Kamis, 24 November 2016

Dame Na Watashi Ni Koishite Kudasai by Aya Nakahara


 

ダメな私に恋してください


English Title: Please Love Me/ Please The Useless Me
Read scanlation only via Manga browser 10 volume
Rating 4/5

Baru kali ini saya membaca manga setelah menonton live action doramanya. Biasanya sih saya malah berhenti membaca manganya setelah live actionnya saya tonton. Well, salahkan DEAN FUJIOKA  mwahahaha...... Mungkin juga karena saya kepo apakah versi manga dan doramanya sama? Apakah versi manganya lebih kocak dibandingkan doramanya? Apakah ilistrasi cowoknya juga cakep seperti di doramanya? Hmmmmm...

Michiko Shibata adalah gadis nyaris 30 tahun yang kurang beruntung.  Di kala usia meninggi, dia kehilangan pekerjaan,  tabungan makin menipis sementara ia masih harus 'menghidupi' pacar lebih mudanya. Dia rela puasa ngga makan daging, makanan favoritnya sepanjang masa, demi menghadiahi pacarnya tas keren atau menraktir makanan enak sementara ia kelaparan (sehari-hari ia hanya makan kol!). Suatu hari, rasa lapar yang luar biasa membuatnya melakukan hal yang memalukan hingga seseorang mengenalinya. Ia adalah Kurosawa Ayumu yang dipanggil Shunin oleh Michiko. Shunin adalah sebutan untuk atasan di kantor. Yup, Kurosawa ini adalah mantan atasan Michiko di tempat bekerjanya dulu. Dengan baik hatinya, Kurosawa menraktir Michiko makan makanan idamannya, daging. Selain merasa senang luar biasa, Michiko juga merasa kesal karena ia dulu begitu sengit pada mantan bossnya itu. Ia mengenal Shunin sebagai sosok yang luar biasa menyebalkan dengan kata-kata pedas setiap hari.




Singkat kata, Michiko yang masih luntang luntung tanpa pekerjaan kembali bertemu dengan Shunin dan, masih dalam kondisi lapar akan daging. Alih-alih kembali menraktir,  Shunin membawa Michiko ke rumah sekaligus restorannya. Disana Shunin memasak omelet rice untuknya. Wow, dari pertemuan kedua ini Michiko mulai merasa ada sesuatu di diri Shunin yang tidak ia kenal. Ternyata Kurosawa sedang dalam proses membuka restoran milik neneknya kembali. Tentu saja ia membutuhkan tenaga kerja baru, dan Michiko pun tak memiliki pilihan lain selain kembali bekerja dengan Shunin-nya. Selain Michiko, Shunin juga mengundang beberapa temannya yang lain untuk membantu. Ada 4 cowok bertampang sangar ikut bergabung. Dan dibukalah secara resmi Restoran Himawari.


Selain bekerja untuk Shunin, Michiko masih tetap mencari pekerjaan lain. Sifat royalnya pada sang pacar membuatnya terlibat hutang. Dengan wajah memelas, si pacar ini mengaku bahwa orangtua nya sedang sakit dan membutuhkan biaya perawatan yang tidak sedikit. Mengetahui persoalan ini, Shunin dengan sengit menggoblok-goblokkan Michiko. Belum lagi uang kos yang tertunda, dan seabreg masalah uang lainnya. Sekali lagi, Shunin menjadi malaikat penolong bagi Michiko. Tapi kali ini ia bekerja tanpa dibayar mwahahaha.... Tapi lihat posisi baiknya, Michiko tak perlu pusing membayar kos lagi karena ia sekarang tinggal di restoran milik Shunin dan tak perlu pusing masalah makan. Apakah mereka tinggal bersama? Sayangnya tidak. Shunin punya tempat tinggal sendiri.

Akhirnya Michiko mendapatkan pekerjaan. Hubungannya dengan si pacar putus. Dan ia sekarang menjadi gadis-nyaris-30-tahun-yang-jomblo. Melihat susahnya ia mencari pekerjaan menunjukkan sebenarnya ia tak memiliki kemampuan khusus yang bisa dibanggakan. Sementara itu, Michiko tetap bekerja secara part time di restoran Himawari. Sesekali ia keluar menyebar brosur dengan kostum bunga matahari =) sekaligus menjadi waitress bersama para waiter lain yang ternyata adalah teman-teman masa lalu Shunin.

Masalah mulai muncul ketika seorang rekan kerja Michiko, cowok, lebih muda, menunjukkan ketertarikan pada Michiko. Tak tanggung-tanggung, ia mengajak kencan Michiko dengan prospek pernikahan. Woooowww… rupanya Michiko ini memang magnet buat daun muda ya hahaha… Mengingat hubungan asmaranya terdahulu, yang berakhir dengan hutang menumpuk, Michiko mulai berhati-hati. Belum lagi sindiran pedas dari Shunin yang mengatakan si pacar ini adalah marriage scammer, mau tak mau hati Michiko menjadi tak tenang setiap kali ia kencan bersama Mogami Daichi. Dari sisi Shunin yang selama ini cukup misterius buat Michiko mulai terbuka. Ada wanita yang datang ke restoran sambil ngamuk-ngamuk yang ternyata adalah mantan pacar Shunin yang tidak setuju dengan bisnis restorannya. Ada juga Haruko, yang dicurigai sebagai cewek yang ditaksir Shunin selama ini, tanpa ia bisa berbuat apa-apa, karena ternyata Haruko ini adalah calon istri kakaknya.

Kisah dalam manga ini memang terasa shoujo atau josei banget. Masalah wanita muda dengan segala permasalahannya bagi saya lebih menarik daripada kisah cinta-cintaan remaja. Unsur komedi yang sangat sangat kocak membuat saya berkali-kali ngakak lepas, apalagi saat Shunin-Michiko saling adu mulut. Masing-masing memiliki panggilan kasar macam bastard, 4-eyed-perv (Shunin ini memakai kacamata), asshole, dan si Mogami pun juga kena panggilan Marriage scammer dari Shunin. Demikian juga orangtua Michiko yang dengan sadisnya memanggil Michiko sebagai si anak tak berguna di usia 30! Ya ampunn… Sadis benerr si ortu ya. Topic yang sama sering kali saya dapatkan di beberapa dorama yang sudah pernah saya tonton, misalnya saja I’m Taking The Days Off, Second Love, dan mungkin ada judul lain yang saya lupa hahahaha… Usia 30 mungkin adalah paling riskan di Jepang, meski yah, tidak hanya di Jepang sih, di beberapa Negara Asia seperti Indonesia, kepala tiga adalah gerbang menuju kedewasaan yang biasanya identik dengan pekerjaan mapan, atau bagi sebagian perempuan, usia 30 adalah usia dimana mereka sudah bisa ngobrol masalah rumah tangga. Ketika usia itu terlewati dan tidak ada yang terjadi, baik pekerjaan mapan maupun pernikahan, maka stress bisa saja hinggap bagi siapa saja. Belum lagi kasak kusuk orang-orang sekitar yang semakin membuat seseorang tak nyaman. Si penulis, Aya Nakahara ini membidik kegalauan perempuan usia 30-an dengan segala permasalahannya dengan ringan, kocak tapi cukup mengena. Yang sedikit saya sayangkan adalah at the end, tetap saja Michiko masih tetap harus bergantung pada Shunin. Akan lebih melegakan jika misal Michiko digambarkan sebagai sosok mandiri meski di awal ia begitu rapuh dan merasa tak bisa melakukan apapun.

Live Action Version


Dean Fujioka as Ayumu Kurosawa
Kyoko Fukada as Michiko Shibata
Shuhei Miura as Mogami Daichi
Director: Hayato Kawai, Ryosuke Fukuda, Sho Tsukikawa
Network: TBS
Release date: January 12 - March 15, 2016

 Tak berbeda jauh dengan versi manganya, doramanya pun sangat kocak dengan makian kasar yang justru membuat penonton terkikik. Kurosawa Ayumu diperankan dengan sangat bagus oleh Dean Fujioka. Sementara cewek hopeless juga diperankan dengan baik oleh Kyoko Fukada. Ada beberapa perbedaan di sana sini sebenarnya meski masih tetap patuh dengan versi manga-nya. Perbedaan mencolok ada pada tempat tinggal Michiko yang di versi dorama-nya tinggal di lantai atas restoran, sementara Shunin ada di lantai bawah. Jadi basically, mereka tinggal bersama. Di versi manga-nya saja mereka sering bertengkar meski Shunin tidak tinggal di tempat yang sama, apalagi di dorama. Pagi siang sore jelang malam pun mereka masih sering adu mulut. Somehow, ada sedikit kehangatan ketika Michiko pulang lembur dan disambut dengan ucapan Okaeri oleh Shunin, sementara ia sendiri justru lupa mengatakan ‘Tadaema’. Hubungan manis keduanya juga terlihat ketika mereka bersikat gigi di pagi hari. Salah satu mengoleskan pasta gigi ke sikat gigi. Perhatian Shunin pada Michiko tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan perutnya akan daging, tapi juga sifat Michiko yang terlalu baik hati pada siapa saja, dan yang kocak adalah perhatian Shunin pada celana dalam Michiko yang sudah usang sering kali dijemur di kamarnya hingga baju tidur sobek-sobek yang ia pakai mwahahahaha… Sesadis-sadisnya Shunin tetap saja sisi lembutnya lambat laun terlihat. Jika di versi manga-nya dikisahkan Shunin ini pernah menjadi begajul yang hobi berkelahi, demikian juga dengan versi doramanya, dengan tambahan Shunin ini memiliki banyak kemampuan lain, selain memasak enak, punya kemampuan bela diri dan kemampuan bahasa Inggris dan China yang bagus. Usut punya usut, ternyata si pemeran, Dean Fujioka mahir dengan dua bahasa itu hahahaha… Eh, sekedar info saja, Dean ini juga pernah main di seri drama produksi Hongkong dengan kemampuan bahasa China-nya yang bagus. Tambahan karakter yang di manga tidak terlalu terlihat, yaitu salah satu loyal customer restoran, mendapat porsi lumayan di versi doramanya. Demikian juga Teru dengan kisah cintanya yang terjadi di restoran, belum lagi kisah tambahan pulangnya Michiko ke kampong halamannya dengan janji membawa calon suami yang ternyata gagal. Ending-nya juga cukup berbeda. Jika di manga, tak terlihat poerasaan Shunin yang sebenarnya pada Michiko, tapi di dorama, meski hatinya masih terikat pada Haruko, perhatian Shunin pada Michiko juga sangat besar. Saya tak yakin, apakah manga yang saya baca itu sudah kelar versi scanlation-nya atau masih akan ada upload-an baru. Tapi yang jelas, ending-nya bikin baper untuk versi manga-nya. Untung saya sudah nonton live-action-nya dulu hahaha…



Overall, baik manga maupun doramanya keduanya sangaaat menghibur. Silakan jika hanya ingin membaca manga-nya atau menonton live action-nya saja, atau keduanya. Keduanya sangat menghibur yang membuat saya ingin membaca karya Aya Nakahara yang lain, atau versi manga lain yang live action-nya dibintangi oleh Dean Fujioka mwahahahahahahaha… #modusnontonDeanlagi

4 komentar:

  1. Kyaaaaaaaa Kyoko Fukada! Ya ampun lama banget g liat dramanya. Cari live actionnya aja deh 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, tau Kyoko Fukada to, Lis? Aku tadinya nonton iseng aja, tapi kok naksir yang jadi Shunin disitu mwahahahaha....

      Hapus
  2. Meganeee *.*
    suka kalau chara komik pakai kacamata euy.. fix, doramanya masuk list buat di download~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihi... aku juga kadang 'lemah' dengan character berkacamata di manga... Seperti Arima Kousei di Shigatsu wa kimi no uso :)

      Hapus