Rabu, 07 September 2016

Totto Chan—Gadis Cilik di Jendela by Tetsuko Kuronoyagi




Ebook bookmate application
Published
Rating 4,5/ 5

Ini adalah bacaan ringan di kala saya sedang mengalami reading block akut. Saya membaca awal buku berdasar kisah nyata ini dengan iseng. Tapi ternyata, saya jadi keterusan hingga menyelesaikan buku ini. Bertahun lalu, saya sudah pernah membaca buku ini dan meminjamkan buku ini ke banyak teman saya yang lain. Dan semuanya memiliki tanggapan sangat positif. Keinginan saya membaca ulang buku ini sebenarnya lebih pada satu komentar seorang peserta di Jelajah Kuliner Centhini yang diselenggarakan oleh GRI di perayaan ultah bulan lalu. Peserta itu memberi tanggapan bahwa buku kuliner yang tak bisa ia lupakan adalah Totto Chan. Menurutnya, bapak Kepala Sekolah Totto Chan yang memberi perintah semua muridnya untuk membawa kotak makan dari dua unsur, yaitu dari gunung dan laut. Dan parahnya, saya benar-benar lupa tentang ini. Yang saya ingat hanya kisah-kisah kocak Totto Chan dan cita-citanya yang terus berganti-ganti dan tragedy dompet kesayangannya yang jatuh di lubang kakus hahahahaha…


Dan kembali membaca kisah Tetsuko kecil ini sekali lagi membuat hati saya hangat, sedikit mencubit saya yang bekerja sebagai guru, yang terasa sangat ecek-ecek dibandingkan pak Kepala Sekolah Kobayashi yang begitu memahami anak-anak didiknya, begitu cinta ia pada muridnya hingga ia banyak menerima protes dari orangtua murid. Sebaliknya, ia begitu dicinta oleh para murid. Belum lagi ibu Totto Chan yang begitu pengertian pada semua yang dilakukan oleh putrinya dan juga mendukung semua program Pak Kobayashi. Bayangkan saja, membiarkan anak kelas 1 SD pergi ke sekolah sendirii dengan memakai pakaian paling jelek ke sekolah, belum lagi acara memasak bersama dan juga menginap di sekolah. Yang paling spektakuler adalah mengenalkan perbedaan kondisi murid satu dengan lainnya dengan berenang telanjang! Takahashi, si anak pengidap polio sama sekali tidak merasa rendah diri karena kondisinya, dan sama sekali tidak mengalami bullying dari teman-temannya, begitu juga dengan satu teman baru Totto Chan yang memiliki tubuh mini karena pertumbuhannya yang sudah berhenti. Tak terbayangkan, betapa brillian pengaturan pak Kepala sekolah satu ini. Kurikulum erutmiknya juga sangat menginspirasi saya yang tiba-tiba ingin berjoged bersama ponakan-ponakan di rumah :D
e
Saya ingin membaca ini lagi dan lagi. Dan saya pikir seemuaaaa orang harus membaca kisah nyata ini, hingga mengetahui cara berpikir anak-anak dan tujuan dari pak Kepala sekolah. Hati saya sedih ketika cerita hampir berakhir dengan jatuhnya bom diatas sekolah Tomoe tercinta ini.  Bayangkan, bagaimana jika bom tidak jatuh, saya yakin akan banyak anak-anak yang memiliki kenangan indah bersama sekolah ini dan tentu saja program dari Pak Kobayashi. Sekolah dengan ruang kelas dari gerbong kereta dan kebebasan para murid memulai pelajaran sekolah dari yang paling mereka sukai. Saya ngga bisa membayangkan bagaiamana murid begitu cinta dan semangat mereka akan sekolah mereka. Dibandingkan dengan kondisi para murid saat ini, mereka tetap bertahan di sekolah dengan jam pelajaran penuh serta beban pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Mereka tetap waras saja adalah sebuah anugerah :D 

Overall, saya yakin, saya masih akan terus membaca buku ini, suatu hari nanti, sekedar mendapatkan semangat dari pak Kepala Sekolah atau pengertian seorang ibu dari ibu Totto Chan akan cara berpikir anak-anak yang tak terduga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar