Jumat, 01 Juli 2016

Shigatsu Wa Kimi No Uso by Naoshi Arakawa Part 2




English title: Your Lie in April
Read via manga browser in Android app
Rating 4/5

Sebelumnya, saya sudah mrview sekilas disini, saking kepenginnya saya nulis review manga ini. Waktu itu saya baru membaca sekitar 20 chapter dari 44 chapter. Dan dari 23-an anime-nya saya baru nonton 10 episodes. Meski, yah, saya sudah kena spoiler gegara membaca komen-komen di YouTube. Aaaarrgghh…. Tapi tetep saja semangat menyelesaikan manga yang bikin sesek sampe mewek di akhir cerita.

Seperti yang sudah saya tulis di review sebelumnya, Arima Kousei adalah seorang prodigy dengan kemampuan bermain pianonya. Sejak kecil, ia sudah disiapkan ibunya untuk menjadi pianis ternama, mewujudkan cita-citanya yang tidak kesampaian karena sakit-sakitan. Karena obsesi ibunya itulah, Kousei menjadi bulan-bulanan ibunya dalam berlatih. Tidak jarang pukulan mendarat pada tubuhnya di usianya yang masih 5 tahun, melwatkan waktu bersama dengan sahabat terdekatnya, Sawabe Tsubaki. Namun hasilnya memang sangat setimpal. Kouse menjadi juara berturut-turut di berbagai festival music, menjadi idola disana sini, termasuk menjadi role model bagi para penontonnya sekaligus musuh bebuyutan di festival music kelak. 

Setelah ibunya meninggal dunia, Kousei terpuruk. Dia seperti dikutuk ibunya dengan hilangnya suara piano ketika ia sedang memainkannya. Sebutan sebagai Mother’s puppet, human metronome menjadir rumor dan bisik-bisik seputar dirinya menjadikannya berhenti bermain piano. Setelah 2-3 tahun  berlalu, muncullah Kaori Miyazono, pemain biola yang bersekolah di tempat Kousei belajar. Dengan dalih menunjuk Kousei sebagai partner bermainnya dalam festival biola, Kaousei kembali ke dunia panggung. Berusaha berperang melawan rasa takut, khawatir dan bayang-bayang ibunya yang seakan menjadi hantu di tiap pojok auditorium. Kaori sendiri, sepertinya model ‘won’t take No as an answer’. 


Penampilan perdana mereka memukau, meski sempat terhenti karena Kousei kembali kehilangan suara piano-nya sendiri. Keyakinan Kaori memacu semangatnya. Kata-katanya, dukungannya, gaya free style-nya membuat Kousei yakin untuk kembali ke dunia piano-nya. Tapi, sesuai dengan judulnya, ada Kebohongan di bulan April. Dan ini yang nyesek….. #tissuemanatissue…

Semula, saya nyaris give up membaca manga ini, karena saya cukup terganggu dengan flashback-flashback yang berulang, kemunculan wajah ibunya yang cuma separo dari mulut ke hidung, bisik-bisik orang di sekitarnya, hingga kilasan-kilasan yang lain. Cukup kesal tapi akhirnya saya bisa melewatinya. Gaya Bahasa yang terkadang puitis membuat saya betah membacanya. Gambarnya sih lumayan bagus juga, dramatisasinya dapet banget hingga saya ikut berdebar, terbawa suasana dramatis ketika Kousei di atas panggung. Rasa kesal sekaligus terpana, betapa pengaruh Kousei terhadap sekitarnya begitu kuat. Dua musuh bebuyutannya, Emi dan Takeshi, keduanya awalnya tak begitu terikat pada piano, tapi melihat penampilan Kousei pertama kali di usia yang begitu belia, memacu semangat mereka untuk melakukan hal yang sama, dan kalau mungkin melebihi Kousei. 

Saya menyukai hampir semua karakter disini. Namun justru saya sebenarnya kurang begitu suka pada Kousei. Pemunculannya selalu lebay hahaha… Pemunculan di panggung maksud saya. Ada drama hilang suara piano, hingga hantu ibu-nya yang membayangi, dan juga komentar-komentar miring seputar permainannya yang tiba-tiba off, dan kemudian menjadi colorful and touching. Tapi mungkin ini justru yang menjadikan permainan piano Kousei ‘berbeda’ dari permainan para pianist lainnya. Ada emosi yang ia ceritakan dalam melodinya. Tsubaki, si sahabat masa kecil yang jatuh cinta pada Kousei sangat menyenangkan melihat interaksi mereka berdua. Adegan saling gendong itu sangat saya tunggu di anime hahaha… Kebingungan Tsubaki akan perasaannya sendiri kadang membuat geregetan tapi gayanya yang galak, membuat Kousei tak pernah menyangka Tsubaki memiliki perasaan khusus padanya. Sweeettt… Watari, sahabat lain yang sok nggantheng ini juga cukup kocak. Hubungannya dengan Kaori sebenarnya adalah jembatan saja bagi Kaori demi bermain bersama Kousei. Puk puk Watari. Bahkan para karakter lain pun juga cukup lovable. Miike, si kacamata pemain biola ini semula menyebalkan to the max, tapi at the end, sooooo kawaaii…. Hahaha… Pokoknya ga nyesel deh baca manga ini sampai akhir meski meweknya jadi ngga maksimal karena sudah kena spoiler duluan. Saya jadi ga punya ekpektasi terlalu tinggi pada live action-nya. Siang malam saya nongkrongi manga ini, hingga batere habis, sinyal kacrut yang terlihat cuma X doang, terus di live action nanti hanya sejam setengah atau dua jam-an? Hmmm… tapi ngga rugi juga kali liat actingnya Suzu Hirose yang tiap dia nangis, saya juga ikut nangis hahaha… Just wait and see aja. Can’t wait!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar