Senin, 09 Juli 2018

The Storied Life of AJ. Fikry by Gabrielle Zevin


Paperback 280 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama October 16, 2017
Rating 5/5
 
"Terkadang buku-buku tidak menemukan kita hingga saat yang tepat" (A.J. Fikry, hal 101)

Setuju dengan AJ!!!

Bagi para penimbun buku akut seperti saya, saya rasa quote itu tadi sangat cocok. Dari sekian banyak buku tertimbun, entah ada berapa buku yang akhirnya menemukan kita dan kita begitu menikmatinya. Paperback ini sudah lama saya timbun, meski masih dibawah satu tahun sih, dan baru sekarang si buku bertemu saya. Terprovokasi dengan review dan rating bagus di Goodreads membuat saya membuat keputusan membeli versi cetaknya, alih-alih membaca versi digitalnya di Gramedia Digital. Jika Aj tahu ini, dia pasti sangat bahagia :D

Sebelumnya, saya hanya tahu, bahwa novel ini bakal bercerita tentang buku. Tapi secara spesifik, saya tidak ingin memberi spoiler pada diri sendiri dengan membaca review yang lalu-lalang di timeline saya. Jadi saya cukup terkaget-kaget dengan kisah hidup AJ. Fikry ini.


Memiliki satu-satunya toko buku di sebuah pulau yang cukup susah dijangkau, tidak membuat AJ bangga. Dia justru ingin segera menjual toko bukunya, dan hidup tanpa repot mengurus toko bukunya. Satu aset termahalnya, karya Edgar Alan Poe, Tamerlane, bisa membuatnya mencapai impiannya itu. Sayang takdir membelokkannya ke arah lain.

Bertemu sekaligus memiliki Maya dalam dirinya membuat kehidupan AJ berubah 360 derajat. Sifat egois sekaligus sinis AJ luruh, ditambah kehadiran Amelia, si wiraniaga penyuka buku The Late Bloomer. Kehidupan AJ. Fikry, duda pemabuk kutu buku itu terlihat sempurna. Paling tidak bagi para pecinta buku, kutu buku, yang menginginkan lingkungan terdekatnya menyukai membaca buku.

Tadinya saya berpikir kisah ini bakal berakhir dengan bersandingnya AJ dan Amelia, pemilik toko buku dengan si wiraniaga buku. Sempurna sekali, bukan? Tapi ini bukan kisah remaja romantis yang berakhir setelah si anu nembak, dan diterima hahaha...  Tidak kompleks sih, sweet dengan kisah-kisah bagaimana AJ menciptakan orang-orang di sekitarnya mencintai buku, membaca kisah-kisah baru, hingga klub buku pak polisi yang keren. Para good readers pasti memiliki angan-angan semacam ini. Demikian juga saya. Sayangnya, lingkungan keluarga saya tidak semuanya menyukai kegiatan membaca ini. Demikian juga dengan lingkungan kantor yang juga menganggap kegiatan membaca buku adalah mungkin sesuatu yang membosankan.

Jadi apa sebenarnya yang dilakukan AJ hingga ia bisa mengumpulkan sedemikian banyak pembaca buku antusias?  Kehadiran Maya bisa jadi adalah daya tarik utama, dan tentu saja toko buku milik AJ. Jadi apakah saya perlu membuka toko buku di lingkungan saya? Hmmmm... Masalah yang dialami AJ di hampir akhir kisah juga dialami oleh sebagian besar penjual buku fisik di negeri ini. Kehadiran pembaca elektronik begitu meresahkan. Meski saya adalah salah satunya, tapi saya juga sedih jika ada satu toko buku atau rental buku yang memilih tutup. Dari segelintir pembaca buku, ada berapa persen pembaca buku fisik? Hampir setiap orang di negeri ini memiliki gawai yang sebenarnya bisa berfungsi sebagai pembaca elektronok, tapi ada berapa persen dari mereka yang menggunakan gawai mereka menjadi berfungsi ganda sebagai pembaca elektronik? :(

Setelah membaca kisah hidup AJ Fikry ini, saya yakin ada banyak sekali pembaca buku ini yang merasa terhubung denga dirinya. Sebagian setuju dengan pandangan AJ, sebagian mungkin bertolak belakang dengan pandangan AJ. Buat saya sendiri, saya mungkin sebaiknya mulai membagi bacaan saya antara novel dengan cerpen :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar