Senin, 13 November 2017

Orbit Tiga Mimpi by Miranda Malonka


Scoop Ebook, 380 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama, October 2, 2017
Rating 4/5

Saya ngga pernah membayangkan jika novel kategori YA ini memiliki banyak sekali hal kompleks di dalamnya: Romance (tentu saja), rasi bintang lengkap dengan ukuran dan petanya (sesuai dengan judulnya), filsafat, mimpi-mimpi, penyakit histeria hingga fanfiction! Waw waw waw...

Alejandro, seorang anak kelas sebelas harus memilih diantara dua mimpinya: astronomi atau biologi. Kecintaanya pada dunia perbintangan tak bisa diragukan lagi. Ia memiliki teropong bintang di rumahnya yang bisa ia gunakan untuk meneropong bintang setiap malam, belum lagi buku-buku hingga novel grafis seputar perbintangan. Namun ia juga memiliki kelemahan jika nanti ia menjatuhkan pilihannya di astronomi. Biologi juga pelajaran favoritnya hingga ia terobsesi dengan olimpiade biologi. Tapi....

Angkara atau Kara juga memiliki mimpi yang sulit ia putuskan: terus menulis sesuai dengan passion-nya, atau menekuni filsafat sesuai dengan idamannya. Belum lagi keinginan tersirat ayahnya di dunia kuliner.

Asterion alias Aster, memiliki mimpi yang tak jauh berbeda dengan dua temannya yang lain: menjadi penyanyi band sesuai keinginannya atau mencari genre lagu yang sesuai dengan suaranya namun tak ia sukai. Belum lagi kedua orangtuanya yang merupakan penggila filsuf dari Yunani. Filsafat Yunani seolah nantinya akan menjadi pekerjaan turunan dari orangtuanya.


Mereka bertiga bertemu, bermula dari hubungan yang awkward, hingga akhirnya mereka menemukan 'warna' satu sama lain hingga mendekatkan mereka bertiga. Ale yang ganteng tapi pendiam ini bisa menyulap seorang Aster yang selalu memasang 'topeng senyum' di wajahnya menjadi lebih jujur pada diri sendiri. Ale, si kaku yang jarang bergaul, menjadi lebih ceria ketika ia menemukan sosok nerd bintang pada diri Kara. Kara, si pendiam yang cenderung selalu berada di autopilot mode, menjadi lebih hidup dengan adanya Aster yang ceria dan Ale yang juga otaku bintang.

Saya mengenal nama Milanda Malonka ketika pertama kali dulu saya membaca Syilvia's Letters yang saya beri bintang 4 juga. Meski memiliki tone yang berbeda, tapi saya tetap menyukai keduanya. Jika di buku sebelumnya, penulis menggunakan berlembar-lembar surat sebagai narasi novelnya, di novel ini  penulis menggunakan 3 points of view yang berbeda. Masing-masing karakter penulis menggunakan penyebutan yang berbeda. Ale menggunakan gue, sementara Kara dan Aster menggunakan aku. Sedikit rancu di awal saya membaca novel ini antara Kara dan Aster. Tetapi di sebelum setengah novel, saya bisa menemukan perbedaana antara keduanya.

Saya suka dengan gaya bercerita si penulis, hingga diksi yang ia gunakan. Belum lagi sisipan seputar rasi bintang, hingga percakapan ringan antara ketiga sahabat itu dengan sisipan filsafat yang keren. Ngga terlalu detil sih, tapi menyenangkan dan buat saya itu keren hahaha... Saya tidak ragu memasukkan nama oenulis Miranda Malonka ini menjadi nama penulis yang wajib saya baca karyanya, sperti Annisa Ihsani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar