Sabtu, 12 November 2016

Taiyou No ie by Ta'amo




Judul asli : (たいようのいえ

English title: House of The Sun
Read scanlation only, 13 volumes
Rating 4/5

Belum pernah saya menyelesaikan satu manga shoujo dalam satu kedipan, eh, maaf lebay, dalam satu periode baca. Biasanya sih, saya bisa menyelesaikan satu judul manga berminggu-minggu, atau bahkan sudah diserang kebosanan akut dalam chapter-chapter awal, dan memilih shortcut-nya, yaitu menonton anime atau live action-nya hahahaha… Kebetulan saja kalo judul ini belum ada versi anime ataupun live action-nya jadi saya bisa focus pada manga-nya :D Eh, tapi mungkin jalinan kisahnya yang asik, lucu, menyentuh meski ngga bikin saya mewek ataupun baper, membuat saya tak bisa lepas dari keluarga Nakamura ini…

Mao, gadis yang lahir dari keluarga kurang harmonis dan kemudian tumbuh menjadi remaja hanya bersama ayahnya. Ibunya menikah lagi dan memiliki keluarga kecil sendiri dan melupakan Mao. Sejak kecil, Mao sudah sering nongkrong bermain video game di keluarga Nakamura. Disana ia berteman dengan Hiro, si sulung; Daichi, si anak tengah, dan Hina, satu-satunya anak perempuan keluarga Nakamura. Keluarga ini mungkin adalah keluarga paling harmonis yang pernah dikenal Mao. Ia nyaman berada di tengah mereka, dan pintu selalau terbuka untuknya kapan saja. Sayang, ayah ibu keluarga Nakamura mengalami kecelakaan fatal dan meninggal dunia, meninggalkan tiga anak mereka plus si anak tetangga, Mao.

Kepergian ayah ibu Nakamura merubah segalanya; Daichi dan Hina diadopsi oleh kerabat mereka dan tinggal di luar kota, sementara Hiro tetap tinggal. Rumah yang semula hidup dengan canda dan tawa itu sekarang sepi. Bertahun berlalu, si anak tetangga, Mao pun tumbuh menjadi remaja. Ayahnya menikah lagi dengan satu anak bawaan dari ibu tirinya. Selama ini, hubungan ayah dan anak itu tidak bisa dibilang harmonis. Mao lebih suka keluyuran, dan si ayah sendiri juga tak nampak peduli padanya. Suatu hari, Mao kembali bertemu dengan Hiro. Melihat kondisi Mao yang tidak berubah; sendiri dan kesepian, Hiro pun menawarinya untuk tinggal bersama.


Dan hidup Mao pun berubah. Sedari kecil, ia tak mengenal peraturan sebuah keluarga, makan seadanya, dan ngomong juga seenaknya. Bersama Hiro, ia seolah menemukan ‘rumah’ yang selama ini ia dambakan. Bagi Hiro sendiri, kehadiran Mao adalah penerang bagi rumahnya yang sepi. Tak ada ucapan selamat datang tiap kali ia pulang bekerja, tak ada teman makan pagi dan malam, tak ada seseorang yang menghangatkan hatinya. Uhuukk…

Well, kelanjutannya bisa ditebak. Dua orang bukan kerabat keluarga berada di bawah satu atap, lambat laun saling memendam rasa. Mao, yang masih 17 tahun dan anak sekolahan jatuh cinta pada Hiro, 7 tahun di atasnya. Hiro pun merasakan hal yang sama. Sayang, urusan keluarga masing-masing harus diselesaikan. Hubungan Mao dengan ayahnya dan keluarga baru ayahnya, Hiro yang menginginkan adik-adiknya kembali bersatu di rumah peninggalan orangtuanya, dan munculnya ibu kandung Mao kembali dan ingin membawa Mao pergi. 

Well, jalinan ceritanya sangat simple dan bisa ditebak. Dari awal saya sudah memprediksi akan akhir kisahnya, tapi tetap saja manga ini menarik untuk diikuti. Interaksi Mao-Hiro yang malu-malu mau terkadang terlihat seperti ibu dan anak (peran ibu dipegang oleh Hiro hahahaha…), Hiro begitu lihai memasak dan membersihkan rumah serta cerewet tentang ini dan itu, terkadang terlihat Mao lebih dewasa ketika membicarakan tentang rencana mengembalikan para saudara Hiro, dan yang paling membuat ngakak adalah ketika salah satu dari mereka mulai salah fokus dengan perasaan mereka. Hiro bisa saja lepas control, meletakkan kepalanya di atas kepala Mao menganggapnya seolah bantal, atau mencium Mao yang langsung merah padam megap-megap salah tingkah dan Hiro dengan cuek ngeloyor pergi atau tertidur saking lelahnya bekerja. Kehadiran Daichi pun menjadikan kisah ini menarik. Bumbu cinta segitiga dari pihak adik Hiro yang sering dikalahkan Mao dari permainan video game ini malah semakin membuat ngakak. Kakak beradik yang sama-sama naksir Mao ini sering kali saling berburuk sangka telah melakukan sesuatu terhadap Mao, hahaha… Ngga kebayang, Daichi yang berpenampilan bagai anak jenius ini bisa jatuh cinta pada Mao. Di beberapa spin off chapter, ada sih kisah flashback antara Mao dan Daichi dan mungkin itu adalah awal Daichi naksir Mao. Gaya nembaknya pun unik, saat mereka bekerja di sebuah bar yang memiliki konsep warring history dengan pakaian ala samurai dan panggilan dengan akhiran -dono mwahahaha…. Masih ngakak lihat gaya jengkengnya Daichi ketika melayani customers

Judul Taiyou No Ie ini semula membuat saya menebak-nebak apa artinya. Saya coba cari di Goodreads, ternyata hanya tersedia versi Jepang untuk judulnya. Setelah sempat membaca sedikit sinopsisnya di Wikipedia, saya jadi tahu. Taiyou No Ie ini ternyata adalah judul novel internet yang ditulis oleh Mao dengan kisah dirinya sendiri. Lucunya, Hiro secara tidak sengaja membaca novel ini dan merasa ada sesuatu yang familiar dari kisahnya. Ya iyalah, itu kan ceritanya Mao tentang dirinya hahahaha…

Overall, a childhood love story can be very cliché, tetapi bumbu tentang kerinduan sebuah keluarga yang hangat amat sangat menyentuh. Taiyou No Ie saya rekomendasikan buat penikmat komik shoujo dengan tema tersebut. Ao Haru Ride sebenarnya memiliki tema yang mirip, tapi sayang, saya sudah bosan di awal chapter. Nonton live action-nya pun tak kalah bosannya. Semoga saja satu hari nanti saya bisa melihat manga ini dalam bentuk lebih hidup, bentuk anime ataupun live action. 

PS: Manga ini pertama kali dirilis September 13, 2010 dan volume terakhirnya rilis June 24, 2015. Cukup lama juga ya manga ini beredar. Untung saya bacanya seluruh volume sudah kelar :D . Oya, manga ini memenangkan Kodansha Manga Award untuk The Best Shoujou 2014. Si penulisnya pun dengan tengil menyelipkan pengumuman ini di tengah spin off-nya hahaha… Semoga sebentar lagi bakal ada yang meliriknya menjadi anime atau live action :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar