Kamis, 25 Mei 2017

Oppa and I series by Orizuka & Lia Indra Andriana




Paperback 540 halaman
Published by Penerbit  Haru, Desember 2016
Rating 2,5/5

Salahkan momen saya membaca Novel ini ketika saya tak lagi maniak Drakor. Salahkan juga saya membaca genre teenlit ketika usia saya tidak lagi teen,  bahkan jauh dari teen  hahahaha... Jadi yah, bisa dimaklumi jika Rating saya pada buku ini tidak se-wah mereka yang sudah memberi rating terlebih dulu di Goodreads. Jika diingat-ingat, saya dulu pernah cukup suka dengan Novel Orizuka yang sangat drakor,  berjudul Fate. Saya bahkan mengingat beberapa vocabulary Korean yang berada di glossary paling belakang. Tapi saya tidak cukup suka dengan novelnya yang berjudul Infinitely Yours yang juga sangaaattt drakor, padahal saat itu saya masih cukup suka nonton drakor. Jadi gimana dong penilaian saya ini? Engggg.... saya juga bingung.

Jadi gini, sebelum saya membaca Novel ini, saya baru saja menamatkan dorama Great Teacher Onizuka versi tahun 2012. Permasalahan anak-anak SMA di sekolah itu cukup rumit hingga membutuhkan guru macam Onizuka sensei. Meski kadang permasalahan agak menjengkelkan macam rasa bersalah yang berlebihan hingga membuat seorang murid ingin bunuh diri, tapi tetap saja konflik di Novel ini berasa remeh banget, apalagi bumbu idol idol macam drakor beneran.

Oya, kayaknya tulisan ini ngga bakal jadi review karena saya bakal ngoceh ngga karuan tentang apa yang sebelumnya saya baca, tonton, atau selama membaca Novel ini dan sesudahnya. Sebelumnya, saya pernah mengatakan pada teman saya yang membeli buku ini (iya, saya cuma modal minjem buku ini), bahwa Novel lokal yang berkisah ala ala drama Korea, biasanya selalu dibumbui  dengan bahasa Korea yang tersebar di sepanjang Novel.  Padahal Novel terjemahan Korea atau Jepang saja tidak memasang banyak sekali Vocab demi mendapatkan feel sangat Korea atau Jepang. Bahasa Korea/ Jepang dipakai jika kisah dalam Novel menceritakan sesuatu yang berbau negara tersebut, jadi tidak semata mata hampir semua phrasa atau ekspresi ditulis dalam bahasa Korea/ Jepang. Saya pernah membaca Novel lokal dengan judul Jepang yang ternyata lebainya mirip drakor, dengan ekspresi bahasa Jepang yang tersebar sepanjang Novel, tidak ada bedanya dengan Novel ini. Sebaliknya,  Novel karya Akiyoshi Rikako dan Manabu Kaminaga dan beberapa penulis Jepang lainnya yang notabene adalah terjemahan bahasa Jepang, justru memuat bahasa Jepang untuk istilah-istilah tertentu saja. Itu sudah sangat Jepang tanpa harus sedikit-sedikit bahasa Korea/ Jepang demi mendapatkan feel-nya. (kok jadi muter-muter gii ya hahahaha….)


Oya, saya cukup bosan membaca Novel yang tadinya terdiri dari 3 seri ini. Novel yang bercerita tentang konflik Park Jae Kwon dan adik kembarnya,  Park Jae In. Masalah keluarga mereka membuat mereka hidup terpisah. Satu di Indonesia, yang satunya di Korea. Saat mereka bersatu kembali terasa biasa saja. Saya malah heran kenapa Jae In sebegitu marahnya pada Jae Kwon hingga ia menjadi cewek judes sepanjang Novel.  Penjelasan mengapa Jae Kwon seolah melupakannya sebenarnya dijelaskan, tapi tetap saja menurut saya itu aneh. Ya sudahlah, they are just teenagers after all.

Cerita kedua juga dengan konflik yang sebenarnya remeh nan receh yang saya yakin pasti disukai  kalangan remaja sasaran utama buku ini, Cinta. Dengan bumbu mengejar impian, dan ego antar suka dan tidak suka, menjelmalah novel ini bagai drama Korea betulan. Jika saya sedang menonton satu dorama 10 episode, biasanya saya akan menunggu satu tokoh akan muncul atau paling tidak menunggu saat-saat saya menonton dorama itu. Tapi yang terjadi pada saya ketika membaca ini adalah, saya bosan bertemu dengan kaka adik kembar itu, teman-teman sekolah mereka, belum lagi masalah cinta-cintaan khas abege. Well, harusnya saya berhenti ketika saya mulai bosa. Tapi saya masih punya harapan saya bakal terhibur dengan novel ini seperti saya dulu terhidur dengan seri Audy-nya Orizuka. Di awal membaca seri Audy, saya cukup skeptis dengan adanya rumor bahwa novel itu adalah salinan dari dorama Atashinchi No Danshi. Tapi ternyata saya sangat menikmati Audy di buku ke empatnya. Saya cukup bisa berdebar dan tertawa ngakak ketika membaca itu. Sementara di novel ini? Yah, kalo misal sukses macam Audy, saya ngga bakal memberi ratring 2,5 bintang.

Overall, saya ngga sabar membuka buku baru, yang bakal me-remove kenangan bersama kakak adik kembar ini. Baut adik-adik teen, jangan terpengaruh sedikit pun akan review yang bukan review ini, karena ini semata penilaian saya pribadi. Apalagi buat penikmat drama Korea yang sekaligus pemerhati bahasanya, novel ini bisa jadi shortcut kamus populer atau kamus frasa dan ekspresi bahasa Korea yang sering dipakai di drama-drama Korea. Biarlah saya kembali tenggelam dalam jajahan Nippon mwahahahaha…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar