah-darah ini.

Ternyata saya salah.

Ceritanya ngga asyik sama sekali. Saya sebal dengan semua karakter disini, gaya penulisan yang mirip penulis amatir, terlalu banyak dialog dibanding narasi jadi mirip naskah drama dibanding novel, typo yang bertebaran, karakter yang terlalu banyak tapi tak jelas personality alias sifat karakter yang tak jelas. Pokoknya saya menyesal membaca buku ini!!! :-!


Sejak awal, sudah terlihat kesadisan scene antara satu tokoh dengan yang lainnya. Nyawa manusia seakan ngga ada harganya sama sekali. Kalo di novel metropop yang menjual cerita hedonis banyak memajang merk-merk terkenal, disini, berderet jenis-jenis senjata pembunuh, mulai dari tanto, katana, nodachi, kama, kodachi, hingga pistol dan sumpit yang beralih fungsi untuk membunuh. Saya jadi pusing membayangkan berbagai ukuran pedang, samurai, pisau, dan bla bla bla yang lain yang semuanya berfungsi untuk membunuh!

Seperti halnya The Hunger Games, permainan gila sekedar mengingatkan rakyat Panem akan pengkhianatan Distrik 13, maka dibuatlah permainan yang 'menyenangkan' pihak-pihak tertentu. Begitu juga dengan Battle Royale ini. Bedanya, permainan dengan pajangan senjata pembunuh ini ngga jelas tujuannya. Jika saya berhenti di seperempat terakhir novel ini, mungkin saya akan selamanya misuh-misuh saking ngga jelasnya background permainan ini. Untungnya saya bertahan meski dengan dongkol hingga lembar terakhir. Ternyata ini adalah kisah perseteruan antara dua keluarga besar, Ryusuke dan Hasegawa.

Keluarga Ryusuke lah yang mempunyai kebiasaan mengadakan permainan Battle Royale ini. Menyediakan ratusan peserta usia muda, dengan iming-iming hadiah entah apa (sorry, saya lupa taat mungkin emang ngga jelas hadiahnya:), permainan ini bakal berakhir dengan satu pemenang terakhir yang bertahan hidup sampe akhir. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan membunuh peserta lainnya. Itulah mengapa, tas yang disediakan panitia (tsaaahhh... panitia, macam perayaan 17an aja) terdapat senjata yang berbeda satu sama lain. Yang mengherankan, diantara para peserta itu terdapat beberapa yang tergolong 'dekat' dengan Ryusuke. Misalnya Taisuke yang ia akui sebagai anak kandungnya. Digambarkan Taisuke ini cacat mental yang acap ia siksa demi mendidiknya menjadi tangguh, tapi alih-alih menjadi kuat dan tangguh, Taisuke tetap Taisuke, anak cacat mental yang kebetulan disayang beberapa peserta lainnya. Lucunya, di hampir akhir cerita, Taisuke yang terluka parah, ditangisi Ryusuke. Kesadisan Ryusuke ini sama sekali ngga konsisten. Satu kali menyiksa, kali lain sayang setengah mati. Demikian juga dengan karakter yang lain. Shun alias Joker, pada awalnya saya cukup suka dengan karakter yang dibilang lemah ini, tapi ternyata dia main bunuh juga. Akari, cewek yang suka cengengesan dan tergila-gila dengan darah ini digambarkan 'dekat' dengan Shun, at the end justru dia hampir membunuh Shun. Oya, lemahnya Shun ini digambarkan ia mengidap AIDS, dari mana ia dapat penyakit itu, ngga jelas juga. Padahal di bagian prekuel dijelaskan masa lalu Shun dengan kakaknya yang kemudian terpisah. Tapi tak ada cerita Aids ini. Hubungan saudara antara Mizu-Taisuke atau Mizu-Shun cukup mbulet. Belum lagi Ruka yang juga menganggap Taisuke adek kandungnya. Lha terus, siapa saudara siapa ya. Hhhhhh... Capeekkkk sayaahh, sodara2...

Hmmppphhh... Pokoknya menyesal saya baca buku ini. Saya lebih siap membaca kisah lebih gory dari ini dengan syarat background yang jelas, karakterisasi yang lebih menarik dan jelas. Ketika saya cek novel dengan judul yang sama si Goodreads, ternyata novel ini adalah salah satu novel berjudul sama dengan novel yang kemudian difilmkan, sepertinya dengan cerita yang hampir sama tapi dengan ketebalan halaman yang berbeda. Stella Furuya sendiri entah darimana ia menulis cerita ini. Apakah hanya mengambil nama permainan yang sama kemudian ia ceritakan dengan gayanya sendiri? Entahlah. Yang jelas, buku ini ngga bakal saya rekomendasikan buat siapapun. Rugi!!! :-$

4 komentar:

  1. anuuu... si pengarang stela furuya ini orang jepang opo wong endonesha?
    jangan2 ini fan-fiction n self-published yang meniru Battle Royalle-nya Takami Koushun #suudzon-max 0_0

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhooraaaa jelaazzzz.... Cek di GR, cuma atu ini bukunya en ga ada profil lengkapnya... zzzzzzzzzz.....

      Hapus
  2. kupikir ini yang dari jepang itu. ternyata beda ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eengggg.... kupikir juga gitu. Terrrnyataaaa.... tertipuuuu.... :@

      Hapus