Rabu, 21 Juni 2017

Bakuman 17 by Tsugumi Ohba and Takeshi Obata




Paperback
Published by M&C
Rating 5/5

Baru kali ini saya penggeeeen banget nulis review untuk Bakuman. Biasanya sih hanya cukup di review di Goodreads, setelah itu, sudah :D

Tapi karena sekian lama saya ‘berpisah’ dari serial ini, kalo tidak salah saya terakhir membaca volume 13 tahun lalu, jadi sedikit banyak saya kudu mengingat-ingat konflik terakhir di volume yang terakhir saya baca itu. 

Terus terang, duluuuu, ketika saya membaca volume sebelumnya, saya memang saya sangat antusias mengikuti kiprah duo mangaka yang waktu itu masih junior, yaitu Ashirogi Muto sensei. Tapi tidak jarang, saya cukup bosan dengan segala meeting para kepala editor, hingga kadang saya ngantuk, dan kurang menikmati. Tapi sangat berbeda setelah saya ‘berpisah’ cukup lama dengan serial ini. Sejak volume 14, saya jadi terbakar emosi dengan kehadiran karakter baru, Tohru Nanamine, yang di volume 13, sudah disebutkan oleh penulis. Bahkan manga yang ia tulis juga sangat menarik hingga sekejap saya melupakan bahwa ini adalah manga di dalam manga hahaha…

Nah, inilah yang sebenarnya pengen saya tulis disini. Manga di dalam manga.


Karena ini cerita tentang para mangaka di majalah Shonen Jump, dua sensei penulis itu selalu menghadirkan banyak manga di dalam kisah mereka, meski tidak selalu detail. Tapi buat para pembaca yang mengidamkan manga, dan mungkin bercota-cita menjadi mangaka, serial ini sangaaaattt direkomendasikan buat kalian. Bayangkan, berapa mangaka di dalam majalah ini, dan berapa kisah manga yang ditulis oleh para mangaka di dalam kisah ini. Di awal kisah bahkan duo sesnsei penulis ini sedikit mengenalkan gaya coretan pensil untuk menggambar, dan juga teknik menggambar latar belakang, serta pentingnya penjiwaan karakter dalam satu cerita. 

Seperti yang selalu menjadi pekerjaan rumah bagi duo Ashirogi Muto sensei, yaitu menjadikan manga mereka [PCP] menjadi nomor satu di voting mingguan, mereka selalu menghadirkan hal=hal baru yang memungkinkan mereka menduduki peringkat pertama. Sayangnya, mereka masih selalu kalah dengan Eiji Niizuma sensei yang memang gila. Ide gilanya dalam bercerita sejajar dengan kemampuan gambarnya yang luar biasa. 

Segala trik selalu dikerahkan oleh dua mangaka idola Shonen Jump ini. Dan inilah yang dilakukan oleh penulis Bakuman ini; menghadirkan konflik yang menarik, menambah karakter baru yang terus membakar semangat duo mangaka sensei. Membayangkan berada di posisi mereka, yang selalu dihantui oleh peringkat di tiap minggu, bekerja dnegan tenggat waktu tertentu, belum lagi persaingan dengan orang-orang baru, itu membuat saya frustasi. Segala kondlik itu diramu dengan sangat baik oleh duo TO sensei ini. 

Oh eh iya, ada satu bab tentang one shot yang bukan one shot…. Hmmm… kalo saya pikir itu seperti spin off gitu yak? Atau bukan? Yang ngga ngerti apa yang saya maksud, anuu… baca dulu deh volume ini hahahaha…

Puncaknya, meski ini bukan volume terakhir serial ini, ketika membaca beberapa review di Goodreads untuk volume ini, saya merasakan hal yang sama dengan mereka, pengen nangis. Ada hal=hal lucu yang dihadirkan (terutama oleh Hiramaru sensei), hingga perginya pak kepala editor yang bagai ayah para mangaka ini. Saya jadi pengen membungkuk sedalam-dalamnya buat Tsugumi Ohba + Takshi Obata sensei karena saya sangat kagum dengan karya mereka ini. 

All in all, masih ada satu lagi volume yang belum saya selesaikan. Tapi saya merasa saying kalo harus berpisah lagi dnegan mereka dan menunggu lagi dalam waktu yang cukup lama. Hmmm… baca bacaan lain dulu atau menonton ulang live action Bakuman yak? :d

Tidak ada komentar:

Posting Komentar