Kamis, 05 Juli 2018

Saving Francesca by Melina Marchetta


Ebook Gramedia Ditigal 300 pages
Published April 30, 2018 by Gramedia Pustaka Utama
Rating: 4/5

Saya mengenal karya Melina Marchetta pertama kali ketika membaca Looking for Alibrandi. Sejak itu saya jatuh cinta pada karyanya. Sebenarnya saya sudah memiliki paperback novel ini jauuuhhh sebelum saya akhirnya saya menandai mulai progress baca di Goodreads. Biasalah, DITIMBUN! :D

Membaca karya Marchetta itu berarti saya harus bersiap dengan isu kompleks di dalamnya, seperti halnya novel sebelumnya. Masalah remaja dengan segala masalah pencarian jati diri, baik di dalam keluarga juga di luar kehidupan sekolah, juga tentu saja masalah cinta remaja. Semua diramu dengan apik, dengan dialog satir yang cerdas. Ah I love youse, Marchetta :D

Francesca Spinneli, 16 tahun, harus menghadapi penyakit tidak jelas ibunya, yang semula ceria dan optimis. Ibu yang selalu membangunkannya dengan lagu-lagu semangat, tiba-tiba di satu pagi tak lagi bangun, tak berbicara, dan tak ada lagi lagu-lagu penyemangat. Ditambah dengan kepindahannya di sekolah baru yang sebelumnya adalah sekolah khusus cowok, Sebastian's. Bersama segelintir teman ceweknya, Frnakie harus berjuang untuk bisa diterima di lingkungan sekolah barunya.


Semula, dunia memang tidak terlalu ramah pada Frankie, ibunya yang sakit, ayah yang seolah menghindar untuk berbicara, teman yang tidak 'sealiran' dengannya dan juga dengan cap yang berbeda, dan cowok-cowok yang menyebalkan. Lambat laun, dengans egala permasalahan masing-masing, Frankie, dan keluarganya, bahkan masalah masing-masing karakter, diurai hingga tuntas.

Dinatar teman-teman Frankie, saya paling suka dengan Tara, sosok sinis yang selalu vokal, tak peduli ia berada dimana. Tak peduli dengan celotehan patriarkis dari sebagian besar cowok di sekolahnya. Tapi teman Frankie lainnya pun tak kalah menarik. Bahkan Jimmy Hailer, si junkie itu pun ada sisi manisnya juga. Sweet...

Membaca novel ini, saya merasa sedikit terhubung dengan Frankie, yang akhirnya menemukan keceriaan di sekolah, tapi selalu ketakutan ketika berada di rumah, takut terjadi apa-apa pada sang ibu. PErsis seperti yang saya rasakan selama ibu saya sakit. Perasaan ceria ketika saya ngobrol dengan teman-atau berada di tengah-tengah murid, membuat saya sedikit lupa dengan kondisi murung di rumah. Apakah saya kepingin lari dari semua itu? Bohong jika saya menjawab tidak. Tapi segala apapun kondisi murung harus dihadapi, dipecahkan. Persis seperti yang dialami Frankie. Saya bahkan ketakutan untuk membaca 25 halaman terakhir  tentang apa yang akan terjadi pada sang Mummy. Apakah beliau akan seperti ibu saya? Saya ngga tahan dengan kesedihan yang bisa saja terjadi pada keluarga Spinneli. Saya sendiri saja masih sering sedih mengingat ibu saya. Saya memutuskan membaca 25 halaman terakhir di pagi hari. Tapi ternyata happy ending. Syukurlah :)) (sorry lho, kalo spoiler) hahahaha...

Overall, saya menunggu karya Marchetta lainnya. Satu buku bantal fantasinya sudah saya timbun entah sejak kapan wkwkwkwk...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar