Minggu, 21 Mei 2017

Me, Earl and dying Girl by Jesse Andrews




Paperback 332 pages
Published 2016 by Imprint Kepustakaan Populer Gramedia
Penerjemah: Reni Indardini
Rating: 3/5

[Ini mungkin bukan review, Cuma racauan saja :D]

Saya ingat kenapa saya tiba-tiba ingin buku ini setelah melihat satu postingan tentang wishlist buku di blog-nya, entah tahun berapa :D Yang jelas, saya langsung mengunduh buku dan kebetulan buku ini juga sudah difilmkan, sehingga saya juga mengunduhnya. Dan, sekian tahun kemudian, saya baru menginginkan paperback-nya, dan beberapa saat kemudian baru saya membacanya. Dan ternyata dua minggu tidak cukup untuk menyelesaikan membaca buku ini. Gangguan semacam buku kedua—Heels and Wheels—yang saat itu sedang saya baca, juga deretan dorama yang menggoda untuk ditonton :D. But, anyway, I did it. Itu juga dengan ancaman timbunan pinjaman baru yang tiba-tiba menggunung. Kalo saya tidak segera menyelesaikan buku ini, saya khawatir buku ini akan bernasib DNF. Fiuh…

Saya membaca beberapa review di Goodreads yang mengatakan buku ini lucu, itu yang membuat saya bersemangat membaca ini. Tapi ternyata, setelah saya membacanya, saya merasa joke disini memang lucu, meski yah, garing. Racauan Greg Gaines kadang membuat saya capek. Racauan dirinya yang tidak tergabung di grup manapun di SMA, karena ia memang tidak menginginkan bergabung di grup mana pun, serta film buatannya- bersama rekan kerjanya, Earl, membuat saya sedikit capek.  Ohya, saya tadinya berpikir bahwa Earl disini adalah seorang Earl, you know, seorang bangsawan, tapi teryata saya salah. Earl adalah nama seorang teman Greg di sekolah, sekaligus rekan dalam membuat proyek-proyek filmnya. Film-film yang dibuat Greg, diakuinya buruk, beberapa lumayan bagus, beberapa  sangat buruk. Dalam bukunya, Greg sering membuat racauan dalam bentuk dialog dengan font yang berbeda, atau beberapa kemungkinan ini dan itu, yang kadang membuat saya tergoda untuk melewatinya. Yah, ternyata buku ini tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Aneh, menurut saya. Sicklit, memang bukan buku yang asik dibaca, karena bakal ada banyak adegan menyedihkan di dalamnya, tapi tidak demikian disini. Well, saya memang tidak mengharapkan adegan mengharukan yang bakal menguras airmata, tapi melihat gaya penulisan buku ini, saya merasa aneh saja. 

Rabu, 17 Mei 2017

Wheels and Heels by Irene Dyah Respati


Scoop ebook 321 pages
Published by Elexmedia Komputindo, November 4, 2015
Rating 3/5

Mencicipi penulis metropop (?) yang tersedia di Scoop ternyata lumayan juga :D

Kisah berpusar pada Abilaasha, alias Abby yang punya nama berbau India dengan konflik keluarga plus perasaan naksirnya pada Adian. (nama2 karakter di novel ini bagus2, suka deh). Abby adalah seorang usher alias penjaga show room mobil (setau saya usher itu petugas yang bantu kita nyari tempat duduk di bioskop, ternyata ini namanya usher juga ya ), berasal dari keluarga biasa, keuangan keluarga setelah ayahnya meninggal praktis berada di pundaknya sebagai anak sulung. Bekerja banting tulang demi sekolah adik2nya sekaligus menghidupi warung peninggalan ayahnya yang setelah dipegang ibunya, ternyata kurang berkembang dengan baik.

Nicolette, atau Nico, sahabat paling karib dari Abby, sering kali menjodohkan Abby dengan pria2 kaya demi masa depan yang gemilang bagi Abby. Sebagai anak yang terlahir kaya, Nico merasa kasihan pada Abby yang pontang panting mengejar kontrak pekerjaan sana sini demi mengirim uang ke keluarganya.

Adian, cowok cakep keturunan keluarga kaya, naksir Abby sejak awal bertemu di sebuah acara pameran mobil. Well, sebenarnya mungkin Adian naksir kaki Abby yang jenjang nan indah. Sebagai seorang usher, tentu saja pakaian yang dipakai Abby selalu seksi dan mempertontonkan kaki jenjangnya. Adian adalah tipe cowok satu diantara sejuta cowok di Jakarta. Masih perawan, kata Nico. Usahanya mendekati Abby menemui berbagai kendala, mulai dari sifat malu-malu Adian, gosip pria2 kaya yang mengencani Abby hingga jenjang perbedaan finansial yang sangat mencolok antara keduanya.

Sabtu, 06 Mei 2017

Entrok by Okky Madasari




Ebook Scoop 282 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3,5/5

I think I have an issue for Okky Madasari’s books…

Saya sudah membaca beberapa karyanya, seperti Maryam dan 86, dan dari kedua buku itu saya mendapatkan rata-rata isu yang diangkat penulis untk bahan tulisannya: kaum pinggiran atau minoritas yang tak mampu melakukan apapun di tengah masyarakat mayoritas. Dan terlebih isu kental yang terjadi rata-rata di tahun-tahun era Orde Baru.

Bukannya saya tidak menyukai isu semacam ini, hanya membaca ini berasa mengingat luka lama yang ingin terkubur dalam-dalam. Saya pribadi tidak mengalami tekanan jaman Orba, tapi tetap masa-masa kegelapan itu terasa sangat menyakitkan ketika terbuka lagi, meski dalam bentuk fiksi (mungkinkah fiksi berdasarkan kisah nyata?). Beberapa penulis lain juga sering kali menulis era yang sama, tapi rasa yang saya dapatkan berbeda. Sebut saja Ayu Utami, Ahmad Tohari, dan beberapa cerpen milik Puthut EA. Saya merasakan adanya dendam teramat dalam dalam kisah-kisah yang ditulis penulis buku ini.

Sebelum membaca novel ini, saya menyempatkan sedikit membaca-baca review di Goodreads, rata-rata mereka memberikan rating bagus dengan memberi sedikit gambaran seputar perempuan-perempuan yang dikisahkan di novel ini; Sumarni dan Rahayu. Saya pikir kisah mereka adalah kisah yang berbeda yang sama-sama terinspirasi dari Entrok, alias bra, yang menjadi judul novel ini. Ternyata saya salah. Entrok hanya muncul di kisah bagian Sumarni saja. Selebihnya, isunya lebih kental mengarah pada agama atau kepercayaan dan pemerintahan Orba. 

Kamis, 04 Mei 2017

Para Bajingan yang menyenangkan by Puthut EA


Paperback 178 pages
Published by @bukumojok.com, Desember 2016
Rating 4/5

Piye ya meh nulis review nggo boso Jowo? Soale nang buku iki wakeeehhh boso Jowo ne.  Dadine yo aku meh nulis2 nulis bab buku iki nggo bosoku sing tak nggo mben dino.  Nek do gak dong moco reviewku,  yo mungkin awakmu  yo rak cocok karo bukune. Gampang to? #mlipir sik sakdurunge dibalang karo sing nulis...

Dadi inti ceritane ki jane mung nguri2 jaman e mas Puthut rodo edan, edan ngombe  karo edan judi bareng kanca-kancane.  Kanca ne ono sing jenenge Bagor,  Kapsul, Kunthet karo sijine ora  disebut jenenge mergo wong e wes ora ono utowo  meninggal (jane meh tak wacakke Al-Fatihah nggo kancane kui, tapi kok ga ono jenenge, njuk aku kudu nyebut jenenge sopo ben dongaku tekan? Aku sedih pas moco bagian deweke ngewangi wong tuwo pas nang Mekkah....

Bab-bab awal ki critane jane yo antara lucu karo rodo mangkelke. Aku ki yo, jaman kuliah mben ora tau aeng-aeng utowo aneh-aneh. Boro-boro dugem, ngrungokke lagu ajeb-ajeb wae sirahku wes ngelu. Po meneh udud, opo ngombe po judi. Lha iki, wong papat, kok le kompak men do ngombe-ngombe karo judi. Nek menang kelakuane koyo sumugih ngono, nek kalah yo do nyungsep bareng. Mbayangke wong tuwane ki perasaane koyo ngopo nek do ngerti anake koyo ngono. Saiki wae mas Puthut wes orang tentrem atine ndelok Kali, anake, sing ngko gek-gek koyok awake deknen (tak dongakke orang wes, mas).