Rabu, 22 Juni 2016

London – Angel by Windry Ramadhina




Paperback 330 pages
Published 2013 by Gagas Media
Rating: 3/5

Membaca ini berasa saya sedikit terbebas dari ‘penjajahan Jejepangan’ pada diri saya yang sudah berjalan selama berbulan-bulan. Saya jadi kasmaran pada satu kota yang selama ini pernah singgah dalam bayang-bayang saya karena banyak actor/idola saya berasal dari kota ini, atau setidaknya berbau -bau British, sebut saja Colin Morgan (Ireland sih aslinya), Johnathan Rhys Meyer hingga para penyanyi Celtic yang sebagian besar beraksen British, Celtic women, Hayley Westernra, dll. Yah, kenapa prolog-nya melenceng jauh ya dari review buku? Wahahaha… baiklah, stay focused then to book review :D

Dimulai dengan adegan minum-minum para cowok single di sebuah bar, dan disusul dengan sesumbar Gilang, calon penulis novel yang tak kunjung kelar, mengatakan bahwa ia akan ke London, mengejar cinta dalam hidupnya, Ning. Mereka berdua ini sebenarnya adalah pasangan sahabat yang sebelumnya tak terpisahkan hingga kepergian Ning ke London, mengejar mimpinya, mengejar seni, surga dunianya. Tinggallah Gilang dengan hati yang patah, yang tak pernah mengutarakan perasaannya hingga berlalu 6 tahun. Fiuh, 6 tahun!!! Maka, di usianya yang hampir 26 tahun, ia bertekad mendapatkan gadisnya meski ia harus melewati ribuan kilometer ke London, dengan mempertaruhkan persahabatnnya dengan Ning. So sweet…

Dalam perjalanan menuju kediaman Ning dan selama masa tinggalnya inilah, Gilang banyak menemukan pengalaman dengan background London yang asyik, yang membuat saya berfantasi kapan bisa mampir ke negara Ratu Elizabeth ini, menikmati 30 menit London eye ride (yang dari deskripsinya saja membuat saya mabuk kepayang, hingga nonton di YouTube), menginap di sebuah penginapan lengkap dengan ruang baca dan sarapan khas Inggris (meski saya bakal menyingkirkaan daging asapnya J), memasuki toko buku yang menawarkan harum buku tua hingga buruan buku-buku cetakan pertama, hingga Shakespeare’s Globe Theater yang menawarkan drama-drama Shakespeare-meski yah, saya sendiri bukan penggila Shakespeare, tapi jikalau sampai disana, tentu saja spot ini tidak bakal saya lewatkan (terus kapaaann mau kesananyaaaa….????)… Justru yang menarik dari buku ini sebenarnya adalah kisah-kisah di sekeliling Gilang, mulai dari Madam Ellis yang kaku tak pernah senyum, Ed -waiter yang half Brit-Indian- yang kepo masalah pribadi Gilang, sampai ke penjual buku, Mr. Lowesley, dan jangan lupa si Goldilocks, yang dipercaya sebagai malaikat hujan—muncul ketika hujan dan menghilang ketika hujan berhenti. 


Awalnya, saya sangaatt menikmati deskripsi London lengkap dengan beberapa penghuninya hingga beberapa masalah pribadi mereka, juga panggilan Gilang pada teman-temannya yang sangat book-characters, sebut saja Brutus, Tweedledum dan Tweedledee hingga Si V di V for Vendetta, sayangnya kenikmatan saya mulai memudar ketika adegan mulai menyorot kisah cinta Gilang-Ning yang menurut saya klise. Yah, berapa puluh novel romens yang mengangkat kisah best friend turns to prospective lover? Ngga ada yang salah sih dengan topik ini, tapi sebelum membaca ini, saya juga disuguhi cerita manga dengan topik yang sama, belum film-film romens lainnya. Eksekusinya sih lumayan, meski, saya serasa disuguhi film barat lengkap dengan adegan hujan dan payung hahaha… Over all, ini bacaan sangaaat ringan, sekedar membebaskan diri dua bacaan berbau politik sebelumnya dan juga bayang-bayang si mas-pemicu-membaca-manga-atau-novel. You know what I mean? Kalo ngga, baca review disini dan juga disini mwahahaha…. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar