Selasa, 28 Juni 2016

Posting Bareng BBI juni: #BBIBookishConfession 2




Wiiihhh… saya kayaknya punya satu lagi stock buat bikin pengakuan hahaha….#maruk..

Jadi gini, kalo tidak salah mulai tahun lalu, saya mulai berkenalan dengan segala sesuatu yang berbau Jepang, mulai dari dorama, movie, lagu sampai actor aktrisnya hingga akhirnya saya kena kutuk manga dan anime-nya juga. Waaaakksss….

Awalnya, membaca manga adalah sesuatu yang aneh buat saya. Membaca Dora Emon saja saya ngga pernah khatam. Membaca Donal Bebek sama juga. Tetapi komik Smurf kayaknya lumayan banyak yang saya selesaikan. Smurf? Are you kidding? ;D Dari kecil saya memang kurang menyukai komik, mungkin karena fontnya yang kecil-kecil hingga membuat mata yang minus ini menjadi merana. Jadi, yah, gitulah, saya lebih banyak mingkem jika teman segroup Joglosemar berkolaborasi mengenang bacaan komik masa kecil dulu. Saya nggggaaa ngertiii… mwahahaha… Melas yaaa… Jadi, bermula dari membaca komik Diva, hasil pinjaman dari teman saya, saya mulai berkenalan dengan manga. Itu pun kemudian berhenti. Dan genre bacaan saya mulai ‘berwarna’ ketika saya mulai gandrung dengan dorama-doramanya, dan ketika tahu jika dorama itu berasal dari manga, maka saya mulai mengejar manga-nya. Tapi waktu itu, karena keterbatasan memory gadget #uhuk, saya jadi sedikit mengerem keinginan menimbun manga. Tapi semua berubah, begitu teman saya, ka Cindy, dari blog Read Between Pages mulai mencekoki saya Bakuman, berlanjut ke Death Note, yang membuat saya tergila-gila dengan actor pemeran L-nya, dan end up menimbun manga di……………errrrr….di hape hahahaha…

Bagaimana saya bisa menimbun para manga itu? Jadi ceritanya begini, setiap kali saya membaca synopsis film ini atau dorama itu, dan ternyata berasal dari manga, maka saya segera cek di aplikasi hp, menggunakan aplikasi Manga Browser, ketemu, bookmark. Cari lagi, bookmark. Nemu lagi. Bookmark. Lagi. Gitu. Lagi. Gitu. Terusssss… hahahaha… Dari sekian itu sebagian sudah saya baca paling tidak 10 chapter awal. Ada yang sudah saya give up bacanya karena sudah menonton live action-nya. Iya iya, saya suka men-spoil diri sendiri dengan menonton anime-nya atau klip-klip di YouTube, atau parahnya lagi membaca komen-komen di YouTube. Si ini mati at the end…….. hwaaaaa…… ngga relaaa….dan kenapa saya harus mendapat spoiler parah begini mulu ya? Huhuhuhu…

Senin, 27 Juni 2016

Posting Bareng BBI: #BBIBookishConfession




Waaahh… topik posbar bulan lucuuuuu…. Jadi gatel pengen ikut buka-buka rahasia juga ini hahaha…

Jadi rahasia yang pengen saya buka ini sebenarnya cukup memalukan, dan beberapa bahkan sudah jadi bahan ledekan teman-teman di Goodreads Semarang. Tapi sebelumnya saya beri judul dulu buat ‘pengakuan dosa’ saya ini ya..

5 BUKU YANG SAYA DAPAT DENGAN BERDARAH-DARAH BUT END UP AS TIMBUNAN

Lhah…. Judulnya panjaaangg bangettt? Sengaja kok hahaha… Jadi ceritanya saya duluuu pernah bahkan sering ikut Wishful Wednesday, meme asik milik kak Astrid di perpuskecil.wordpress.com, tapi karena efeknya kurang bagus buat saya yang jadi nambah mulu timbunan alih-alih nambah rak ‘sudah dibaca’ di Goodreads malah nambah ‘to read’ atau mark as ‘timbunan’ mulu wkwkwk… Makanya saya idle untuk sementara ikutan meme tersebut. Dan 5 buku ini akhirnya saya dapatkan dengan sekuat tenaga, tapi berakhir sebagai ….. ah, you know lah…. :D


  1. Persepolis by Marjane Satrapi

Ini buku duluuu pernah happening banget diantara anak-anak Goodreads Semarang ketiika seorang teman saya menemukan buku grafis ini di tumpukan diskon 10 ribuan. Dengan cepat buku ini habis. Dan saya yang tiba-tiba pengen, cuma bisa gigit jari. Saya kebetutulan menemukan ebooknya, dengan Bahasa Inggris tentu saja. Dan karena membaca novel grafis berbentuk PDF di ebook reader itu tidak asyik, saya…..ehmm… saya MENGEPRINT EBOOK itu di jasa foto copy terdekat. Tetapi membaca beberapa lembar, isu politik dan gender serta agama yang begitu kuat, membuat saya sedikit mundur membaca buku ini. Kalo ditanya habis berapa mengeprint ebook ini, yang jelas lebih lah dibandingkan beli 10 ribuan…. #sigh…

Kamis, 23 Juni 2016

Shigatsu Wa Kimi no Uso by Naoshi Arakawa




Original title: 四月は君の嘘
English title: Your Lie in April
Read scanlation using manga browser (Android app)
Rating 4/5

I accidentally bumped into some recommendations in YouTube for some new J movies. And this movie caught my attention since I’ve noticed that the female lead is Suzu Hirose, a young talented actress who played brilliantly in Gakkou No Kaidan. And more over, this movie is a musical movie with some classical music as the main soundtrack. Ups, it’s the soundtrack actually, but classical music is the main theme here, a bit reminded me of Nodame Cantabile. Unfortunately, when I tried to search the movie in some websited I get used to downloading movies, it’s nowhere to be found. But then I realized that the movies just released this year. Oh well, to reduce my disappointment, I searched the manga scanlation. And lucky me, I got it!!! And here I go, spending my waiting time here and there and my reading lullaby :D

Starting from Arima Kousei, a 14-year-old student who is well-known as a piano prodigy, lost his hearing ability while his playing piano. It happened after her strict mother cum piano teacher passed away. From then on, his life is monotonous and colorless. Thanks to his best friends, Watari and Tsubaki who always cheer him up. His life gradually changes as soon as he meets Kaori Miyazono, a spirited violinist who abandons all notes and score structure when she plays violin. Different from Arima who always plays as the scores and notes written, this young girl follows her own style while playing her violin, including when she joins competition. One day, she performs in TOWA violin competition and she needs an accompanist to play piano. Her previous accompanist left her, can’t stand with her style. Lol. Here, she pushes Arima to be her accompanist. You can imagine, he tries his best to refuse, but Kaori can’t take no as an answer. On the D-day of their performance, Arima, once again, loses his hearing of his piano….

Rabu, 22 Juni 2016

London – Angel by Windry Ramadhina




Paperback 330 pages
Published 2013 by Gagas Media
Rating: 3/5

Membaca ini berasa saya sedikit terbebas dari ‘penjajahan Jejepangan’ pada diri saya yang sudah berjalan selama berbulan-bulan. Saya jadi kasmaran pada satu kota yang selama ini pernah singgah dalam bayang-bayang saya karena banyak actor/idola saya berasal dari kota ini, atau setidaknya berbau -bau British, sebut saja Colin Morgan (Ireland sih aslinya), Johnathan Rhys Meyer hingga para penyanyi Celtic yang sebagian besar beraksen British, Celtic women, Hayley Westernra, dll. Yah, kenapa prolog-nya melenceng jauh ya dari review buku? Wahahaha… baiklah, stay focused then to book review :D

Dimulai dengan adegan minum-minum para cowok single di sebuah bar, dan disusul dengan sesumbar Gilang, calon penulis novel yang tak kunjung kelar, mengatakan bahwa ia akan ke London, mengejar cinta dalam hidupnya, Ning. Mereka berdua ini sebenarnya adalah pasangan sahabat yang sebelumnya tak terpisahkan hingga kepergian Ning ke London, mengejar mimpinya, mengejar seni, surga dunianya. Tinggallah Gilang dengan hati yang patah, yang tak pernah mengutarakan perasaannya hingga berlalu 6 tahun. Fiuh, 6 tahun!!! Maka, di usianya yang hampir 26 tahun, ia bertekad mendapatkan gadisnya meski ia harus melewati ribuan kilometer ke London, dengan mempertaruhkan persahabatnnya dengan Ning. So sweet…

Dalam perjalanan menuju kediaman Ning dan selama masa tinggalnya inilah, Gilang banyak menemukan pengalaman dengan background London yang asyik, yang membuat saya berfantasi kapan bisa mampir ke negara Ratu Elizabeth ini, menikmati 30 menit London eye ride (yang dari deskripsinya saja membuat saya mabuk kepayang, hingga nonton di YouTube), menginap di sebuah penginapan lengkap dengan ruang baca dan sarapan khas Inggris (meski saya bakal menyingkirkaan daging asapnya J), memasuki toko buku yang menawarkan harum buku tua hingga buruan buku-buku cetakan pertama, hingga Shakespeare’s Globe Theater yang menawarkan drama-drama Shakespeare-meski yah, saya sendiri bukan penggila Shakespeare, tapi jikalau sampai disana, tentu saja spot ini tidak bakal saya lewatkan (terus kapaaann mau kesananyaaaa….????)… Justru yang menarik dari buku ini sebenarnya adalah kisah-kisah di sekeliling Gilang, mulai dari Madam Ellis yang kaku tak pernah senyum, Ed -waiter yang half Brit-Indian- yang kepo masalah pribadi Gilang, sampai ke penjual buku, Mr. Lowesley, dan jangan lupa si Goldilocks, yang dipercaya sebagai malaikat hujan—muncul ketika hujan dan menghilang ketika hujan berhenti. 

Senin, 20 Juni 2016

Kambing & Hujan (Sebuah Roman) by Mahfud Ichwan




Ebook, read in Bookmate application (free) 380 pages
Published June 2015 by Bentang Pustaka
Rating 3/5

Entah mengapa, sejak awal beberapa teman saya memberi tanda to-read pada buku ini, tanpa membaca sinopsisnya, saya ikut-ikutan menandai buku ini sebagai to-read. Jadi bisa kebayang kan, begitu buku ini memiliki status free alias gratis di satu aplikasi baru baca buku, Bookmate, saya serasa melihat pelangi di musim panas… #tsaaaahhh hahaha… Tapi apakah pengalaman membaca buku ini setimpal dengan keinginan saya membaca buku ini? Mari mari simak review saya ini…

Seperti ang sudah saya tulis di awal, saya tidak membaca synopsis buku ini sebelumnya, maka saya sedikit kaget ketika saya disuguhi isu tentang agama yang sangat kental di buku ini. Bukan agama dalam arti syiar sih, tapi tentang perbedaan cara beribadah, cara pandang dan lain sebagainya dari agama major di negeri ini, yang sering kali diwarnai olik-olokan yang sejauh pengalaman saya, tidak pernah berakhir dengan perkelahian layaknya di novel ini. Mengambil judul Kambing dan Hujan, rupanya si penulis ingin memberi analgi, si kambing yang tak akan pernah bisa berdamai dengan hujan. Eeeeehh…begitu kah? Saya kok baru tau? :D

Miftahul Abrar alias Mif dan Nurul Fauzia adalah pasangan muda dari sebuah desa kecil di Centong, Surabaya. Mereka berasal dari satu desa yang sama, tapi tak pernah mengalami masa kecil bersama, meski memiliki orangtua yang seharusnya sedekat saudara, tapi masalah masa lalu membuat Mif dan Fauzia tak pernah kenal satu sama lain. Takdir membawa mereka saling bertemu dan akhirnya jatuh cinta dan berjanji ke jenjang selanjutnya. Namun apa daya, para orangtua yang angkuh dan dingin, menjadi batu sandungan yang tidak bisa dielakkan.

Jumat, 17 Juni 2016

Maya by Ayu Utami


Paperback 249 halaman
Published December 2013 by Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Rating 4/5
Ada yang serasa saya temukan ketika saya membaca synopsis buku ini setelah sekian lama tak bersua, Saman. Nama ini serasa hilang begitu saja ketika saya menyelesaikan buku Saman. Lama tak berkabar, dan tiba-tiba sosoknya muncul, memberi kabar. Meski, yah, saya harus menelan kecewa karena kabar Saman tetap kabur. Saya jadi merasakan kesedihan Yasmin yang kehilangan Saman. Well, buku ini memang ditulis untuk peringatan 15 tahun terbitnya buku Saman dan Reformasi. Membaca ini saya merasa ingatan saya terbetot kesana kemari, ke tahun tahun kegelapan jaman lengsernya bapak pembangunan tahun 1998.
Yasmin harus ke Padepokan Suhubudi untuk mengetahui kabar Saman setelah ia menerima surat-surat dari Saman, kekasih gelapnya. Selain surat, terselip juga satu batu mulia yang hanya Suhubudi bisa menjelaskan tentang batu itu. Di sana, ia bertemu dengan Parang Jati, cowok bermata bidadari dengan jari dua belas, anak angkat Suhubudi. Sementara menunggu Suhubudi yang tengah sowan ke Istana Presiden, Yasmin disuguhi sebuah kesenian luar biasa dari Padepokan, sendratari Ramayana. Sendratari ini berbeda dari sendratari umumnya yang memamerkan keindahan tarian para penarinya, sendratari ini adalah tarian bebayang mirip Attraction yang sempat mencuri perhatian saya di Britain's Got Talent. Jika di pagelaran Attraction, di depan dan belakang layar menampilkan keindahan fisik penarinya, sendratari Ramayana dari Padepokan Suhubudi ini sebaliknya. Orang orang deformatif yang tak pernah terbayang bakal tampil di panggung sendratari. Kumpulan orang-orang aneh, cebol, raksasa, albino, dll, memang 'dipelihara' oleh Suhubudi di belakang Padepokannya dan mereka inilah yang menarikan kisah cinta Rama dan Sita. Ada perasaan syur (meminjam kata Ayu Utami di novel ini) membayangkan sosok sosok deformatif ini menampilkan keindahan di balik layar.

Kamis, 09 Juni 2016

Detroit Metal City vol 1 & 2 by Kiminori Wakasugi


Read scanlation on Android app
Rating 3, 5/5

Seperti yang sudah pernah saya tulis di review sebelumnya, selalu ada alasan untuk membaca satu judul buku. Sama dengan Memoirs of Teenage Amnesiac, kali ini alasan saya masih sama, Ken'ichi Matsuyama hahaha... Terus terang, ketika saya suka dengan satu aktor, saya bakal kepo dengan segala berita dan terutama film2 yang idola saya bintangi. Demikian juga dengan komik kocak ini. Live actionnya dibintangi oleh Matsuken. Ihiiirrrr.....

Di awali dengan keberangkatan Soichi Negishi ke Tokyo dari desanya yang kecil dengan membawa mimpi menjadi mahasiswa di kota besar, menjadi cowok yang fashionable dan mengejar cita cita idamannya, menjadi penyanyi pop terkenal. Sayang beribu sayang, meski cukup dianggap berbakat di musik pop oleh beberapa gelintir teman kuliahnya, dan cewek taksirannya, audience Negishi di tempat ngamen hanya seekor anjing! Puk puk Negishi. Yang mengejutkan adalah justru Negishi menjadi penyanyi luar biasa populer di jalur yang tak pernah ia bayangkan! Death Metal! Aliran musik setan dengan syair merusak nan porno dan kasar ini justru melambungkan dirinya di jajaran musik death metal. Yup, keisengannya mendaftar sebagai vokalis yang semula ia tak tahu menahu mendamparkannya di Detroit Metal City. Dandanannya cukup menyembunyikan identitas asli Negishi yang sebenarnya pemalu dan agak melambai. Dengan tulisan 'KILL' di keningnya, Negishi menjelma menjadi Krauzer II yang diidolai banyak orang. Konsernya selalu penuh, CD nya laris di toko musik, fansnya rata rara garis keras semua, berbanding terbalik dengan mimpi awal Negishi.

Rabu, 01 Juni 2016

Battle Royale by Stella Furuya


Paperback 228 pages
Penerjemah
Published 2013 by Zettu
Rating: 1,5/5

Jauh sebelum saya memutuskan membeli buku ini, saya sudah punya file film Jepang yang terkenal sadis, bloody nan gory ini. Saya juga sudah mendengar bahwa novel ini konon yang menginspirasi Suzanne Collins menulis trilogi Hunger Games, hanya jauh lebih tidak manusiawi. Tapi entah kenapa, ketika melihat buku ini dipajang di salah satu olshop buku langganan saya di Facebook, saya tertarik membelinya. Jika saya sering tak kuat melihat cipratan darah di film-film, saya berpikir, mungkin saya lebih 'tahan' dengan cipratan darah ini dalam bentuk tulisan. Ngga ada salahnya jika saya membacanya, siapa tau saya menemukan keasyikan tersendiri dengan kisah sadis nan berdarah-darah ini.

Ternyata saya salah.

Ceritanya ngga asyik sama sekali. Saya sebal dengan semua karakter disini, gaya penulisan yang mirip penulis amatir, terlalu banyak dialog dibanding narasi jadi mirip naskah drama dibanding novel, typo yang bertebaran, karakter yang terlalu banyak tapi tak jelas personality alias sifat karakter yang tak jelas. Pokoknya saya menyesal membaca buku ini!!! :-!