Minggu, 25 September 2016

Katarsis by Anastasia Aemilia


Paperback 261 pages
Published April 2013 by Gramedia Pustaka Utama
Rating:3, 5/5 

Koin lima rupiah 

Kotak perkakas kayu 

Pembunuhan berantai.... 

Siapa sangka jika koin lima rupiah bisa menjadi semacam obat penenang sekaligus petunjuk pembunuhan berantai yang korbannya diletakkan ke dalam kotak perkakas kayu? Tara Johandi, sangat membenci namanya hingga ia juga membenci orang yang memberi nama itu dan siapapun yang memanggilnya dengan nama itu. Tara lahir dari keluarga Bara dan Tari Johandi. Namanya mungkin adalah gabungan dari kedua orangtuanya, namun sejak kecil, Tara sudah menunjukkan ketidaksukaan pada keduanya. Ketika membaca ini, saya sedikit bingung tentang bagaimana seorang anak membenci nama yang diberikan dan cenderung memiliki sifat brutal yang mengarah pada tindakan kekerasan. 

Ketika Tari meninggal, Tara dititipkan pada om dan tantenya, Arif dan Sasi. Kestabilan mental Tara masih dipertanyakan ketika ia ternyata juga membenci kedua orang ini meski mereka masih saudara dekatnya. Moses, saudara sepupunya, ketika Tara masih sekitar lima tahun melakukan perbuatan yang nyaris merenggut nyawanya, hingga luka-luka yang dirasakannya dirasa mati rasa. Pada saat itu, muncullah pahlawan tak dikenal yang memberi Tara koin lima rupiah. Logamnya yang dingin berasa menyedot rasa sakit yang ia rasakan. Semenjak itu, Tara menjadi sangat terikat pada koin itu. 


Bertahun berlalu, ketidakstabilan mental Tara akhirnya membawanya pada psikiater Alfons. Sementara sesi-sesi pertemuan dengan sang psikiater, kekerasan dan monster jahat yang bercokol dalam diri Tara terus datang menghampiri, hingga muncul berita pembantaian keluarga yang menyisakan putri keluarga tersebut yang selamat dengan berada di dalam kotak perkakas kayu. Sementara di daerah lain, muncul pula berita pembunuhan berantai dengan petunjuk kotak perkakas kayu dan koin lima rupiah. Jadi, apa hubungan Tara dengan pembunuhan berantai ini? 

Awalnya saya membaca novel thriller ini di salah satu aplikasi perpustakaan digital di gadget. Meski saya memiliki Paperback nya, tapi rasanya masih enggan membukanya. Tapi karena ternyata penulisan dan pemisahan bab yang pendek-pendek serta kisah yang menjanjikan misteri ini begitu menarik, akhirnya saya kuliti sampul plastiknya :D Saya sudah melihat sekilas review-review teman saya mengenai buku ini, tapi saya tidak membayangkan bakal sesadis ini. Leleran darah dan benda tajam atau tumpul menjadi hal yang biasa dari awal hingga akhir cerita. Jika ini adalah film, saya yakin, saya bakal hentikan di menit ke sepuluh atau bahkan sebelumnya. Saya memang tidak terlalu tahan dengan adegan yang penuh muncratan darah. Meski yah, ada sih beberapa film yang berdarah darah yang saya tonton. 

Seorang teman saya mengatakan bahwa saya bakal menemukan kejutan di akhir cerita, saya tentu saja menunggu kejutan ini. Saya berharap ternyata Tara dan Ello ini adalah orang sama. Tara ternyata mengidap syzoprenia akut yang membuatnya menjadi orang dengan karakter sadis yang sama, tapi berbeda kelamin. Tapi ternyata mereka tetap orang yang berbeda, meski sering kali saya merasa Tara ini seperti memiliki nyawa saringan sejumlah nyawa kucing karena meski ia telah mengalami goncangan mental, kekerasan yang berulang kali nyaris mengambil nyawanya, malah justru membuatnya dua kali lipat lebih kuat, hingga posisi korban berbalik. Saya juga sedikit merasa janggal dengan bagaimana keluarga Bara dan Tari mendidik Tara hingga ia menjelma menjadi sosok demikian. Jangan-jangan ada tulisan 666 di batok kepalanya? #Ter-Omen. Atau mungkin Tara ini adalah anak tetangga yang menjadi tersangka utama pembunuhan berantai ini, keluarga yang melahirkan pembunuh berdarah dingin secara turun temurun. Wah, sepertinya saya yang terlalu berfantasi ya... Tapi, overall, ini memang bukan novel biasa, tema dan gaya penulisan si penulis menarik, lepas dari berbagai pertanyaan yang saya punya tadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar