Sabtu, 18 Maret 2017

Psychic Detective Yakumo: The Red Eye Knows by Manabu Kaminaga




Paperback 360 pages
Published 2016 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Mohammad Ali
Rating: 4/5

Setelah membaca buku keduanya, saya dengan senang hati membaca buku pertamanya, meski sebelumnya, saya sudah menonton beberapa episode manga-nya. Sayangnya, saya justru kurang suka dengan versi manga-nya, karena durasi yang terlalu atau sebab lain, kurang tau juga. 

Berbeda dari buku keduanya yang hanya mempunyai satu cerita, buku pertama seri Yakumo ini memiliki 3 cerita yang berbeda. Oke, yuk, review sekilas dari masing-masing ceritanya. Semoga terhindar dari spoiler :D

Cerita pertama berjudul Ruang Terlarang. Cerita dibuka dengan kelahiran Yakumo dengan bantuan dokter yang nantinya ada di buku kedua. Cerita ini sebenarnya sudah saya tonton versi manga-nya, tapi entah kenapa, versi bukunya ini tetap membuat saya merinding seram. 

Haruka Ozawa, mahasiswi di kampus yang sama dengan Yakumo, mendatangi Yakumo di ‘persembunyiannya’. Tmpat persembunyiannya ini sebenarnya memiliki nama resmi ‘Klub Film’ u=yang sekilas seperti klub ekstrakurikuler mahasiswa kampus setempat. Tapi kenyataannya, ini adalah tempat dimana Yakumo tidur dan berkegiatan sehari-hari. Haruka mendatangi tempat Yakumo demi satu tujuan, menolong temannya, Miki, yang kesurupan setelah melakukan uji nyali di sebuah ruangan terlarang. Dari saran seorang temannya, Haruka mengunjungi Yakumo dengan harapan ia bisa membantu menyelesaikan masalah Miki.

Menggunakan mata kirinya yang sejak lahir merah, Yakumo bisa melihat arwah dan bahkan berkomunikasi dengan mereka. Meski terkesan ogah-ogahan, Yakumo setuju menolong Haruka menyelesaikan masalah sahabatnya, Miki. Berbondong-bondonglah mereka menuju TKP. Disana, tidak hanya masalah Miki dan kawan-kawan yang bisa diselesaikan, tapi juga trauma masa lalu Haruka juga terselesaikan.

Kisah kedua mengambil judul Kegelapan dari Terowongan. Di kisah kali ini, saya merasa lebih banyak penampakan hantunya. Lebih mencekam. Suatu hari, Haruka yang mengikuti sahabatnya di acara semacam perjodohan, pulang diantar seseorang yang ia kenal di acara tersebut, Tatsuya. Bisa ditebak dari judulnya, mereka pulang melewati terowongan berhantu itu. Penampakan pertama muncul menyisakan dugaan dalam benak yang saya. Apakah ini hantu yang memang bergentayangan di terowongan itu atau hantu yang berhubungan dengan Tatsuya?

Meski merasa enggan, akhirnya Haruka memutuskan untuk meminta bantuan Yakumo. Celetukan Yakumo terhadap apa yang dilihat oleh mata kirinya, cenderung membuat dugaan-dugaan yang ternyata meleset. Hahahaha…. Kemunculan Inspektur Gouto disini semakin memeriahkan suasana. Kebiasaan merokoknya menjadi bulan-bulanan Yakumo. Adu mulut antara keduanya juga membuat ngakak.

Cerita ketiga berjudul Pesan dari Orang Mati. Sepertinya, Haruka, meski ia tidak bisa melihat hantu, tapi sejak perkenalannya dengan Yakumo, hantu menjadi ‘suka’ padanya :D . Kali ini ia mendapat penampakan sahabatnya yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya dengan genangan darah di sekitarnya. Dengan kurang nyaman, Haruka kembali meminta bantuan Yakumo. Dan dengan ogah-ogahan, Yakumo kembali membantunya. Kali ini cerita Haruka ternyata menjadi latar belakang pembunuhan dan sederet kasus yang tengah ditangani Inspektur Goutou. Cerita semakin berbelit, dengan kemungkinan banyak twist dan dugaan yang membuat saya semakin penasaran.

Well, sebenarnya saya membaca buku pertama Detektif Yakumo ini dari buku dua. Jika buku keduanya saya, entah kenapa, kurang merasa cocok dengan terjemahan atau mungkin joke yang ada, tapi buku pertama ini justru membuat saya ngakak-ngakak. Penekanan deskripsi Yakumo masih berulang-ulang. Iya iya, rambut Yakumo itu selalu berantakan, matanya selalu mengantuk, kebiasaannya yang tidur di jam-jam tidak biasa. Tapi ya sudahlah, mungkin itu mungkin menjadi trade mark joke dari penulisnya. Oya, meski saya sudah menonton beberapa episode anime-nya, tapi saya tetap menyukai light novel ini. Chemistry antara Yakumo – Haruka, meski baru bertemu dan saling memiliki penilaian yang berbeda, justru itu saling melengkapi karakter keduanya. Sepertinya saya mulai ketagihan cerita detektif setengah dukun ini. Oya, bagi kalian yang suka horror, novel ini cocok. Tapi yang kurang suka dengan cerita berhantu, jangan sekali-kali membaca novel ini di malam hari. Dengan sedikit imajinasi, horornya akan semakin berasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar