Sabtu, 09 Juli 2016

The Chronicles of Audy: O2 by Orizuka

Mejeng di Pantai Tirang (itu cuma nggaya)


Paperback 364 pages
Published Juni 2016 by Penerbit Haru
Rating 4/5


Aku udah bikin rencana baru untuk masa depanku. Setelah lulus nanti, aku akan balik kesini untuk jemput kamu, terus lanjut S2 di sana sambil kerja,” kata Rex lancar (halaman 37).


AAAAPPHAAAAAAAAAAAAAA?????!!!!

Jangankan Audy, saya juga melongo, mangap, megap-megap. Ituuu…yang ngomong anak umur 17 tahun yang habis lulus SMA? Dia mau ngajak Audy men…..? HAAAAHHH????

Well, sebagai Rex, yang bisa dihitung jumlah joke-nya dalam hidupnya yang baru 17 tahun itu, nampaknya ini bukan joke yang ia lontarkan begitu saja. Dia SERIUS. Saya ulang, SSERIUUSSS, mungkin bahkan DUARIUS! Dengan adanya lamaran yang tidak langsung ini, bagaimana seorang Audy melanjutkan hidupnya di rumah 4R tanpa merasa ada beban? Hhmmm…. 

Di buku terakhir ini, Audy sedikit berkurang lebay-nya meski tetap lebay sih tapi tidak terlalu bikin dongkol seperti di buku sebelumnya. Peran Audy lebih terasa berguna disini, bukan berarti dia tidak berarti di buku sebelumnya sih, Cuma kadar lebay-nya agak berkurang hahaha… Kisahnya masih seputar Audy-Rex yang dekat tapi jauh, yang dingin tapi hangat, hasyah… :D Juga Romeo dengan sisinya yang selama ini tidak terlalu dieskpose. Romeo ini semacam Audy cewek dengan segala kecuekan dan kekonyolannya, tapi ternyata di dalam hatinya dia memiliki perasaan yang selama ini ia sembunyikan. Ciyeee… Jadi terharu saya… Dan, seperti yang ada di review saya di buku 3, hubungan Rex dan Rafael memang tidak terlalu dekat, hingga muncullah misi bonding antara Rex-Rafael yang diprakarsai oleh Audy dan Romeo. Ada saja ide dan kekonyolan yang mereka lakukan. Saya sampai ngakak sekaligus trenyuh. Anak usia lima tahun seperti Rafael tak pernah kenal permainan gelembung sabun? Kemana saja kau, nak? Apa saja yang dilakukan kakak-kakakmu selain mengajarimu game dan membaca National Geography? Bahkan lagu anak-anak pun baru kau dengar setelahh kau masuk sekolah ckckckck… 



Kalo dipikir-pikir, kalian ini mirip oksigen ya? Selalu ada tapi baru kerasa penting waktu ngga ada. Tapi seperti oksigen, keluarga ada dimana-mana kan, Ro? Seperti oksigen, keluarga ada di sekitarmu, ada di tarikan napasmu, mengalir dalam darahmu. Walaupun kamu ngga selalu bisa lihat, tapi kamu tahu keluarga selalu ada bersama kamu. Ya kan?” (Audy, halaman 283)


Wwwhoooohhh… Audy bisa ngomong bernas begini ya? Mungkin setelah ia kelar skripsinya, agak terisi kepalanya hahahaha… Keluarga kecil 4R ini memang sebenarnya cukup solid dari sononya, hanya perasaan gengsi yang membuat beberapa anggota keluarga merasa aneh jika terlalu menunjukkan perasaan mereka. Keberangkatan Rex yanag tinggal beberapa bulan lagi tidak hanya bakal meninggalkan kekosongan dalam hati Audy, pasti juga pada saudaranya yang lain, terutama Rafael yang secara tidak sengaja menemukan satu hal yang menimbulkan bonding relationship sendiri pada sang kakak. Sweet… Ah, rupanya saya juga jatuh cinta pada keluarga satu ini.

By the way, meski di akhir buku, semua orang sudah menemukan ‘sesuatu’nya, Audy sudah menemukan jawaban ingin jadi apa setelah ia lulus nanti, Rex sudah mendapat jawaban akan pernyataannya di atas (di awal review ini), Rafael sudah menemukan bonding-nya bersama Rex, Romeo menemukan celah mengekspose sisi dirinya yang lain, apa ngga mungkin buku ini ada seri selanjutnya? Misal, setelah Rex pulang, atau setelah Regan-Maura punya anak? Atau apa deh. Saya masih kepingin liat hubungan kocak Audy-Rex yang romantic tapi berujung garing mwahahaha… Apa aja deh, yang penting saya bisa mengintip lagi kehidupan para anggota 4R ini #ngarep…

Overall, it’s been nice to know all characters here. Semua memiliki karakter unik yang cukup kuat. Meski di awal buku saya mengaitkan seri Audy ini dengan dorama Jepang, at the end, yah, meskipun emang mirip sih, si penulis mampu memasukkan unsur keluarga local dan bahkan lingkungan local yang sangat akrab di sekeliling kita. Kelompok Jangkrik misalnya hahahaha… Terakhir, maafkan saya, jika masih membawa-bawa dorama jepang itu, tapi saya ngga tahan untuk tidak menunjukkan wajah pemeran asli Satoru Okura, si brondong usia 17 tahun, karena yah, Rex kan digambarkan kurus, berponi dengan mulut kecut menahunnya itu. Mwahahaha… Saya pikir Koji Seto emang mirip deh. Bukannya saya nge-fans sih, tapi yah, keingetan aja… :D

 Koji Seto, sayang, tidak dalam mode kecut-menahunnya itu hahahaha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar