Senin, 20 Juni 2016

Kambing & Hujan (Sebuah Roman) by Mahfud Ichwan




Ebook, read in Bookmate application (free) 380 pages
Published June 2015 by Bentang Pustaka
Rating 3/5

Entah mengapa, sejak awal beberapa teman saya memberi tanda to-read pada buku ini, tanpa membaca sinopsisnya, saya ikut-ikutan menandai buku ini sebagai to-read. Jadi bisa kebayang kan, begitu buku ini memiliki status free alias gratis di satu aplikasi baru baca buku, Bookmate, saya serasa melihat pelangi di musim panas… #tsaaaahhh hahaha… Tapi apakah pengalaman membaca buku ini setimpal dengan keinginan saya membaca buku ini? Mari mari simak review saya ini…

Seperti ang sudah saya tulis di awal, saya tidak membaca synopsis buku ini sebelumnya, maka saya sedikit kaget ketika saya disuguhi isu tentang agama yang sangat kental di buku ini. Bukan agama dalam arti syiar sih, tapi tentang perbedaan cara beribadah, cara pandang dan lain sebagainya dari agama major di negeri ini, yang sering kali diwarnai olik-olokan yang sejauh pengalaman saya, tidak pernah berakhir dengan perkelahian layaknya di novel ini. Mengambil judul Kambing dan Hujan, rupanya si penulis ingin memberi analgi, si kambing yang tak akan pernah bisa berdamai dengan hujan. Eeeeehh…begitu kah? Saya kok baru tau? :D

Miftahul Abrar alias Mif dan Nurul Fauzia adalah pasangan muda dari sebuah desa kecil di Centong, Surabaya. Mereka berasal dari satu desa yang sama, tapi tak pernah mengalami masa kecil bersama, meski memiliki orangtua yang seharusnya sedekat saudara, tapi masalah masa lalu membuat Mif dan Fauzia tak pernah kenal satu sama lain. Takdir membawa mereka saling bertemu dan akhirnya jatuh cinta dan berjanji ke jenjang selanjutnya. Namun apa daya, para orangtua yang angkuh dan dingin, menjadi batu sandungan yang tidak bisa dielakkan.


Sejak kecil, saya pun mengalami hal yang sama, sekolah di sekolah yang disebut paham yang kuno di buku, NU, sementara bapak ibu saya sejak kecil sudah menganut kebiasaan islam pembaruan, sebutan di buku ini untuk Muhammadiyah. Berbeda dari nasib Mif dan Zia, orangtua saya tidak mempermasalahkan apakah anak-anaknya beribadah menggunakan usholli atau menggunakan bacaan qunut untuk sholat Shubuh atau tidak, selama anak-anak mereka beribadah lima waktu. Maka, kebayang kan perasaan saya selama membaca buku ini, perbedaan-perbedaan itu serasa drama yang tak habis-habis memakan beratus-ratus halaman. Well, mungkin memang tidak mudah menerima suatu kebiasaan baru, apalagi lengkap dengan dalil-dalil dari fiqih yang dipercaya sah bagi sebuah kelompok yang secara turun temurun mempercayai dalil-dalil tersebut. Dua karakter yang berseteru ini diwakili oleh Is alias Kandar, bapak Mif, si lakon utama Islam pembaruan, dan Moek atau Mat alias Fauzan, bapak Zia, si lakon utama dari paham Islam turun menurun. Mereka sebenarnya adalah pasangan sahabat yang tak terpisahkan oleh jarak dan waktu. Ketika Fauzan pergi merantau untuk menuntut ilmu di pesantren, mereka tak putus saing berkabar. Ketika Moek pulang pun, mereka mempunyai spot milik mereka sendirii, Gumuk Genjik, untuk saling berkisah sekaligus bertengkar untuk hal-hal prinsip yang membedakan mereka, sebelum akhirnya perbedaan itu justru memisahkan mereka…

Isu perbedaan ini saya rasa sudah ada sejak saya kecil, meski ingatan pendek saya tak bisa mengingat mulai kapan hari raya dirayakan secara terpisah, tergantung hitungan hisab dan penglihatan hilal. Perbedaan ini menjadi semakin santer ketika saya mulai berlangganan koran atau menonton siaran televisi. Ketika saya masih SD, sekolah dan lingkungan saya menganut paham usholli dan qunut, orangtua saya tak keberatan mengikutinya. Ketika saya SMP, saya berpindah ke sekolah Muhammadiyah, dengan lingkungan baru pula yang lebih heterogen pahamnya, saya pun mengikuti apa yang ada, alih-alih mengikuti isu perbedaan itu. Namun hal yang saya sangat ingat adalah kebiasaan ibu saya membeli kalender Menara Masjid yang diterbitkan entah dari mana, tapi lengkap dengan hitungan hisabnya, dan keluarga saya tak pernah mengingkari hitungan hisab itu, kecuali jika pemerintah memberi pengumuman yang berbeda. Olok-olok perbedaan ini yang memakan berlembar-lembar halaman di novel ini bahkan perseteruan puluhan tahun, sesekali menimpa saya, tapi itu pun tidak terlalu saya perhatikan. Saya yang terlalu cuek atau apa, ngga tau sih hehehe…. 

Trivia komen ngga penting:

Ketika membaca novel ini, pada saat yang sama saya juga membaca Maya karya Ayu Utami yang sangat sarat isu politiik tahun 1998, sementara beberapa bab awal novel ini dikisahkan awal mula Islam gerakan baru muncul pada saat yang hampir sama dengan meletusnya G30S/PKI. Terus terang, saya sedikit pusing ketika saya harus berpindah dari satu ebook ke paperback dengan isu yang hampir sama, politik. Dari tahun itulah yang kemudian membuat saya iseng menghitung kejadian awal mula Muhammadiyah masuk di lingkungan NU, dan hingga 40 tahun kemudian Moek dan Is saling berselisih. Jika saya hitung, 1965 + 40 = 2005. Kurang jelas, apakah tahun 2005 itu adalah setting tahun kisah roman Mif – Fauzia, atau sesudah atau sebelumnya. Yang cukup mengganggu adalah omongan bapaknya Fauzia tentang perbedaan sekolah jamannya dulu dengan jaman Fauzia. Jika jaman bapaknya bersekolah hanya cukup dengan sabak, alias papan buat nulis, di jaman Fauzia, buku bisa bergambar artis kesukaan, macam? Jamal Mirdad. JAMAL MIRDAD?? Itu tahun berapa, paaakk?? … Jika Mif-Fauzia tahun 2005 lulus kuliah, maka mereka mungkin lahir tahun 1983. Mereka bisa jadi masuk sekolah tahun 1988, SD-SMP setelah tahun 1990, nama Jamal Mirdad kayaknya sudah tak lagi popular, dan saya pikir tak mungkin menjadi sampul buku tulis…mwahahaha…. Mungkin saya yang ngaco sih. Dan satu lagi, tentang pekerjaan Mif sebagai editor buku di sebuah penerbitan, dikatakan lebih bagus daripada berjualan pulsa. Tahun 2005, hp saya memiliki fitur mp3 saja sudah sangat canggih dengan kamera 1.3MP. dan di tahun itu penjual pulsa belum sesemarak saat ini. Jalan tidak ada 500 meter, sudah terpampang papan penjual pulsa. :D

All in all, buku ini meski isunya dibilang beberapa teman saya cukup berat karena berhubungan dengan agama, bagi saya ini isu yang menghibur, yang sangat dekat dengan keseharian kita. Sedikit mengingatkan bahwa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Dan kita bahagia berada di tengah perbedaan itu, bukannya mencari perseteruan di tengah perbedaan.

1 komentar:

  1. Topik e ketok e abot tenan ik. Kalo dilihat judul e, aku mbayang ke yang jadi kambingnya sapa? yang jadi hujan e sapa? Mumet mbak????

    BalasHapus