Sabtu, 04 Agustus 2018

French Pink by Prisca Primasari


Gramedia Digital ebook, 84 pages
Published October 2014 by Grasindo
Rating 3/5
 
Kalo dibandingkan Hitomi, saya mungkin termasuk buta warna. Duluuuuu saya sering bingung membedakan antara biru dan hijau. Begitu saya sudah bisa membedakan warna biru dan hijau, semua warna itu memiliki pengembangannya. Ha? Pengembangan? Iya, ada yang biru kehijauan, atau sebaliknya. Belum lagi warna seperti hijau tosca, lumut, dan entah apalagi. Dan juga biru, muda, tua, navy, dll. Jadi sebenarnya, Hane-san benar, Hitomi tidak boleh mengakhiri hidupnya begitu saja, karena dia memiliki alasan untuk tetap hidup.

"Menurut saya, kematian lebih baik daripada kehidupan yang tidak berarti". (hal. 35)

Dari awal, saya sedkit bingung kenapa Hitomi segitu inginnya mati, tanpa ada penjelasan. Hitomi, pemilik toko pita di Distrik Jiyogaoka, kehilangan semangat hidupnya. Setelah beberapa lembar, setelah ia bertemu dengan sosok yang ia duga sebagai shinigami, malaikat pencabut nyawa di manga, alasan kenapa ia ingin mati sedikit terbuka.


"Perjalanannya' bersama shinigami ini, Hane-san, cukup menarik. Berbagai macam warna yang semua saya pikir itu hanya sekedar sebutan untuk satu warna tertentu, ternyata warna English lavender dan French pink itu memang benar ada. Jadi siapa sebenarnya pencipta sebutan warna itu, saya jadi pengen tahu. Tapi paling tidak, saya jadi kenal ada warna-warna seperti itu :D

Saya mengenal Prisca pertama kali di novel berserinya Love Theft. Salah satu karakter di novel itu, saya pikir mirip dengan penggambaran sosok Hane-san disini. Sosok-sosok di manga dengan baju serba hitam, rambut sebahu dengan layer, hidung lancip, sudut mata runcing, dengan senyum menyeringai hahahaha.... Mirip dengan malaikat pencabut nyawa atau dewa cabul di manga erotis Fairy tale wakakakaka.... Terus terang saya suka dengan gaya bercerita Prisca, apalagi dengan sentuhan Jejepangan di dalam ceritanya. Saya jadi penasaran seberapa obsesinya si mbak penulis ini dengan Jepang, karena satu buku sebelumnya juga ber-setting di Jepang, dan satu karakter dari Love Theft juga orang Jepang. Obsesi saya terhadap Jepang masih sebatas nonton film, dorama, anime, manga dan beberapa show di Youtube. Untuk menulis, kayaknya ngga deh. Ngga bakat. Lah jadi tsurhat :D :D :D Well, ending-nya sebenarnya agak bikin kening saya berkerut, tapi ya sudahlah. Terima kasih untuk info tentang warnanya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar