Jumat, 17 Juni 2016

Maya by Ayu Utami


Paperback 249 halaman
Published December 2013 by Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Rating 4/5
Ada yang serasa saya temukan ketika saya membaca synopsis buku ini setelah sekian lama tak bersua, Saman. Nama ini serasa hilang begitu saja ketika saya menyelesaikan buku Saman. Lama tak berkabar, dan tiba-tiba sosoknya muncul, memberi kabar. Meski, yah, saya harus menelan kecewa karena kabar Saman tetap kabur. Saya jadi merasakan kesedihan Yasmin yang kehilangan Saman. Well, buku ini memang ditulis untuk peringatan 15 tahun terbitnya buku Saman dan Reformasi. Membaca ini saya merasa ingatan saya terbetot kesana kemari, ke tahun tahun kegelapan jaman lengsernya bapak pembangunan tahun 1998.
Yasmin harus ke Padepokan Suhubudi untuk mengetahui kabar Saman setelah ia menerima surat-surat dari Saman, kekasih gelapnya. Selain surat, terselip juga satu batu mulia yang hanya Suhubudi bisa menjelaskan tentang batu itu. Di sana, ia bertemu dengan Parang Jati, cowok bermata bidadari dengan jari dua belas, anak angkat Suhubudi. Sementara menunggu Suhubudi yang tengah sowan ke Istana Presiden, Yasmin disuguhi sebuah kesenian luar biasa dari Padepokan, sendratari Ramayana. Sendratari ini berbeda dari sendratari umumnya yang memamerkan keindahan tarian para penarinya, sendratari ini adalah tarian bebayang mirip Attraction yang sempat mencuri perhatian saya di Britain's Got Talent. Jika di pagelaran Attraction, di depan dan belakang layar menampilkan keindahan fisik penarinya, sendratari Ramayana dari Padepokan Suhubudi ini sebaliknya. Orang orang deformatif yang tak pernah terbayang bakal tampil di panggung sendratari. Kumpulan orang-orang aneh, cebol, raksasa, albino, dll, memang 'dipelihara' oleh Suhubudi di belakang Padepokannya dan mereka inilah yang menarikan kisah cinta Rama dan Sita. Ada perasaan syur (meminjam kata Ayu Utami di novel ini) membayangkan sosok sosok deformatif ini menampilkan keindahan di balik layar.

Dikisahkan dalam tiga bab: Kini, Dulu, Kelak membuat novel ini memiliki alur maju mundur sesuai keinginan penulisnya. Pada bab Kini, banyak mengisahkan kegalauan Yasmin akan surat-surat dari Saman dan pertemuannya dengan Suhubudi, Parang Jati, kru penari deformatif sendratari Ramayana, dan keingintahuannya tentang kabar Saman dan Larung hingga visitnya ke LP Cipinang. Tahun yang dipilih untuk setting kisahnya adalah tahun 1998, tahun penuh gejolak bagi politik negeri ini di sepanjang sejarah, dua tahun setelah Yasmin kehilangan Saman. Tahun yang ironisnya, bagi saya, justru menemukan pekerjaan yang hingga kini masih terus saya geluti, sementara bagi banyak kalangan tahun ini adalah tahun penuh ketidakpastian, terutama pekerjaan.
Bab kedua novel, Dulu, ingatan saya kembali teraduk aduk dengan 'kembalinya' kisah Saman, sebelum, selama dan sesudah menjadi Frater Wisanggeni, masa ia bertemu pertama kali dengan Yasmin, masa Saman bertemu dengan Upi, gadis berwajah ikan, terpasung di rumahnya sendiri. Saman, ternyata memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Padepokan Suhubudi. Di tempat ini pula, Saman diberi sebuah batu mulia yang kelak menjadi isu utama dalam lengsernya si bapak pembangunan. Yap, cukup banyak unsur kejawen di buku ini yang bagi saya yang sekian lama hidup di Jawa, membuat saya menganga. Bagaimana mungkin seorang berpengaruh macam si bapak pembangunan begitu mengidamkan batu bergambar Semar, tokoh punakawan yang dipercaya sebagai pamomong sepanjang masa, demi kelangsungan kekuasaannya? Bab dua ini juga membuat ingatan saya pada pelajaran sejarah di bangku sekolah dulu tentang kisah Supersemar. Banyak pihak yang menyatakan bahwa surat ini hanya akal-akalan si Panglima Kostrad waktu itu demi tampuk kekuasaannya sendiri. Ingatan saya juga berputar di tahun ketika saya dan teman-teman satu sekolah 'dipaksa' ke bioskop untuk menonton film G30S/ PKI, ditambah tayangan film yang sama setiaaap tahun di tanggal 30 September. Konon, film ini menjadi semacam cuci otak bagi warga melihat sisi kepahlawanan si bapak-yang-memerintah- selama 32-tahun ini. Saya lupa, mulai kapan film tahunan ini berhenti tayang di layar televisi.
Bab ketiga buku ini, Kelak, kembali mengambil setting tahun 1998, dimana reformasi mulai gencar digerakkan segala lapisan masyarakat. Yasmin yang pada waktu itu masih berada di kediaman Suhubudi sempat mengalami trauma yang menyakitkan, Samantha, anaknya yang belum genap dua tahun, diculik, dengan tebusan batu mulia yang konon bergambar Semar, batu bertuah untuk melanggengkan kekuasaan penguasa, semenjak terbitnya Supersemar. Gelombang demonstrasi tak terbendung, penculikan, penembakan terhadap para mahasiswa berbuah manis, sang diktator 32 tahun itupun lengser. Satu yang masih tertinggal bagi Yasmin, apa kabar Saman?
Terus terang, membaca novel ini membuat saya merasa melihat rentetan headlines di surat kabar, kadang bahkan seperti melihat kembali siaran maraton televisi yang menyiarkan gerakan-menuju-lengsernya-sang-penguasa-32-tahun. Masih teringat jelas di benak saya kumpulan mahasiswa yang bentrok dengan para pengaman istana, para menteri yang satu persatu ikut menyarankan sang bapak pembangunan ini untuk mundur. Belum lagi kudeta satu partai dengan sesama partai yang dicurigai sebagai partai bayangan tandingan bagi partai peninggalan mantan presiden pertama. Rentetan kejadian itu sedikit membuat saya pusing tapi lega karena kekuasaan yang absolut itu akhirnya berakhir. Sebagai pengingat 15 tahun Reformasi, novel Maya ini sangat berhasil, setidaknya bagi saya yang mengalami masa itu, meski dari jauh. Tak terbayang bagi mereka yang secara langsung mengalami, atau salah satu keluarganya menjadi korban dalam peristiwa bersejarah itu. Buku ini mungkin justru membuka luka lama alih-alih sebagai pengingat. Tapi apapun itu, I highly recommend this book to you who love history books, or historical fiction, atau sekedar ingin tahu apa yang terjadi di tahun 1998. Sosok Maya tak lebih sebagai sosok sisipan yang tidak terlalu dominan meski tetap tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar