Senin, 25 Juli 2016

Sylvia's Letters by Miranda Malonka




Ebook Ijakarta, 204 pages
Published April 6, 2015 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 3,5

Apa yang menjadi persoalan bagi para remaja saat ini? Krisis percaya diri? Orangtua yang dominan? Jam sekolah yang terlalu padat? Stress karena terlalu banyak belajar dan terlalu banyak kursus sesuai keinginan orangtua?  Atau mungkin terlalu percaya diri yang kebablasan, hingga segala kehidupan pribadinya terekspos habis-habisan demi menjadi semacam goals bagia orang lain? Seperti yang sedang viral sekarang ini, remaja baru lulus SMA yang heboh menjadi idola abegeh sekaligus menjadi gunjingan para orangtua, atau para mantan remaja. You know what mean. (Ga mau membuat dirinya makin terkenal dengan menyebutkan namanya disini :))

Sylvia, remaja SMA 16 tahun, seperti banyak karakter yang ada di novel novel remaja yang saya baca, adalah gadis biasa yang lebih memilih tidak terkenal, suka melukis abstrak yang disesuaikan dengan mood- nya saat itu, jatuh cinta jungkir balik dengan Anggara, dan memilih menulis surat-surat nan panjang dengan tangan, alih-alih mengungkapkan perasaannya pada cowok itu. Meski Sylvia ini seperti gadis biasa umumnya, tapi ternyata ia memiliki penyakit tentang tubuh ideal. Dia terobsesi dengan tubuhnya sendiri yang berasa gendut, terobsesi menghitung segala kalori yang masuk dan berapa kalori yang harus dibuang demi mendapatkan tubuh kurus idamannya. Tidak disebutkan, Sylvia ini mengidolakan siapa hingga ia memiliki obsesi macam ini. Ia hanya khawatir ia tidak cukup kurus untuk berada disamping Anggara. Yup, benar, Sylvia ini ternyata mengidap bulimia nervosa, penyakit yang kurang umum diidap remaja di Indonesia. 

Minggu, 24 Juli 2016

Wishful Wednesday #43




Holaaaaaaaaa……

Loamaaaaa sekali saya ngga posting buku incaran saya di Wishful Wednesday. Yang terakhir nomor berapa saja saya kudu liat posting-an saya dulu hahahha… Lha terus? What a tumben ikutan WW yang di posting bukan hari Rabu pulak? Eeerrrrr…… segala sesuatu terjadi karena suatu sebab tentunya…tsaaaahhh… Yeah, sebabnya adalah WW yang diadakan oleh blog perpuskecil.wordpress.com ini sedang merayakan postingan WW-nya yang ke-200!!!! Wwwooowww…. Hebaatt… saya kok ngga bisa se-intense itu atau Bahasa -nya Mamah dan AA’, se-istiqomah ituuu…mwahahaha… Oya, dalam rangka merayakan posting ke 200-nya, si pemilik blog, Astrid Lim, bagi-bagi kebahagiaan voucher, @Rp. 120.000 untuk TIGA pemenang yang beruntung…. Waaaahhh… siapa yang ngga ngeceesss…. :D

Kali ini saya mau share buku incaran saya. Setelah menimbang, menilik, menengok, browsing sana sini, menghitung (pengennya sejumlah hadiah voucher-nya, ga mau rugi J ), akhirnya saya memutuskan untuk memilih dua buku ini. Yang pertama sih sepertinya saya yaqin masih available, yang kedua…semoga masih ada…

A Monster Calls  (Panggilan Sang Monster) by Patrick Ness

Bisa dibeli di bukukita.com

Saya pernah membaca buku ini, sekedar membuktikan kata teman0teman saya yang bilang membaca buku ini berasa gloomy-nya. Saya sendiri memang sedih membacanya, tapi karena waktu itu saya barengan membaca Titik Nol-nya Agustinus Wibowo yang setebal itu, yang gloomy dari awal hingga akhir, saya jadi  ingin mengulanginya dalam bentuk paperback dengan ILUSTRASI pulaa...  Waahh.... ngga sabarr..

Simple Miracles by Ayu Utami


Bisa dibeli di bukukita.com

Dari sekian buku Ayu Utami, buku inilah yang sudah susah mencarinya, bahkan di Ijak pun saya tak menemukan buku ini. Padahal jikalo saya tak bisa memiliki paperback-nya, saya rela hanya membaca di Ijak ^_^

Last but not least, selamaaattt buat perpuskecil.wordpress.com dengan poatingan WW-nya yang ke 200. Semoga semakin eksis blognya, pemiliknya, dan isi postingannya….. #ngrayuuuu hahahaha…




Sabtu, 09 Juli 2016

The Chronicles of Audy: O2 by Orizuka

Mejeng di Pantai Tirang (itu cuma nggaya)


Paperback 364 pages
Published Juni 2016 by Penerbit Haru
Rating 4/5


Aku udah bikin rencana baru untuk masa depanku. Setelah lulus nanti, aku akan balik kesini untuk jemput kamu, terus lanjut S2 di sana sambil kerja,” kata Rex lancar (halaman 37).


AAAAPPHAAAAAAAAAAAAAA?????!!!!

Jangankan Audy, saya juga melongo, mangap, megap-megap. Ituuu…yang ngomong anak umur 17 tahun yang habis lulus SMA? Dia mau ngajak Audy men…..? HAAAAHHH????

Well, sebagai Rex, yang bisa dihitung jumlah joke-nya dalam hidupnya yang baru 17 tahun itu, nampaknya ini bukan joke yang ia lontarkan begitu saja. Dia SERIUS. Saya ulang, SSERIUUSSS, mungkin bahkan DUARIUS! Dengan adanya lamaran yang tidak langsung ini, bagaimana seorang Audy melanjutkan hidupnya di rumah 4R tanpa merasa ada beban? Hhmmm…. 

Di buku terakhir ini, Audy sedikit berkurang lebay-nya meski tetap lebay sih tapi tidak terlalu bikin dongkol seperti di buku sebelumnya. Peran Audy lebih terasa berguna disini, bukan berarti dia tidak berarti di buku sebelumnya sih, Cuma kadar lebay-nya agak berkurang hahaha… Kisahnya masih seputar Audy-Rex yang dekat tapi jauh, yang dingin tapi hangat, hasyah… :D Juga Romeo dengan sisinya yang selama ini tidak terlalu dieskpose. Romeo ini semacam Audy cewek dengan segala kecuekan dan kekonyolannya, tapi ternyata di dalam hatinya dia memiliki perasaan yang selama ini ia sembunyikan. Ciyeee… Jadi terharu saya… Dan, seperti yang ada di review saya di buku 3, hubungan Rex dan Rafael memang tidak terlalu dekat, hingga muncullah misi bonding antara Rex-Rafael yang diprakarsai oleh Audy dan Romeo. Ada saja ide dan kekonyolan yang mereka lakukan. Saya sampai ngakak sekaligus trenyuh. Anak usia lima tahun seperti Rafael tak pernah kenal permainan gelembung sabun? Kemana saja kau, nak? Apa saja yang dilakukan kakak-kakakmu selain mengajarimu game dan membaca National Geography? Bahkan lagu anak-anak pun baru kau dengar setelahh kau masuk sekolah ckckckck… 

Jumat, 08 Juli 2016

The chronicles of Audy: 4/4 by Orizuka


Paperback 320 pages
Published Juni 2015 by Penerbit Haru
Rating 3,5/5

"Kamu adalah entitas yang jadi kelemahan sekaligus jadi kekuatanku". (Rex pada Audy)
Kyaaaaaaaaa..... kalo ini adegan di manga, pasti sorot mata Audy sudah bersinar-sinar keluar berbentuk lope lope mwahahaha....

Setelah pernyataan cinta, eh, bukan penyataan suka Rex pada Audy di buku dua (my review) dan rencana pernikahan Regan-Maura sudah fix, ternyata hidup Audy tetap berlanjut.  Padahal sebelumnya ia cukup heboh dengan ilusi, delusinya sendiri bakal kehilangan 4R ini. Berlanjut dengan tenang kah? Iya kalo dia tidak terlalu lebay dengan urusan kupu-kupu di perutnya untuk masalah Rex ini. Tanpa ia sadari, kupu-kupu itu menjelaskan perasaan nya pada Rex seperti apa. Belum lagi urusan skripsinya yang makin kacrut karena otaknya malah dicekoki dengan urusan peningkatan IQ, sekedar menyamai genius nya seorang Rex.

Di buku tiga ini, keluarga 4R memang cukup membuat saya ketagihan ingin mengetahui lebih lanjut seperti apa kehidupan mereka selanjutnya. Audy menjadi semacam bumbu penyedap, atau mungkin jika di sebuah wayang, kehadiran Audy ini semacam goro-goro alias intermezzo untuk meregangkan urat setelah ketegangan di dunia pewayangan. Audy semakin memantapkan opini saya seputar karakter khas cewek di drama-drama Asia, cewek yang merasa kurang cantik, IQ biasa-biasa saja, baik hati, selalu menempatkan orang lain di atas urusannya sendiri. Terkadang saya  gondok dengannya. Urusan skripsi yang seharusnya mendapat prioritas utama ia kesampingkan begitu saja demi mengecek apakah Rafael baik-baik saja. Alih-alih membuktikan kekhawatirannya itu beralasan, ada lagi alasan yang membuat ia terlihat bodoh di depan banyak orang. Huh!!! Audy ini rupanya tidak bisa belajar dari pengalamannya sendiri.

Kamis, 07 Juli 2016

Posbar Juli- Bacaan Liburan



Horeee... Libur telah tibaaaaaa...

Sebelumnya saya kurang yakin bakal baca buku apa selama liburan Lebaran, karena yah, timbunan film cukup menggoda untuk ditonton. Tapi ternyata saya mendapat setumpuk buku pinjaman dari teman kantor, dengan imbal balik saya minjami dia juga sih ;)

Nah, ini dia timbunan pinjaman itu. Sesuai rekuwes, 4 seri The Chronicles of Audy, dan dua novel grafis. Dari 6 buku, saya sudah kelar membaca 4 diantaranya. Review sih belum semua hehehe.

1. The Chronicles of Audy 4R by Orizuka
2. The Chronicles of Audy 44 by Orizuka
3. The Chronicles of Audy 21 by Orizuka
4. The Chronicles of Audy O2 by Orizuka
5. The Dragon Next Door by Jeung Sol Cho (review cukup di Goodreads :))

Nah, mana bacaan liburanmu? :D

Rabu, 06 Juli 2016

The Chronicles of Audy: 21 by Orizuka



Paperback 308 pages
Published Juli 2014 by Penerbit Haru
Rating 3,5/5 

Ternyata keluarga 4R ini cukup bikin ketagihan ya, mungkin juga karena semua serinya sudah ada di tangan, jadi ya, kelar satu, lanjut berikutnya. Dan, mumpung libur Lebaran. Yay!

Dari buku pertama yang sudah saya review disini, Audy, si gadis suka ngelamun ini akhirnya diterima dengan tangan sangat terbuka di keluarga 4R. Meski sebelumnya ada drama cinta sebelah tangan, tapi ia tetap ingin tinggal. Keterikatannya dengan keluarga itu, terutama pada Rafael, balita genius tapi judes itu, membuatnya melupakan luka hatinya. 

Di buku dua ini, penulis membawa para pembacanya mengenal lebih dekat dengan masing-masing karakter 4R. Sebelumnya kita lebih mengenal Regan dengan deskripsi ganteng terus-terusan oleh Audy, kali ini kita dibawa lebih dekat dengan Rafael dan Rex. Rafael yang semula menolak bersekolah, dengan bujuk rayu Audy akhirnya menyerah untuk bersekolah dan rupanya ia cukup menikmati sekolahnya meski tadinya tidak mudah. Gaya ngomong dewasanya mulai berkurang, demikian juga dengan perasaannya. He is just a 5 years old after all. Yang mengejutkan adalah perkembangan pribadi Rex yang tiba-tiba bertingkah aneh. Suka memandang Audy lama, dan diam. Dan tiba-tiba sesak napas. Yeah, Rex, bisa dibilang agak lumayan ' normal' dibandingkan Romeo dan Rafael. Yang paling normal mungkin adalah Regan, tapi dia kan memang kepala rumahtangga. Keanehan Rex berlanjut dengan pernyataan bahwa ia suka pada Audy! Kyaaaaa.... Anak 17 tahun naksir mbak-mbak 5 tahun lebih tua. Hmmmm... banyak sih yang bahkan lebih banyak jarak usianya. Contohnya saja mas Kenny. Kenal mas Kenny? Itu lo, Ken'ichi Matsuyama, pemeran L di Death Note, dia menikahi kekasihnya yang 9 tahun lebih tua. Huhuhuhu..... Saya cemburuuuuuu.... #lhahmalahcurhat :D Lucunya, Rex yang dikenal genius ini tetap cool dengan perasaannya, justru Audy yang kebat kebit, salah tingkah mulu, lebay melulu. Hasyah..... 

Senin, 04 Juli 2016

The Chronicles of Audy:4R by Orizuka


Paperback 320 pages
Published Mei 2015 by Haru
Rating 3/5 

Saya sudah cukup penasaran dengan Kronik Audy ini jauh sebelum saya membaca novel ini. Duluuu, novel ini sempat jadi topik obrolan panjang di grup, antara mereka yang suka dan kurang suka, hingga ada yang mengatakan bahwa ide dasar novel ini sanggaatt mirip dengan dorama Jepang, Atasinchi No Danshi (My Boys--More Than Family but Less Than Lovers) yang tayang 2009 lalu. Saya sendiri pernah membaca beberapa karya Orizuka, dan pernah sangat suka dengan satu novelnya berjudul Fate pada saat saya masih gandrung Korean Drama, tapi pernah ilfeel dengan karyanya yang lain, Infinitely Yours. Jadi ketika membaca ini, saya tidak terlalu berekspektasi tinggi, apakah saya bakal suka atau tidak. :D 

Audy Nagisa, 22 tahun, nyaris menyelesaikan kuliahnya yang tinggal menyusun skripsi ketika bencana itu datang. Orangtuanya bangkrut, tak mampu lagi membiayai kuliah dan kos-nya yang sudah nunggak 3 bulan. Tanpa uang, tanpa skill yang berarti membuat ia melamar pekerjaan sebagai babysitter di sebuah lowongan pekerjaan. Tanpa wawancara yang berarti, ia diterima. Resmilah Audy menjadi babysitter di rumah keluarga 4R. 4R? Apa itu? Atau tepatnya siapa itu? 4R seperti yang tertulis di kotak pos depan rumah itu ternyata singkatan dari Regan, Romeo, Rex dan Rafael, empat pemuda cakep-cakep dengan inisial R sebagai awal nama mereka. Cakep2? Betah dong Audy dikelilingi 4 cowok cakep? Hmmmm... Ternyata Audy tertipu dengan kontrak kerja yang disodorkan oleh Regan. Alih-alih bekerja sebagai babysitter menjaga baby, yang ternyata si baby sudah tak lagi bayi karena ia berumur 4,5 tahun, Audy lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Itu berarti lowongan sebagai babysitter hanya kamuflase saja karena yang lebih banyak ia lakukan adalah bersih-bersih rumah. Babysitter a.k.a asisten rumah tangga! 

Jumat, 01 Juli 2016

Shigatsu Wa Kimi No Uso by Naoshi Arakawa Part 2




English title: Your Lie in April
Read via manga browser in Android app
Rating 4/5

Sebelumnya, saya sudah mrview sekilas disini, saking kepenginnya saya nulis review manga ini. Waktu itu saya baru membaca sekitar 20 chapter dari 44 chapter. Dan dari 23-an anime-nya saya baru nonton 10 episodes. Meski, yah, saya sudah kena spoiler gegara membaca komen-komen di YouTube. Aaaarrgghh…. Tapi tetep saja semangat menyelesaikan manga yang bikin sesek sampe mewek di akhir cerita.

Seperti yang sudah saya tulis di review sebelumnya, Arima Kousei adalah seorang prodigy dengan kemampuan bermain pianonya. Sejak kecil, ia sudah disiapkan ibunya untuk menjadi pianis ternama, mewujudkan cita-citanya yang tidak kesampaian karena sakit-sakitan. Karena obsesi ibunya itulah, Kousei menjadi bulan-bulanan ibunya dalam berlatih. Tidak jarang pukulan mendarat pada tubuhnya di usianya yang masih 5 tahun, melwatkan waktu bersama dengan sahabat terdekatnya, Sawabe Tsubaki. Namun hasilnya memang sangat setimpal. Kouse menjadi juara berturut-turut di berbagai festival music, menjadi idola disana sini, termasuk menjadi role model bagi para penontonnya sekaligus musuh bebuyutan di festival music kelak. 

Setelah ibunya meninggal dunia, Kousei terpuruk. Dia seperti dikutuk ibunya dengan hilangnya suara piano ketika ia sedang memainkannya. Sebutan sebagai Mother’s puppet, human metronome menjadir rumor dan bisik-bisik seputar dirinya menjadikannya berhenti bermain piano. Setelah 2-3 tahun  berlalu, muncullah Kaori Miyazono, pemain biola yang bersekolah di tempat Kousei belajar. Dengan dalih menunjuk Kousei sebagai partner bermainnya dalam festival biola, Kaousei kembali ke dunia panggung. Berusaha berperang melawan rasa takut, khawatir dan bayang-bayang ibunya yang seakan menjadi hantu di tiap pojok auditorium. Kaori sendiri, sepertinya model ‘won’t take No as an answer’.