Minggu, 31 Januari 2016

3 (Tiga) by Alicia Lidwina


Ebook from IJak, 324 pages
Published July 27, 2015 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 3, 5/5

Sedekat apakah hubunganmu dengan sahabat terdekatmu? Apakah sedekat tiga jari membentuk angka tiga yang terdiri dari jari telunjuk, jari tengah dan jari manis? Atau sedekat burung dengan langit?

Saya mendapat rekomendasi buku ini dari Cindy dari blog Let's Read Between Pages. Sekilas, saya sedikit terkejut dengan bacaannya yang bukan 'color'nya. Metropop! Seriously? Setelah saya membaca review nya, saya jadi manggut-manggut maklum karena kisahnya sangaaatttt Jdorama. Dan tak heran, Cindy me rekomendasi buku ini ke saya yang lagi tergila-gila dengan dorama Jepang =)

Dari awal saya sudah merasakan tone yang sangat Jepang: gloomy, depressing, sepi, patah hati, menyesakkan. Nakamura mendapat kabar kematian sahabat dari kecilnya, Hashimoto Chihiro karena bunuh diri. Setelah lama tak bersua, yang dia dengar berita dari sahabatnya ini adalah berita kematiannya! Satu tanda yang ia tinggalkan di apartemennya adalah coretan kurang jelas yang menyerupai angka 3.

Sabtu, 30 Januari 2016

Wrap Up Post Read Big RC 2015




Hmmmm…. Setelah menunda dan terus menunda, tiba-tiba besok kok sudah akhir bulan Januari ya? Dan saya masih punya hutang me-wrap up satu reading challenge yang saya ikuti tahun lalu. Saya menunda karena waktu kemarin saya masih meneyelesaikan satu buku bantal yang, Alhamdulillah, akhirnya kelar, dan itu ‘menggenapkan’ jumlah untuk level Middleweight atau kelas menengah.

Berikut adalah 7 buku bantal yang sukses saya selesaikan tahun lalu. Horeeee…. :D


  1. Love, Rosie by Cecilia Ahern (632 halaman)
  2. Blood of Olympus by Rick Riordan (528 halaman)
  3. The Maze Runner by James Dashner (532 halaman)
  4. Titik Nol by Agustinus Wibowo (552 halaman)
  5. A Thousand Splendid suns by Khaled Hosseini (507 halaman)
  6. The Scorch Trials by James Dashner (511 halaman)
  7. A Tree Grows in Brooklyn by Betty Smith (664 halaman)
Dari kelas Middleweight ini, peserta paling tidak bisa menyelesaikan minimal 5 dan maksimal 8 buku. Dan saya menyelesaikan 7 buku. Not bad. Mungkin ini bisa dibilang sukses lah hahaha...

Looking forward to joining another similar challenge this year...


Little Princes by Conor Grennan + Tebak Santa 2015




Paperback 460 pages
Published by Penerbit Qanita, February 2015
Penerjemah: Eva Y. Nukman
Rating: 4.5/5

Jika ingin membaca kisah tentang kepahlawanan, rasanya buku perjalanan seorang Conor ini adalah pilihan yang tepat. Kau akan ternganga antara kagum, ngeri sekaligus gemas, merasa sedih hingga sesak napas dan di saat yang sama tersedak karena geli luar biasa. Ramuan yang kompleks untuk sebuah buku dibawah 500 halaman.

Conor memulai perjalanan kepahlawannya ini dengan tujuan keliling dunia, dan mampir ke Nepal demi puja puji dari teman-temannya. Siapa sangka jika ia kemudian jatuh cinta jungkir balik dengan Negara yang saat itu tengah dilanda konflik perang saudara. Perjalanan Conor membawanya menjadi seorang sukarelawan di sebuah panti asuhan bernama Little Princes. Disana ia bertemu dengan 18 anak yatim piatu yang dibiayai perusahaan nirlaba demi memberi tempat nyaman dan pendidikan bagi anak-anak korban perdagangan selama terjadi perang di Nepal. Adalah sosok antagonis, Golkka, penjual anak-anak dari sebuah desa terpencil, Humla, yang memberi janji muluk-muluk membawa anak-anak keluarga miskin untuk diselamatkan dari pemberontak Maois, dengan sejumlah uang, yang kemudian ia jual pada orang-orang atau, lebih parahnya, ia telantarkan begitu saja di Kathmandu. Lebih dari 400 anak telah ia renggut dari pelukan orangtua mereka, bahkan ketika mereka masih sangat muda hingga mereka nyaris tak mengenal nama desa bahkan nama orangtua mereka. Pahit sekali.

Dibutuhkan beberapa kali kedatangan bagi  Conor untuk meyakinkan dirinya benar-benar merasa bahwa Nepal adalah rumahnya. Keterikatannya pada anak-anak yang pernah ia janjikan sebuah tempat yang nyaman, tak berjalan sesuai dengan janjinya. Dalam kondisi bokek parah, ia menggalang dana dengan cara apa saja yang bisa membawanya kembali ke Nepal, dan menemukan 7 anak hilang dan mendirikan panti asuhan. Terseok-seok dan jatuh bangun ia dalam usahanya ini bersama Farid, warga Perancis yang mempunyai keterikatan yang sama pada Nepal. Tekadnya mengumpulkan ketujuh anak hilang ini mendapat sambutan yang sangat baik dari pejabat setempat, pejabat yang sebenarnya tidak terlalu penting namun usahanya sangat luar biasa. Dia adalah Gyan dari Dewan Kesejahteraan anak Nepal (eh, jadi kepo, apakah di Negara kita ada dewan semacam ini, selain organisasinya Kak Seto ya? #seriusnanya). Gyan ini dengan gayanya yang lembut namun tegas dan bersungguh-sungguh, selalu dapat diandalkan, meski awalnya terkesan pemberi harapan palsu, bagi saya yang cukup mengenal janji-janji para pejabat di negeri sendiri…hikssss…  saya berpikir, bahwa banyak pejabat seperti Gyan, apakah ia mengurusi kesejahteraan anak atau tidak, bakal berterima kasih tak terhingga dengan apa yang dilakukan oleh Conor dan Farid, serta banyak warga asing lainnya yang berkecimpung dalam penyelamatan anak-anak di Nepal.

Selasa, 26 Januari 2016

Animal Farm by George Orwell




Paperback 207 pages
Published by Fresh Book, Yogyakarta
Penerjemah: J. Fransisca
Rating 5/5

Sebenarnya, saya bingung mo nulis apa untuk review buku ini. Saya terlalu shock dengan ending-nya yang-haduh, kok up in the air banget. Saya berharap kembalinya berkuasanya manusia atas Pertanian Manor. Tapi terus saya berpikir, mungkin Orwell sengaja membuat ending seperti ini untuk menyindir habis-habisan sifat manusia yang serakah (dan yah, saya serakah, dan arogan untuk mengakui bahwa binatang juga bisa bertindak layaknya manusia—setidaknya di buku ini). 

Di awal, saya sudah senyum-senyum membayangkan binatang yang berpikir persis manusia, terutama dalam hal penampilan:


Clover adalah kuda betina yang gemuk dan keibuan. Menjelang usia pertengahan, ia tak pernah bisa kembali ke bentuk idealnya setelah melahirkan anak ke empatnya (hal.7)


Hahahaha…. Itu kan kegalauan para ibu-ibu manusia yang ternyata dialami juga oleh si kuda betina…

Ketika tiba pidato epic dari sang Mayor, babi yang cerdik, saya kembali berpikir, tindakan makar atau pemberontakan ini tak jauh dari manusia yang ingin berkuasa akan dirinya dan kelompoknya. Mayor menginginkan kemandirian para binatang di pertanian Manor tanpa adanya Tuan Jones, si pemilik pertanian, manusia yang dianggap pemalas dan hanya mengeksploitasi binatang piaraannya. Dan terjadilah, Tuan Jones tersingkir dari istananya sendiri, pemberontakan berhasil!!!

Selasa, 19 Januari 2016

Kimi No Hitomi ni Hikari by Zachira


Ebook from Ijak 280 pages
Published by Grasindo Agustus 25, 2014
Rating 3/5

Membaca ini mengingatkan saya pada awal mengenal tulisan Ilana Tan bertahun yang lalu. Saya yang waktu itu tergila-gila dengan Korean drama, serasa ikut belajar bahasa negeri ginseng itu dengan banyaknya kalimat, phrasa ataupun ekspresi yang saya sering dengar ketika menonton Korean drama. Sebagai tambahan, saya waktu itu hanya membaca novel bernuansa Korea dari Ilana Tan saja, jadi saya tidak bisa membandingkan antara novel dengan cita rasa Korea dengan novel yang memang ditulis oleh penulis Korea.

Dan......celakanya saya membaca novel ini jauh setelah saya bosan dengan drama Korea dan eksposure tentang Jepang sedang memborbardir diri saya #tsaaaahhh.... Jadi yah, mau tak mau saya membandingkan antara novel dengan cita rasa Jepang yang ditulis oleh penulis lokal dengan novel dengan penulis Jepang. Dan celakanya lagi, ada beberapa novel Jepang dan komik yang sudah saya baca.

Meski saya sangat hepi menemukan novel ini di Ijak, berarti saya numpang baca gratisan, dan hepi saya berlanjut dengan banyaknya kalimat, phrasa dan ekspresi--persis sama dengan novel Ilana Tan dengan rasa Korea itu, karena saya jadi bisa ikut belajar bahasa Jepang secara tidak langsung. Hahaha...

Tapi..... Saya jadi berpikir, novel-novel Jepang yang saya baca, ngga gitu banyak kok campur aduk bahasanya, meski terjemahan. Hanya beberapa istilah atau ekspresi khusus yang dimiliki oleh budaya Jepang, seperti ucapan pulang dan selamat datang (“Tadaema” dan “Okaeri”). Jadi, novel ini berasa Jepangnya hanya di campuran bahasanya, dan beberapa tempat yang disebutkan di novel. Selebihnya, saya berasa sedang menonton drama Korea...

Hahahahahaha.... Meski sudah pensiun lama ngga nonton, saya masih ingat saja unsur-unsur yang sering ada di drama-drama Korea.

Kamis, 14 Januari 2016

Read and Keep Challenge



Hellowww... helloww...hellowww...

Setelah saya cukup gagal mengikuti Reading Challenge tahun lalu, terutama Tantangan Babat Timbunan Joglosemar, dan juga ngga gitu banyak ikut posting bareng yang diadakan BBI Event, maka tahun ini saya ngga mau muluk-muluk. Saya cuma mau ikut yang jelas saya bakal sukses menjalani #tsaaahhh....menjalani-- tantangan yang saya ikuti di tahun ini. Yang jelas, saya menambah jumlah buku yang bakal saya baca di Goodreads. Tahun lalu saya sukses melampaui target 45 buku menjadi 70 buku, both paperback and ebook, termasuk komik sih hahaha... Tapi karena melihat timbunan yang mengerikan di container saya, maka saya KEMBALI BERTEKAD BABAT TIMBUNAN.

Nah, setelah ngobrol2 dengan teman-teman di Joglosemar, saya sempat nyeletuk ingin menabung setelah selesai membaca satu buku, baik paperback atau ebook, seperti yang pernah dilakukan satu teman BBI Semarang, Sany. Dia sukses mengumpulkan rupiah demi rupiah demi membeli tablet, demi membaca ebook yang lebih nyaman. Woooww sekali ya. Maka saya pun ingin melakukan hal yang sama. dan ternyata oh, ternyata, teman saya, Alvina di orybooks.com sigap menanggapi tantangan ini dengan menjadikannya project pribadi, lengkap dengan master post en banner pula. Supeerr sekali, buubb... :D

Ini dia rules-nya. Ngga strict-strict amat kok. se fleksibelnya aja, disesuaikan dengan kemampuan kita. Cek di post ini yaaa...

Saya pribadi menargetkan menabung 20.000 untuk ebook, dengan tebal minimal  120 halaman, 30.000 untuk paperback diatas 200 halaman. Nah, apakah saya ngga nabung kalo buku yang saya baca tidak sesuai dengan jumlah halaman yang sudah saya targetkan, yah, itu liat nanti aja. Saya bisa saja menyisihakn uang 10.000-15.000 untuk buku dengan jumlah halaman di bawah target, Ya kan? Fleksibel kan? Tapi tetap saja saya musti tanggung jawab pada diri sendiri untuk urusan begini. Doakan saya yaaa... :D

Senin, 11 Januari 2016

Book Tag: My Life in Books


casualbookreader.wordpress.com has tagged me, what is it, feels like a long time. Well, before I attended Indonesian Readers Festival the beginning of December. And now, the third week of December (errr...apparently, I finally finished and uploaded it in the second week of January 2016... hyakakakaka). But, I guess it’s never too late to post such posting no matter how long I abandon the tag #upsss. Sorryyyy, dear Opat :D

1. Find a book of each your initial

I got two initials by the way. L, mostly for may colleagues and my online friends. And N for my childhood friends and my family.


I choose Larung for L. This book is actually didn’t really make me stunned the way ayu Utami made me in Saman. But, still, this book will definitely worth rereading, one day, when my piles of books get slimmer.... That I don’t know :D


I choose Never Let Me Go for my N initial. This book has been kept for quite long time as well as the movie. I’m kind of person who have to read the book first before watching the movie, especially if I already both of them, the paperback and the movie.

2. Count your age along your book shelf. What book is it?



Hmmm... Since I don’t really organize  bookshelf in my library, so I just took the bookshelf in my cupboard that keeps changing everytime. It might change the position next time :P

3. Pick a book set in your city/ state/ country.


This book will definitely be Noni, a young detective from Semarang. The series were taken in years 1980s-1990s by Bung Smas. I’m quite familiar with the names of the streets, the buildings and even the public transportation used at that time.

4. Pick a book that represents a destination you would like to travel to.


Avalon. Regardless it is legendary island or a real island. Blame my deep obsession of Merlin :D

5. Pick a book that is your favorite color.


Well, I don't really choose a book by its color. But as soon as I saw this book, I fell in love with the contrast of the color, plus, the writer is my favorite author. Destiny #tsaaahhh :D

6. Which book do you have the fondest memory of?


I always remember this series for the rest of my life. My sister borrowed from her school library and I got a chance to read it, too. Jo happened to be my favorite character that I always wanted her in all the series. It's impossible, though, since Jo didn't belong to the Famous Five.

7. Which book did you have the most difficulty reading?


I always look forward to reading Agustinus Wibowo work, but reading this work was quite hard for me since the mood was gloomy since the beginning of the story. I thought I could feel the pain the writer wrote in the story. The hardest part was writing the review. I  always think that my review is nothing compared to the book. I couldn't reach even a tip of a finger :D

8. Which in your TBRR pile will give you the biggest sense of achievement?


I haven't got as big as this interest towards Japan when I got this book for free. I just wanted to maximize the price offered by the website when I won the weekly review hohoho. But, then now, I got a lot of exposure of Japan from the dorama I watch and manga I read. I guess, it would be the greatest achievement for me if I could finish this book plus writing a review.

OK, that's all about my book tag. I've been postponing to finish writing this tag for almost two months hahaha...and finally I finish it. yippieee... Let me tag some of my friends that hopefully haven't been tagged yet.

Cindy in Let's read between pages

Ika in Ika's Bookshelf











Minggu, 10 Januari 2016

Characters in A Tree Grows in Brooklyn



Poster filmnya yang diambil dari IMDB

Selama membaca, saya mempunyai bayangan untuk menuliskan beberapa karakter dalam novel ini. Sekecil apapun perannya di novel ini, semuanya diberi porsi penting oleh Betty Smith, si penulis.

Oya, sebagai peringatan, penulisan karakter ini, bisa dianggap spoiler. Jadi jika tak mau terlalu ‘memakan’ spoiler, silakan berhenti saja sampai disini membaca posting ini :D 


Katie Nolan

Sebelum menikah dengan Johnny Nolan, Katie yang memiliki nama asli Katherine Rommely. Lahir dari ibu Austria, keluarga Rommely adalah pendatang di Negara setempat. Mary, ibu Katie, memiliki 4 anak perempuan, yang semua ia didik dengan keras, hingga membentuk kepribadian seperti mereka ketika dewasa. Kemiskinan telah menghimpit mereka semenjak Katie kecil, hingga ia menikah. Wataknya yang keras, tapi lembut tehadap anak-anaknya adalah cerminan bahwa ia tak ingin anak-anaknya menjadi seperti dirinya. Sebagai istri Johnny Nolan yang tak memiliki pekerjaan tetap, ia bekerja sangat keras menjadi tukang bersih0bershi flat0flat di sekitarnya. Meski demikian, ia memimpikan pendidikan tinggi bagi putra-putrinya. Sebagai anak, ia sangat berbakti pada ibunya. Nasihat yang terdengar cukup mustahil pun ia lakukan; membaca dua buku wajib setiap hari: Bible dan karya-karya Shakespeare, dan menyimpan kaleng berisi receh sen di kolong lemari meski setiap hari mereka harus berjuang mendapatkan sen demi sen. Sebagai wanita yang dewasa di saat itu, Katie juga cukup memiliki pikiran modern, selain menginginkan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya, bahkan untuk Francie, ia juga cukup menjadi konsultan yang baik ketika Francie menginjak dewasa, menjelaskan bagaimana dan dari mana bayi lahir, meski ia sedikit khawatir dengan beberapa istilah yang ia anggap kotor. Katie juga bisa menjelma menjadi induk yang ganas ketika anaknya terancam bahaya. Ia berhasil menembak seorang laki-laki kurang ajar yang nyaris mencabuli Francie. (saya cukup tegang pada bagian ini. Akankah Katie berhasil membunuh laki-laki cabul itu?)

Johnny Nolan 

Bertampang ganteng dan bersuara emas. Kalo dipikir-pikir, kenapa nasib buruk selalu berada di pihak Johnny kecuali ketika ia mendapatkan Katie? Ia bisa jadi penyanyi di kafe-kafe atau bar setempat, atau lebih bagus menjadi actor di masa itu. Kemampuannya berdansa juga menjanjikan karir yang bagus. Sayangnya, keluarga Nolan yang semuanya pria, mempunyai kebiasaan buruk, yaitu minum hingga mabuk. Hampir semua keturunan Nolan mati muda, dengan penyebab yang sama, mabuk. Meski dikenal tukang mabuk namun Johnnya adalah ayah yang baik, terutama bagi Francie yang merasa ibunya lebih sayang pada adiknya. Dengan akal cerdiknya, ia bisa memindahkan Francie ke sekolah yang ia inginkan, meski sekolah pada waktu itu hanya menerima murid dari rumah di sekitar sekolah setempat. Kisah-kisah yang diceritakan Johnny pada Francie, menjadi kenangan sekaligus inspirasi bagi Francie ketika ia dewasa. 

Francie Nolan

Sejak kecil, kemiskinan sudah menjadi temannya. Ketika teman-temannya saling berkumpul, ia hanya bermimpi memiliki satu atau dua orang teman yang sayangnya tak ada yang mau berteman dengannya. Hiburannya adalah membaca sambil duduk di tangga rumahnya, dinaungi pihon besar yang tumbuh di halaman flatnya. Buku-buku yang ia baca, semuanya klasik dengan jumlah halaman yang membuat saya berpikir berapa kali untuk membacanya hahahaha… Francie, memiliki sifat-sifat keras mirip ibunya, Katie, yang mungkin inilah yang membuatnya mereka terkadang kurang akur. Berbeda dari Katie, yang benci dengan kata ‘donasi’ atau ‘bantuan’, Francie, beberapa kali memanfaatkan donasi ini demi keinginannya sendiri, bahkan ia tak segan melakukan kebohongan yang ia bawa berhari-hari hingga ia akhirnya tahu bahwa itu ternyata bukan kebohongan (ia mengaku bernama Mary demi mendapatkan boneka bernama Mary yang ternyata ia akhirnya tahu bahwa nama baptisnya ternyata adalah Mary, nama neneknya). Kecerdasannya, kegigihannya dan kecintaannya pada keluarga membentuk karakter Francie, yang sangat berbeda dari gadis-gadis seumurnya.

Sebatang Pohon Tumbuh di Brooklyn by Betty Smith




Paperback 664 halaman
Published Januari 2011 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Rating 5/5

Sudah lama sekali saya tidak membaca novel epic macam novel yang satu ini. Terhitung setelah saya menuntaskan bacaan The House of The Spirit beberapa waktu lalu. Dengan adanya tantangan bacaan dari Bzee dari blog bacaanbzee.wordpress.com, saya mendapat tantangan membaca buku yang ketimbun belum ada setahun ini. BELUM ADA SETAHUN!!! HAH, seolah saya ini orang suci dari mana hingga buku ketimbun belum setahun bisa sedikit mengangkat dosa-dosa saya wkwkwkwk..

Well, enough said… Saya menyanggupi tantangan Bzee, dan saya pun melewati tenggat yang sudah ditentukan. Tapi saya masih meneruskan kisah klasik ini karena sudah kepalang tanggung juga :D

Novel berlatar belakang Brooklyn ini berpusar pada kehidupan Mary Frances Nolan alias Francie, keluarganya, dan keluarga keluarganya; Paman, bibi, Nenek, Nenek dari ayahnya, hingga tetangga sekitar dan sekolahnya serta mimpi-mimpinya. Semua hal kompleks yang terjadi di Brooklyn dikisahkan dari kacamata Francie.

Terbagi dalam 4 bab, bab pertama berkisah tentang Francie yang waktu itu berusia 10 tahun. Francie menceritakan kehidupan keluarganya yang miskin hingga ia dan adiknya Cornelius Nolan alias Neeley, harus mengumpulkan rongsokan yang kemudian mereka jual kembali. Saking miskinnya, mereka harus menghangatkan kopi yang sudah jadi, berebut makanan setengah basi dari toko terdekat hingga makan apel setengah busuk. Setiap kali Francie mengisahkan makanan di keluarganya, saya jadi ingat makanan sisa di rumah saya yang kadang terlupakan begitu saja hingga membusuk. Sementara keluarga Nolan, begitu bersyukur akan adanya makanan setengah basi yang masih harus mereka tebus dengan beberapa sen atau beberapa penny. Hiburan murah meriah bagi penduduk pemukiman kumuh Brooklyn ini adalah rombongan musik yang datang seminggu sekali dan menerima bayarannya dari koin-koin yang dilemparkan. Francie sempat berpikir untuk menjadi anggota rombongan music ini jika ia besar nanti. Mendapatkan uang serasa begitu mudah tanpa harus mengumpulkan rongsokan atau bekerja keras seperti ibunya atau ayahnya yang setengah pengangguran.

Rabu, 06 Januari 2016

Wrap Up Post: Joglosemar Babat Timbunan & Personal Challenge



Setahun lalu, saya (tidak) terlalu berjanji untuk mulai mengurangi timbunan dengan mengikuti Challenge yang digagas oleh Oky di blognya okydanbuku.com seperti yang sudah saya tulis di post ini dan ini. Masing-masing partisipan challenge ini mengatur sendiri kemampuan babat timbunan mereka. Saya sendiri tidak berjanji untuk membeli buku setelah membaca 3 buku, paperback atau pun ebook. Dan bagaimana kah hasilnya?

Nangis sesenggukan...

Tapi terus ngikik...

Kenapa?

Karena ternyata banyak teman saya di group joglosemar juga mengalami kekacrutan alias kegagalan yang kurang lebih sama. Hanya segelintir yang berhasil hahahaha... Syukurlah .. Ups... Sudah gagal, malah bersyukur...

Well, ini dia belanja buku yang saya lakukan selama tahun 2015 sejauh yang saya ingat wkwkwkwk... Plus beberapa hadiah GA, kuis, atau pun hadiah ultah dari Joglosemar Typoing Family :D

  1. The Swiss Family Robinson by Johann David Wyys.
  2. The Hours by Michael cunningham
  3. Black Beauty by Anna Sewell
  4. To Live by Yu Hua
  5. Where The Mountain Meets The Moon by Grace Lin
  6. Little Prince by Antoine De Saint Exupery
  7. Railway children by E. Nesbit
  8. A Tree Grows in Brooklyn by Betty Smith
  9. The Kite Runner by Khaleed Hosseini
  10. Coraline  by Neil Gaiman (graphic novel)
  11. Bilang Begini Maksudnya Bgitu by Sapardi Djoko Damono
  12. Chairil Anwar Pelopor Angkatan ‘45 by H. B. Jassin
  13. Ho[s]tel by Ariy
  14. Oh. My. Gods by Terra Lynn Childs
  15. Goddess Boot Camp by Terra Lynn Childs
  16. Incredibly Journey by Sheila Burnford
  17. Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya
  18. Rules by Cynthia Lord
  19. Little Witch and Co, by Ambiru Yasuko
  20. Anak Dalam Cermin by Enid Blyton

Hadiah2 GA, Kuis, Kado Joglosemar (kenyaanggg =))

  1. Ayah by Andrea Hirata
  2. 7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe by Edgar allan Poe
  3. The Golemn and The Jinni by Helene Wecker
  4. American Gods by Neil Gaiman
  5. Sudut Mati by Tsugaeda
  6. Brave New World by Aldous Huxley
  7. Trinity Naked Traveler The Horror Anthology
  8. Ender’s Game by Orson Scott Card
  9. Keliling Dunia (Buku Mewarnai by Jerome Meyer- Bisch
  10. Tiga Menguak Takdir by Chairil Anwar
  11. All Our Yesterdays by Christin Terril (hadiah Secret Santa)
  12. Little Princes: One Man’s Promise To Bring Home Children of Nepal by Connor Brennan (hadiah Secret Santa)

Sebagian besar belanja buku itu saya lakukan di tokobuku online Facebook, jadi saya masih menyimpan record-nya. Beberapa yang lain, saya baru saja belanja di pameran buku Semarang dua bulan lalu, dan kebetulan saya masih ingat. Ada mungkin yang terlupa ngga tercatat tapi yah, sudahlah. Melihat belanjaan buku saja itu sudah melebihi target dari yang seharusnya saya lakukan. Tahun lalu saya menyelesaikan 70 buku termasuk komik, graphic novel dan ebook bergambar yang berjumlah sekitar 32 halaman, itu pun masuk hitungan. Hahaha...

Dalam personal challenge, saya ingin menyelesaikan buku-buku yang masuk wishlist saya di WW tahun-tahun sebelumnya, yang sudah dapatkan tentu, tapi end up as timbunan. Dan hasilnya? Errrr.....

Tick merah menunjukkan bukan timbunan, tentu saja yang belum di-tick itu timbunan (abaikan 4 buku teratas ya :))

Dan tentang kesukaan saya menonton Korean Drama, yang sekarang berganti haluan menjadi Japanese Dorama, apa daya tetap saja. Oya, sekedar mengingatkan saja, saya berencana menonton satu serial setelah membaca tiga buku plus menulis review. Sempet juga saya membuat list tontonan drama apa saja yang menjadi dosa-dosa saya karena mengabaikan timbunan, tapiii... Sudahlah... Ngga usah dibahas.*nangis kejerrr*

Pokoknya, tahun ini saya bertekad untuk MENGURANGI TIMBUNAN DAN BELANJA BUKU. Mmmmm... Sementara ini saya masih belum ada keinginan belanja apa-apa sih, entah bulan depan, depannya lagi... DOAKAN SAYAAA...

PS. Saya berencana memotret beberapa timbunan yang tertulis di atas, apa daya, belum sempat juga. Mungkin saya bakal update lagi postingan ini :D

Jumat, 01 Januari 2016

Wrap Up Post: Project Baca Buku Cetak





Halo, halo, akhirnya saya ada juga kesempatan membuat wrap up post untuk buku-buku cetak yang say abaca selama tahun 2015. Target awal saya untuk Goodreads Challenge tahun lalu adalah 45 buku, mengingat tahun sebelumnya, 2014,  saya cukup ngos-ngosan memenuhi target 70 buku, karena game smartphone yang pada waktu itu masih hangat-hangatnya. Tahun ini,  saya cukup bosan dengan game itu hingga saya melampaui target baca meski dibantu dengan banyak komik hahaha. Dan, eh, setelah saya baca ulang  master post-nya di Ren’s Little corner, ternyata komik boleh kok masuk ke project baca buku cetak ini. Yeayy… Etapi, dalam master post yang saya tulis, saya ternyata ngga mencantumkan berapa jumlah buku cetak yang akan saya baca. Yah, gimana doong… Boleh ya, Renn… #kedip2


  1. Love, Rosie – Cecilia Ahern
  2. Mata Air Airmata Kumari – Yudhi Herwibowo
  3. The Blood of Olympus – Rick Riordan
  4. From The Dark (Dari Balik Kegelapan) – Michele Hauf
  5. Kass – Willem Esschot
  6. Never Let Me Go – Kazuo Ishiguro
  7. A Little Princess – Frances Hodgson Burnett
  8. Wonder struck – Brian Selznick
  9. Fortunately, The Milk – Neil Gaiman
  10. Sokola Rimba – Butet Manurung
  11. The Maze Runner – James Dashner
  12. Going Solo – Roald Dahl
  13. The Tale of Desperaux – Kate DiCamillo
  14. Jendela Jendela – Fira Basuki
  15. Pay It Forward – Emma Grace
  16. Titik Nol – Agustinus Wibowo
  17. Nyanyian Ibu (Seri Noni 31) – Bung Smas
  18. A Thousand Splendid Suns – Khaled Hosseini
  19. Rantau 1 Muara – A. Fuadi
  20. Menghitung Hari – Arswendo Atmodiloto
  21. Bidadari Yang Mengembara – A. S. Laksana
  22. To Live – Yu Hua
  23. Oh. My. Gods -  Tera Lynn Childs
  24. The Scorch Trials – James Dashner
  25. Girls in The Dark – Akiyoshi Rikako
  26. The Dead Returns - Akiyoshi Rikako
  27. Sabtu Bersama Bapak – Aditya Mulya
  28. Rencana Besar – Tsugaeda
  29. Seekor Bebek Yang Mati di Pinggir Kali – Puthut EA
  30. The Naked Traveler Anthology – Trinity, dkk
  31. Where The Mountain Meets The Moon – Grace Lin
  32. Little Witch, Co – Ambiru Yasuko
  33. Bakuman (komik) – Tsugumi Ohba – 1-12
  34. Mafalda 6 (komik) – Quino
  35. Diva (Komik) – Hiromu Ono
  36. Smile (Senyum) Raina Telgemeier (Graphic Novel)

Wah, lumayan, dari 70 buku yang saya selesaikan tahun lalu, ternyata ada 36 buku cetak. Tapi kok rasa-rasanya tetap saja paperback saya masih boanyaaakkk yaaa? Huhuhuhu… Semoga reacding challenge ini masih ada tahun depan, jadi bisa mendukung semangat saya mengurangi timbunan. SEMANGAATTT!!!





Amy & Rogers' s Epic Detour by Morgan Matson



Ebook di IJak, 480 pages
PublishedJune 26, 2014 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5 

Sudah lama saya mengincar buku ini untuk saya baca, ebook sudahnlama ngendon di e-reader, tapi ngga kunjung dibaca juga, hingga saya menemukan buku ini di IJak. Waaahhh, koleksi iJak kereeennn deh... =) 

Kisah perjalanan selalu menarik buat saya yang sebenarnya suka jalan tapi ga pernah pede ngeluyur sendiri di kota lain selain Cirebon. Jadi rasa suka jalan saya sedikit terobati dengan sekedar membaca kisah perjalanan, meski fiksi, apalagi non fiksi. Tapi ternyata novel ini benar-benar berisi kisah perjalanan penulisnya lengkap dengan catatan negara-negara bagian yang dilewati plus poto-poto dalam bentuk scrapbook. Menyenangkan sekali. 

Kisah perjalanan penulis ini diwakili oleh dua remaja, Amy Curry dan Roger Sullivan. Perjalanan dua remaja yang nyaris tidak saling mengenal satu sama lain meski mereka pernah saling kenal waktu mereka masih kecil dulu. Keluarga Amy yang semula tinggal di California akhirnya memutuskan untuk pindah ke Connecticut. Sementara Roger, dia akan memulai liburan (?) bersama ayah dan ibu tirinya di Philadelphia , beberapa jam sebelum Connecticut. Amy butuh membawa mobil ibunya ke Connecticut karena sementara waktu ia tak bisa menyetir sejak kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya. Roger secara suka rela menjadi sopir selama perjalanan menuju Connecticut. Apakah Roger semulia itu pada Amy?