Senin, 10 April 2017

Suka Duka Membaca Ebook




Saat ini, siapa sih yang ngga membaca ebook alias electronic books? Apalagi di jaman semuanya  serba digital begini. Dari mulai toko buku online, hingga perpustakaan online gratis sampai semacam digital library berbayar. Sebenarnya, jauh sebelum era Android dengan segala keajaibannya, saya sudah sangat akrab dengan segala macam berbau ebook, dari mulai menggunakan hape yang berbasis javascript hingga Symbian. Semuanya bisa saya sulap menjadi ebook reader. Segala aplikasi waktu itu sudah tersedia di internet. Yang saya lakukan hanya meng-convert sesuai operating system hp yang saya punya. 

Membaca ebook memang sebenarnya sangat menyenangkan, apalagi buaat saya yang dari dulu suka utak atik format ebook, tapi tidak berarti tidak beresiko, apalagi buat saya yang sudah bermata empat ini, tergolong parah pula. Hikssss… tapi tetap saja saya masih cinta ebook hahahaha…

Nah, di era digital ini, ada banyak aplikasi yang bisa diunduh dan diinstal di smartphone, dari mlai yang gratis hingga berbayar. Saya pribadi memiliki 4 aplikasi membaca di tablet saya, ditmabh satu, manga browser, aplikasi membaca manga. Jadi 5 dong ya hahaha…

Nah, berikut saya mau share sedikit pengalaman suka duka memakai aplikasi tersebut. 

Google Play Book

Yang ini hampir semua smartphone berbasis android secara otomatis memilikinya (meski tidak semuanya juga sih). Nah, pengalaman saya memakai aplikasi ini sedikit banyak cukup menyenangkan meski ada juga beberapa keanehan. Lho, aneh? Iya, aneh hihihi…

Jadi begini, saya mau share hal-hal yang menyenangkan dulu ya…

-          Saya bisa upload buku yang saya download di aplikasi ini. Pada awalnya, ketika saya memakai Aldiko, saya merasa memakai Google Play book itu merepotkan. Mau membaca saja saya kudu upload dulu. Tapi setelah tau ternyata buku yang sama bisa saya baca di gadget lain milik saya, wow… asyik juga. Ngga itu saja, halaman terakhir yang saya baca di tablet, bisa menyesuaikan secara otomatis ketika saya buka di hp.
-          Fasilitas dictionary juga tersedia di aplikasi ini, jika smartphone-mu tak memiliki built in dictionary, selama membaca buku di Googl Play book jangan lupa mengaktifkan data ya. Bisa pilih Bahasa apa yang dimau.
-          Fasilitas copy-paste, highlight, hingga besar kecil font dan space, bisa diatur. Selain itu, brightness bisa diatur seminim mungkin hingga cukup nyaman membaca dengan penerangan ruangan yang minim.
-          Hal aneh yang saya rasakan ketika saya menggunakan aplikasi ini adalah saya sering kesulitan meng-upload buku. Ketika selesai men-download satu buku, biasanya gadget akan bertanya, aplikasi apa yang akan digunakan? Nah, upload ini hanya bisa berlangsung mudah di hp saya, dan selalu gagal upload menggunakan tablet saya. Aneh bukan? Hmmm… selama masih bisa sih, mari lanjut membaca di aplikasi ini hihihihi…
-          Oya, Google Paly book juga menyediakan store-nnya yang bisa dibeli menggunakan pulsa atau Credit card. Selama ini saya baru sekalai membeli di Google play book, dengan menggunakan pulsa.

Scoop




Beberapa bulan lalu, saya mulai menggunakan aplikasi ini. Bersama 4 teman saya lainnya, kami bersama-sama memiliki satu akun untuk menggunakan Scoop secara bersama-sama. Suka dukanya? Ada dong yaaa..
-          Sebagian besar buku-buku terbiatan Gramedia tersedia disini. Ngeces-ngeces pertama kali saya mempunyai aplikasi ini. Rasanya pengen men-download semua. Tapi apa daya, hasrat menimbun yang lebih besar dibandingkan membaca wkwkwkwk…
-          Font. Bagi pemasang aplikasi ini di tablet atau PC mungkin tidak terlalu memasalahkan font-nya tapi bukan mereka pemakai HP dengan layar minimal 5 atau 5,5 inchi, sering-seringlah minum jus wortel hahaha… Menggunakan format PDF, buku-buku di Scoop hanya bisa di zoom in saja bagi pengguna gadget berlayar kecil. Brightness juga bisa dilakukan dari setting gadget, bukan dari setting aplikasi Scoop. Jadi, yah, terimalah nasib pengguna Scoop bermata empat macam saya ini. Setiap selesai membaca dua atau tiga buku di aplikasi ini, saya kudu beralih ke paperback, karena mata berasa berkunang-kunang. Yah, look at the bright side lah, saya bisa tetap menghabiskan timbunan paperback meski memiliki banyak buku di Scoop :D


 Timbunan saya di Scoop

Bookmate

Saya memiliki aplikasi ini nyaris bersamaan dengan aplikasi sebelumnya. Bersama dengan 10 teman lain, kami bisa berlangganan langsung satu tahun dengan banyak buku-buku berbahasa Inggris. Beberapa bahkan tersedia buku-buku terjemahan milik Mizan dan Noura books meski tidak seluruhnya. Meski terlihat asyik, tetap saja ada minus plus-nya menggunakan aplikasi ini.

-          Sebelum saya berlangganan Bookmate, saya sudah memasangnya di HP saya, meski hanya beberapa buku yang free berkat user free upload. Yah, modal saya memang yang gratisan saja hahahaha…
-          Fasilitas di aplikasi ini hampir mirip dengan yang ada di Google Play book, dari mulai brightness, font, copy paste hingga dictionary. Kadang saya sendiri bingung, ini saya sedang membaca dimana ya? Amnesia hahahaha…
-          Berbeda dari Scoop yang meski kami berlima memiliki akun yang sama, tapi isi library berbeda-beda. Di Bookmate, semua teman yang memiliki akun yang sama, yang men-download buku ini, akan otomatis ter—download di gadget saya. Bayangkan saja, 11 orang dengan genre yang berbeda-beda, dan memiliki hobi menimbun yang sama, seperti apa isi library kami? Dari mulai kedokteran, hingga tips bagaimana menjadi kaya, percaya diri, dsb… 

 Ini adalah rak now reading

 Dan ini adalah rak read later
Ipusnas



Oke, ini sebenarnya aplikasi antara perlu dan tidak perlu. Dengan adanya 2 aplikasi sebelumnya, kenapa juga saya masih memasang aplikasi ini di gadget? Well, setelah era Ijak, Ijogja, dan segala digital library yang berawalan I itu, hanya Ipusnas yang masih terpasang di gadget. Ada beberapa buku yang tidak bisa saya temukan baik di Scoop atau Bookmate. Misalnya saja The Girl on the Train. Plus minus-nya? Ini dia..
-          Sebagai digital library, tentu saja peraturan Ipusnas hampir sama dengan aturann perustakaan konvensional, yaitu masa peminjaman yang terbatas. Jika di beberapa perpustakaan local aturan peminjaman bisa sampai seminggu atau dua minggu, di Ipusnas hanya 3-4 hari saja, belum lagi jika buku itu termasuk high demand. Setelah masa peminjaman berlalu, buku akan lenyap dari rak peminjaman kita, meski kau belum menyelesaikan bukunya.
-          Menggunakan format PDF, membaca buku di digital library ini miri- dengan membaca di Scoop, hanya bisa zoom in serta pengaturan brightness dari setting gadget. Tak ada fasilitas copy paste.
-          Cara membuka buku di digital library ini memiliki beberapa pilihan, scroll atas bawah, atau samping atau curl. Beberapa kali saya menggunakan scroll ke bawah, tapi entah karena licin, halaman yang saya baca tiba-tiba lari ke halaman jauh ke bawah. Jadi sekedar tips saja, sering-seringlah klik bookmark, untuk menghindari kejadian yang saya alami.

Hmmmm… sepertinya itu saja deh pengalaman suka duka saya membaca ebook. Punya pengalaman serupa atau berbeda dari yang sudah saya tulis? Silakan komen yaaaa…

22 komentar:

  1. karena layar hp kecil, aku sering make mode landscape buat alternatif zoom in. tapi efeknya tangan yg sering lelah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaaahh... pegel ituuu sekrol sekrolnyaaaa... #pukpuk tangan

      Hapus
  2. astagaa kamu masih aja instal ipusnaaas mbaaak *salut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Vin... aku masih kesengsem sama digital library inih....

      Hapus
  3. Saya hanya pakai Ijak.
    lumayanlah...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh... bang Epi sudah merambah Ijak.... tepuk tangaann... Ayok, beralih ke Scoop, bang... hihihihi...

      Hapus
  4. Timbunan ebook-mu mbak...hahaha *umpetin hape sendiri*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nimbun is a kind of guilty pleasure you cannot find anywhere else hahaha...

      Hapus
  5. Aku cuma tinggal scoop & bookmate yang ada di gadget, gak kuat kalo banyak² aplikasi πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu juga sudah bisa nimbun, mbaaakkk #eehh...

      Hapus
  6. sekarang favoritku itu scoop wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku masih mendua, meniga, mengempat, Dhil mwahahaha...

      Hapus
  7. Itu yang Scoop berarti mesti diubah lagi sistemnya kali ya Mba Lil. Sebagai pembaca e-book, aku kurang suka juga format pdf. Jadi aneh kalau kubaca di Koboku, apalagi ga ada fitur pdf re-flow (yang punya kalau g salah e-readernya Sony). Jadi epub tetep juarak :D

    Dukaku baca ebook sih..cuma kalau ada yang bilang baca ebook kayak ga baca buku aja :))))))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Format PDF emang kurang ramah buat ebook ya, Reenn... Kudu zoom in mulu, sampe jereng2 ni mata meski sudah pake tablet 8 inchi.

      Ah, masak ngga dianggap baca buku sih, Ren? Sedih doong...

      Hapus
  8. Sebelulnya aku kurang suka Ebook, bikin sakit mata. tapi kalo kepepet lagi bokek, dan pengen baca sesuatu (apapun deh) ya gak ada pilihan lain selain pakai scoop (lebih hemat soalnya), atau kalo bokeknya amat bokek ya terpaksa lagi harus baca di ijak atau i-i-lainnya...wkwkwk

    BalasHapus
  9. Aplikasi google play book aja udah makan ruang banyak. Apalagi punya 5 aplikasi dengan kegunaan yg sama? Wow!
    Awalnya aku cuma mengenal google play book satu-satunya aplikasi e-book, setelah baca postingan ini, baru sadar, ternyata aplikasi e-book banyak juga ya..

    BalasHapus
  10. Aku sih lebih suka buku fisik dibanding ebook karena lebih nyaman dibaca (tidak memancarkan sinar radiasi ke mata) .. Klo terpaksa baca ebook itu biasanya buku yg aku inginkan sulit ditemukan buku fisiknya sekarang ini.. Misalnya: aku punya koleksi lengkap ebook goosebumps vesi bhs inggris.. Menemukan buku goosebumps versi inggria sungguh langka.. Sampai ngubek-ngubek di toko buku import hanya dapet 4 buku πŸ˜‘ klo pas budget tipis, aku memilih pinjam buku di perpustakaan daripada baca buku digital.. Alhamdulillah perpus deket rumah, novel-novel nya lengkap baik bahasa inggris maupun indonesia.. . 😊

    BalasHapus
  11. Emang sih ya Scoop dan i-i itu masih kurang ramah sama gadget ukuran kecil. Padahal aslinya lumayan banget gitu buat memenuhi keinginan baca tapi ga punya duit. Sayangnya ga seenak yang format epub gitu. Eh tapi epub juga kalo ada gambarnya jadi suka ngasal ga enak.

    Tapi baca ebook emang masalah masih satu, mata cepet capek. Aku juga belum baca ebook lagi nih gegara capet :(

    BalasHapus
  12. Untuk aplikasi yang menyediakan e-book, aku baru pernah nyoba i-Jakarta dan Google Play Book. Emang sih, untuk beberapa e-book di aplikasi i-Jakarta kadang tampilannya suka beda dan kadag malah gak bisa di-bookmark! Akibatnya kudu inget2 halaman terakhir yang dibaca. Dan apesnya lagi, kalau bacanya udah lewat halaman 200, maka pegel bener itu kudu buka sampe halaman segitu. Hahahha. Tapi teteup gak kapok sih pake aplikasi i-Jakarta. Penasaran pengen instal yang i-Jogja karena katanya antrian bukunya lebih sedikit ketimbang yang di i-Jakarta, tapi apa daya, kapasitas HP terbatas banget! ^o^

    BalasHapus
  13. Aku juga suka baca ebook mbak. Dari zamannya hp masih jadul dan ebooknya berformat .txt wkwkwk. Sekarang terbantu banget karena adanya aplikasi ebook kece yang makin sini makin kece banget, ga bikin mata jereng. Btw, diantara list diatas, aku baru nyoba pake Bookmate dan suka ih, lengkap bukunya, bahkan yang free uploadnya pun banyak banget.

    Oh iya, kalau scoop dan google play ga ada buku buku yang free ya? Hahaha, harus berlangganan gitu ya?

    BalasHapus
  14. Ihh, aku jadi inget aku pengin banget bisa pakek Scoop. Sayangnya waktu itu hapeku nggak compatible :( Ehh, sekarang udah ada yang compatible, memorinya yang nggak ada.
    Jadi, sekarang masih bertahan pakai Aldico dan iJakarta. Hehe.

    BalasHapus
  15. siapa sih yang ngga membaca ebook alias electronic books?

    Saya! Haha.

    Nggak betul-betul nggak baca sih, tapi nggak negitu suka ebook kalau nggak terpaksa.

    Dari semua Apps yang disebutin, semua udah dicoba. Scoop udah dicoba juga, walau cuma coba install, cari buku, buku yang dicari nggak ada,uninstall. Lol.

    BalasHapus