Senin, 12 Maret 2018

Intelegensi Embun Pagi by Dee Lestari


Ebook, Bookmate 724 pages
Published February 26, 2016 by Bentang Pustaka
Rating: 3/5

Terus terang saya bingung kenapa buku terakhir dari seri Supernova ini jadi fantasy begini. Jika endingnya berbau klenik, saya malah lebih siap kayaknya 😀. Seperti ketika saya membaca Petir, seorang teman saya yang waktu itu merekomendasikan buku itu ke saya, gara-gara waktu itu saya sedang mempelajari alternative healing. Kerjaan saya meditasi melulu, menerima healing jarak jauh, dan anehnya, teman saya ini merasa sembuh. Karena satu dan lain hal, saya memilih tidak lagi melanjutkan kegiatan saya ini. Berasa bau klenik buat saya, meski asyik. Hmmmm... Coba kalo saya lanjutkan, mungkin saya bakal direkrut jadi Peretas, atau inflitran atau bahkan Sarvara? 😄😄... Begitu juga ketika saya membaca Akar. Meski tidak terlalu ingat inti ceritanya, seingat saya itu cerita tentang Bodhi dengan pengalaman spiritualnya. Jika IEP ini menjelma cerita klenik berbau spiritual, saya juga masih bisa terima. Ketika membaca Gelombang, sosok dukun desa dimana Alfa tinggal juga meninggalkan kesan klenik, belum lagi adanya sosok Jaga Portibi alias JePi kata Gio 😄😄.

Salahkan saya yang ngarep cerita berbau klenik spiritual, alih alih fantasy berbalut teknologi canggih para hacker. Belum lagi dua kubu yang disebut sepanjang buku ini, Peretas VS Sarvara. Saya bingung mereka itu apa atau siapa. Siapa protagonist siapa antagonist. Mana yang merugikan dunia manusia, mana yang memberi faedah pada kemanusiaan. Ketika mereka berlari dari Bukit Jambul ke Bukit Simaung Maung, kui jan2e ngopoooo hahahaha... Saya menangkap keseruan yang ditawarkan mbak Dee, tapi saya ngga menangkap pesannya. Saya ikut patah hati seperti Elektra dan Zarah ketika mengetahui orang orang kepercayaan mereka ternyata berseberangan dengan mereka. Tapi berseberangan sing kepiye aku kok yo bingung, mbulet karep sirahku dewe 🤣🤣🤣...


Meski kecewa dengan buku terakhir seri ini, saya sempat menikmati di sepertiga awal, dua perempat berikutnya, saya hampir menyerah. Untunglah, twist twist nya cukup menyenangkan, meski setelah itu ya sudah begitu saja. Saya mulai menanyakan pada diri sendiri sepanjang novel, apa sih inti cerita ini? Menyulap para karakter yang tadinya terlihat protagonist menjadi antagonist? Karakter yang terlihat biasa saja ternyata memiliki kekuatan super? Auklah, Mbak Dee. Otak saya barangkali macam teflon yang ngga nyandak karepe MBAK Dee hehehe...

Sudahlah. Saya hepi sih akhirnya kelar satu novel super tebal di 2 bulan pertama tahun 2018. Kelar ini saya mau lembur dorama dulu lah. Dorama yang juga ngga jelas mana protagonists mana antagonist. Lha niate elek kabeh wakakakak... Pertanyaan yang sama buat para Peretas dan Sarvara di atas. Sopo sing olo, sopo sing ora, mbulet 😅😅😅...

Note: Review ini bukan review ya, cuma racauan saya yang ngga jelas 🤗🤗🤗

Tidak ada komentar:

Posting Komentar