Kamis, 26 Januari 2017

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan


Ebook, Ijak Application, 256 pages
Published Maret 2014 by Gramedia Pustaka Utama 
Rating 3/5

Setelah membaca Corat Coret di Toilet, sebenarnya saya ngga pengen baca EkaKur yang lain dulu karena agak kecewa dengan CCdT. Bukannya apa-apa sih, dulu saya sempat suka dengan Cantik itu Luka, meski tremor nggendong bukunya. Tapi CCdT kurang nendang buat saya. Eh, Kok terus nemu di Ijak and available di pinjam pula, ya sudah. Baca deh :))

Berkisah tentang dua sahabat, Aji Kawir dan Si Tokek (nama absurd yang jarang ada yang punya). Seperti umumnya remaja, mereka mulai mengeksplor tentang seks. Sampai lah mereka pada pengalaman mendebarkan di rumah janda gila setelah kematian suaminya. Bukan. Bukan mereka yang melakukan adegan tak senonoh pada janda itu, melainkan dua oknum polisi yang memperkosa si janda. Pertunjukan mendebarkan bagi dua remaja yang langsung merasakan ada sesuatu menggembung di selangkangan mereka. Sayang, pertunjukan itu harus terhenti karena Aji ketahuan mengintip. Dia digelandang masuk dan disuruh melakukan hal yang sama seperti dua oknum polisi tadi. Alhasil, burung Aji Kawir ngeper dan tidur. Panjang. Sekali.


Selama bertahun-tahun, burung Aji Kawir tak mau bangun, bahkan dengan gadis yang ia cintai pun, ia tak bergeming. Tetap anteng dalam tidurnya. Meski dalam kehidupan sehari-harinya Aji Kawir sama sekali tak bisa dibilang anteng, pelampiasan tak bisa berdirinya si burung, ia menjadi sosok berangasan yang tak mengenal rasa takut atau sakit. Hingga ia akhirnya bertemu Iteung, gadis jago berkelahi yang sempat membuatnya babak belur, tubuh dan hatinya. Meski Iteung membalas cintanya, apalah arti cinta jika tak didampingi dengan burung yang bisa bangun? 

Kehidupan Aji Kawir tetap berjalan, berbagai pengalaman ia jalani, dari mulai anak remaja ababil, tukang bunuh bayaran, keluar masuk sekolah dan penjara, hingga menjadi sopir truk. Selama itu pula si burung tidur lelap. Alih-alih semakin berangasan, Aji Kawir justru mempelajari sesuatu dari si burung, mempelajari ketenangannya sekaligus kearifannya. Segala tindak tanduknya, ia konsultasikan pada si burung. Bahkan tantangan hidup dan mati serta godaan membangunkan si burung dari tidur lamanya pun ia tanggapi dengan bijaksana. Hebat.

Well, sinopsis novel ini menyebut sesuatu yang berhubungan dengan rezim kekerasan, saya pikir saya bakal menemukan kisah tentang kekerasan politik, tapi ternyata saya salah, novel ini melulu tentang kisah si burung tidur milik Aji Kawir. Lebih dari seperempat pertama novel ini berpusat pada si burung, hingga saya sedikit merasa ilfil, apa begini ya wajah sastra yang ditawarkan EkaKur di novelnya? Karena penasaran, saya yang tadinya mau menutup novel ini, masih saya lanjutkan membaca. Sesekali skip di bagian kurang penting macam pertarungan gebuk-gebukan, atau kebut-kebutan truk ala Aji Kawir VS. Si Kumbang. Setelah si Aji Kawir sadar tentang filosofi di burung, saya baru ikut mengangguk-angguk. Oh, begitu? Lalu? Sesuai judul, saya pikir, novel ini bakal ditutup dengan sembuhnya si burung yang dirindukan pemilik nya segera bangun, dan ketika bangun ia akan membayarnya dengan tuntas. Bagaimana caranya? Ya tentu saja membayar dendam ala burung tidur hahahaha... Jawabannya silahkan baca sendiri novel setebal 256 halaman di Ijak. Lumayan ringan meski sesekali menginginkan saya pada novel-novel 17+. Diksi yang vulgar dan adegan yang juga vulgar mungkin sudah menjadi signature EkaKur. Yah, bersiap saja buat yang pengen berkenalan dengan EkaKur. 

1 komentar:

  1. Gantian, setelah cantik itu luka membahas perempuan, di novel ini giliran laki-laki yang jadi bahasan 😁
    Kalo kata yen, ukuran 'nendang' tidaknya novel Eka Kurniawan relatif bergantung selera masing-masing.
    Btw, nice review. Gaya bahasanya greget hihi

    BalasHapus