Jumat, 08 Juli 2016

The chronicles of Audy: 4/4 by Orizuka


Paperback 320 pages
Published Juni 2015 by Penerbit Haru
Rating 3,5/5

"Kamu adalah entitas yang jadi kelemahan sekaligus jadi kekuatanku". (Rex pada Audy)
Kyaaaaaaaaa..... kalo ini adegan di manga, pasti sorot mata Audy sudah bersinar-sinar keluar berbentuk lope lope mwahahaha....

Setelah pernyataan cinta, eh, bukan penyataan suka Rex pada Audy di buku dua (my review) dan rencana pernikahan Regan-Maura sudah fix, ternyata hidup Audy tetap berlanjut.  Padahal sebelumnya ia cukup heboh dengan ilusi, delusinya sendiri bakal kehilangan 4R ini. Berlanjut dengan tenang kah? Iya kalo dia tidak terlalu lebay dengan urusan kupu-kupu di perutnya untuk masalah Rex ini. Tanpa ia sadari, kupu-kupu itu menjelaskan perasaan nya pada Rex seperti apa. Belum lagi urusan skripsinya yang makin kacrut karena otaknya malah dicekoki dengan urusan peningkatan IQ, sekedar menyamai genius nya seorang Rex.

Di buku tiga ini, keluarga 4R memang cukup membuat saya ketagihan ingin mengetahui lebih lanjut seperti apa kehidupan mereka selanjutnya. Audy menjadi semacam bumbu penyedap, atau mungkin jika di sebuah wayang, kehadiran Audy ini semacam goro-goro alias intermezzo untuk meregangkan urat setelah ketegangan di dunia pewayangan. Audy semakin memantapkan opini saya seputar karakter khas cewek di drama-drama Asia, cewek yang merasa kurang cantik, IQ biasa-biasa saja, baik hati, selalu menempatkan orang lain di atas urusannya sendiri. Terkadang saya  gondok dengannya. Urusan skripsi yang seharusnya mendapat prioritas utama ia kesampingkan begitu saja demi mengecek apakah Rafael baik-baik saja. Alih-alih membuktikan kekhawatirannya itu beralasan, ada lagi alasan yang membuat ia terlihat bodoh di depan banyak orang. Huh!!! Audy ini rupanya tidak bisa belajar dari pengalamannya sendiri.


Perkembangan kisah keluarga 4R ini plus Audy menjadi lumayan menarik ketika Regan muncul dengan ide kerja baru dan Rex dengan sekolah impiannya di MIT, Massachusetts Institute of Technology, beasiswa pula, meski ngga full sih. Audy pun merasa jauh tertinggal di belakang Rex. Mengerjakan skripsi saja dia megap-megap, sementara Rex mendapatkan beasiswa di sekolah bergengsi, tempat belajar para genius. Ini membuat Audy sangsi, apa iya Rex masih suka padanya? Apa iya Rex menempatkan dirinya di masa depannya? Seperti nya itu tidak mungkin.

"Kenapa aku harus berubah pikiran? Itu rencana masa depanku. Kamu belum ada disana." (Rex, hal. 199)

Dueeeengggg jleeebbbb.... *terkapar*

Keterikatan Audy pada keluarga 4R sebenarnya baru berlangsung beberapa bulan ini terkadang cukup mengharukan. Jika di drama-drama Asia, konsep masalah kedekatan keluarga biasanya ada di sebuah keluarga kaya raya, yang tercerai-berai karena perebutan harta, kali ini masalah keluarga disuguhkan dalam konsep lebih humanis. Meninggalnya orangtua 4R membuat mereka sedikit tercerai meski masih berada dibawah satu atap. Audy lah yang mengumpulkan dan mendekatkan mereka kembali. Nah kan, persis dengan karakter cewek di drama Asia. Hubungan keluarga terkadang berasa awkward antara satu anggota dengan lainnya. Di keluarga saya, kebetulan saya dekat dengan semua adik dan dua kakak saya ketika saya masih kecil. Sementara adik saya dulu ngga gitu dekat dengan kakak pertama saya karena jarak usia yang cukup jauh. Di keluarga 4R, Rex, si kakak langsung Rafael justru memiliki hubungan yang kaku dengan si bungsu. Katanya sih karena dia gagal jadi bungsu hahaha.  Hal janggal yang saya temukan di episode ini ketika Rex mengajak Audy kencan, eh sori, salah, Audy ngajak Rex kencan di resto, munculnya mantan cowok yang ditolak Audy, berasa nonton FTV banget... Tapi yah ini sudah nasib Audy juga sih yang terlalu menghayal bakal kencan manis tak terlupakan dengan Rex :D Bahkan terkadang saking seringnya ia menghayal, saya jadi membayangkan ada bubble di kepalanya berisi khayalannya dan pecah tepat ketika lamunan nya itu buyar seperti di anime-anime itu :D

Over all, saya sudah kena racun jenis 4R dosis sedang sekarang. Menulis review ini di bagian akhir, saya sudah menyelesaikan buku ke empat nya... mwahahahaha....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar