Rabu, 13 September 2017

Kisah Seorang Pedagang Darah by Yu Hua


Paperback 288 pages
Published by April, 2017 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Agustinus Wibowo
Rating 3/5

Saya masih ingat buku Yu Hua pertama yang saya baca, To Live. Endingnya membuat saya patah hati, atau mungkin sepanjang cerita saya bahkan sudah patah hati. Saya bahkan ngga kuat menonton filmnya, meski saya sudah mendonlotnya, sesaat setelah saya menyelesaikan bukunya. Saya tidak terlalu berharap banyak akan buku ini, apakah akan membuat saya patah hati lagi seperti To Live.

Kisah seputar Xu Sanguan, buruh pabrik sutra yang tergoda untuk menikahi gadis cantik, Xu Yulan, hingga ia nekad mencari modal untuk menikah, dengan cara  menjual darah. Dengan uang sebesar 38 yen, ia bisa foya-foya hingga menikahi gadis impiannya.

Celakanya, ketika pasangan Xu ini telah memiliki tiga orang anak, yang diberi nama Kesenangan Satu, Kesenangan Dua dan Kesenangan Tiga alias Yile, Sanle dan Erle, gosip mulai merebak. Gosip itu mengatakan bahwa Yile, si anak sulung memiliki wajah sangat mirip dengaan He Xioyong, pacar Xu Yulan sebelum ia menikah dengan Xu Sanguan. Gosip ini membuat Xu Sanguan patah hati, murka dan malu.


Kisah selanjutnya, berkutat terus tentang Yile si anak haram ini, dan bapak yang tak mau mengaku anak kandungnya. Ada pula revolusi politik yang meledak pada waktu itu. Kemiskinan melanda seluruh warga hingga Xu Sanguan beberapa kali harus kembali menjual darah. Lucunya, ada beberapa orang berpendapat bahwa seorang pria yang bisa menjual darah dianggap kuat dan hebat, tapi beberapa orang lain menganggap menjual darah adalah hal yang tabu, tidak pantas dilakukan, karena itu dianggap menjual nyawa. Yang mana yang benar ya?







Sebelumnya saya sempat bertanya-tanya, kenapa buku ini diberi jdul Chronicles of A Blood Merchant jika adegan menjual darah hanya dilakukan satu kali ketika Xu Sanguan hendak menikah. Tapi ternyata, di sepertiga akhir buku ini menunjukkan betapa menjual darah benar-benar jalan keluar bagi keluarga Xu Sanguan. Ini sedikit mengingatkan saya pada film Jet Lee, berpuluh tahun yang lalu. Kalo ngga salah sih judulnya My Father is a Hero. Ada sebuahy adegan ketika Jet Lee menual darahnya beberapa kali hingga kemudian ketika ia harus menolong anaknya, ia tak lagi bisa menjual darahnya. Miris. Dan ternyata adegan itu berulang di novel ini. M<eski dengan ending yang berbeda tentunya. Eh, ehm... saya lupa ending filmnya ding hehehehe...

Seperti To Live, tulisan Yu Hua ini sangat Chinese, ditambah dengan terjemahan yang sangat mendukung aura Cina di buku ini. Kecerewatan Xu Yulan akan ini dan itu mengingatkan saya pada drama-drama Mandarin lawas yang dulu pernah saya tonton. Warga kampung yang kasak kusuk tentang Yile ini juga sangat natural kebiasaan orang kampung. Belum lagi kebiasaan orang-orang Cina dahulu atau mungkin sampai sekarang yang sangat percaya akan tabib. Adegan ketika Yile dipaksa naik ke atap dan berteriak sambil menangis memanggil nama bapak kandung yang tidak mengakuinya itu sangat ironis dan menyentuh. Adegan ini juga menunjukkan betapa Xu Sanguan yang sebelumnya begitu membenci Yile, tapi tetap berbesar hati menerima dan tetap merawat Yile sebagai anak kandungnya.

Oya, Novel ini ternyata sudah ada bentuk live action-nya, eh, maksud saya sudah ada filmnya. Korea sudah membuat versi filmnya dengan memasang Ha Ji Won sebagai Xu Yulan dan Ha Jung Woo sebagai Xu Sanguan. Ada beberapa perbedaan di versi filmnya, seperti pekerjaan Xu Sanguan yang bukan di pabrik sutra, melainkan di konstruksi banguan sebagai buruh. Yulan juga bukan sebagai anak pedagang cakwe, melainkan penjaja popcorn yang cantik dan lincah sekaligus menggoda. Saya baru menyelesaikan sekitar 42 menit filmnya dari total 124 menit. Terus terang, saya kurang mendapatkan feel miskinnya warga sekitar Xu Sanguan. Yulan memang cantik, seperti gambaran di buku, tapi ia kurang menyebalkan dengan menangis keras-keras di pintu dan membeberkan aib keluarganya pada tetangga sekitar. Adgean ini di buku berasa menonton ketoprak, kocak sekaligus menjengkelkan. Sayang, saya ngga menemukan kerewelan Yulan di film. Jadi yah, saya berhenti dulu sementara. mungkin nanti lanjut menonton versi filmnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar