Dawuk by Makhfud Ikhwan


Paperback 182 pages
Published by Markjin Kiri, Juni 2017
Rating 3/5

Saya mengenal karya Makhfud Ikhwan pertama kali melalui novelnya berjudul Kambing dan Hujan-kisah cinta berbalut perbedaan Muhammadiyah dan NU. Novelnya kali ini, saya sedikit berharap akan balutan politik atau sesuatu yang lain, yang membuat saya sangat pingin membaca novel satu ini...

Proses membaca pun dimulai. Cerita dimulai dengan Warto Kemplung yang haus perhatian dengan menceritakan kisah tentang tragedi di Rumbuk Randu, tragedi yang melibatkan Mat Dawuk, tokoh utama kisah ini. Mat Dawuk digambarkan sebagai sosok buruk rupa yang haus darah, temperamental, dan berdarah dingin. Tak dijelaskan bagaimana ia bisa memperoleh ilmu bela diri, tapi buta huruf. Diceritakan Mat Dawuk memiliki kakek yang tinggi ilmunya yang menghilang di hutan dan tiba-tiba muncul ketika sang cucu terlibat masalah hukum.


Proses membaca saya sudah sampai tengah. Tapi saya belum melihat balutan apa yang menjadi kisah sampingan dari novel ini. Sinopsis yang saya baca di belakang buku menyinggung tentang kemenangan Golkar atas Petiga di suatu pemilihan umum. Apakah kisah ini bakal menyinggung tentang Orde Baru seperti novel-novel Okky Madasari, atau Ahmad Tohari atau penulis lain yang sering berbalut politik. Tapi kadung basah, saya berusaha terus melanjutkan membaca.

Kisah romantis antara Mat Dawuk dan Inayatun seperti kisah Beauty and The Beast bernuansa India. Dari suasana rumah pinggir hutan yang dipenuhi pepohonan, memungkinkan mereka bernyanyi ala India, berlarian dan main petak umpet di antara pohon-pohon, hahahaha... Belum lagi kisah pertemuan mereka yang diawali dengan penyelamatan gadis cantik di sarang penjahat. Ditambah adegan adu jotos dan dimenangkan oleh si buruk rupa berhati emas. Tsaaaahhh... :D Tapi bukan lokal jika kisah ini tidak dibumbui dengan penguasa setempat yang melegalkan segala acara demi menyingkirkan si buruk rupa.

Singkatnya, saya sedikit kecewa dengan novel Makhfud Ikhwan kali ini. Saya masih suka dengan jalinan kisahnya, bahasanya yang mengalir dan humor yang ditawarkan meski tidak terlalu menimbulkan gelak. Tapi saya berharap drama seperti yang saya dapatkan di Kambing dan Hujan. Mungkin bukan agama, tapi sesuatu yang laiin yang membuat tetap intens membaca hingga akhir. Oya, di bagian akhir, saya sedikit skip di beberapa bagian. Yang terakhir, melihat banyak teman saya memberi rating tinggi untuk novel ini, dan saya cukup memberi 3 bintang, itu hanya sekedar selera. Selera saya memang hanya mampu memberi rating segini. Terus gimana dong? Ya gak popo laahh... :D

Belum ada Komentar untuk "Dawuk by Makhfud Ikhwan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel