Kamis, 17 Januari 2013

Harry Potter and The Philosopher’s Stone

Paperback, English version, 332 pages
First edition published 2000 by Bloomsburry publishing
Rating 5/5


Bagi pembaca buku, siapa saja, genre apa saja, saya yakin seyakin-yakinnya dia pasti kenal Harry Potter. Entah dia baca atau tidak, gaung ke-ajaib-an Harry Potter pasti pernah ia rasakan. Sekitar tahun 2001, saya pernah mencoba menolak pesona Harry Potter ketika seorang teman bercerita betapa susahnya antri novel ini di sebuah book rental dekat kampus. Saya yang waktu itu awam tentang novel JK. Rowling ini cuek saja. Saya mulai tertarik ketika teman2 kantor saya juga heboh. Peminjaman antar teman pun juga ngga kalah antri dengan di rental buku. #sigh

Saya yang akhirnya kebagian meminjam entah di giliran yang ke berapa baru tahu mengapa buku ini begitu ajaibnya. I was under its spell literally!!! Seingat saya, saya membaca 4 judul pertama Harry Potter ini sekaligus. Saya juga mengalami penyakit yang sama yang beredar para potterhead, Hogwart headache!! Saya shock setelah membaca akhir cerita di Goblet of Fire, dan menyadari bahwa ini bukanlah buku untuk anak-anak. #telatkalinyadarnya…. 

Harry Potter, yatim piatu setelah ditinggal orangtuanya, James dan Lily Potter, harus tinggal bersama paman dan bibinya, Uncle Vernon dan Aunt Petunia. Harry tumbuh bersama Dudley si Gendut Dursley yang sering kali mem-bully Harry dengan menjadikannya sangsak tinjunya dan tempat sampah untuk baju-bajunya yang kesempitan. Harry tak pernah bermimpi bahwa dia adalah seorng penyihir yang namanya sudah terkenal di dunia non Muggle—sebutan untuk non penyihir. Setelah surat undangan bersekolah di Hogwarts, Harry baru tahu potensi dirinya, masa lalu orangtuanya sekaligus masa depannya sebagai penyihir.


Di sekolah. Harry bersahabat dengan Hermione Granger dan Ronald Weasley. Ketiga anak Gryffindor ini saling membantu dalam segala hal, meski pada awalnya Hermione digambarkan sedikit menyebalkan dengan sikap sok tau (tapi memang dia tau sih hihihi) segala hal yang bisa ia dapatkan dari buku-buku. Sebaliknya Harry, dari darah ayahnya mengalir sikap dan sifat yang hampir sama, rules breaker. Tentu saja Harry punya alasan untuk menjadi penentang aturan, menurutnya. Keterlibatannya di sekolah sihir Hogwarts, para pengajarnya, dan rahasia kematian orangtuanya mengakhiri mimpi buruk 11 tahun tinggal bersama pamannya. Sebagai gantinya, Harry harus berani menghadapi mimpi buruk lain yang sayangnya bukanlah mimpi. Dia harus menghadapi his lifetime enemy. You-Know-Who aka Tom Riddle aka Voldemort. 

***

Sudah lebih dari 11 tahun lalu pertama kali saya membaca novel ini. Ikut Hotter Potter Reading challenge adalah salah satu bukti kecintaan saya akan Harry Potter dan membuktikan bahwa buku ini akan tetap menjadi best of the best book I’ve read in my life. Meski ini adalah re-read, saya tak ada niatan untuk skip sana sini, seperti kebiasaan saya di buku-buku lainnya. Ketika saya mendapati deskripsi detil akan suatu tempat, detil sifat dan bentuk tubuh seseorang, saya akan secepatnya skip. Tapi Rowling mampu membuat saya membaca detil menyebalkan bahkan uncle Vernon, Dudley hingga Malfoy! Beberapa bagian masih tetap membuat saya ngakak dan bahkan masih berdebar di bagian kejar2an antara Harry dan Mr. Filch. Ohya, saya masih sedikit menyesal, kenapa Peeves si hantu usil tidak masuk dalam versi film, sementara sir Nicholas dan beberapa hantu asrama lainnya saja terlihat gentayangan sana sini. 

Oya, selama membaca ini, saya jadi mengingat setiap detil adegan film, mana yang dihilangkan dan mana yang ditambahkan. Saya menunggu adegan Hermione memecahkan teka teki racun Snape yang mengingatkan saya pada game Prince of Persia jadul, tapi ternyata ditiadakan. Skak mat Harry di akhir game catur, setelah Ron mengorbankan dirinya tidak ada di buku. Terbayang tubuh kecil Daniel Radcliffe waktu itu berhadapan dengan raja catur, dan mengatakan “Check mat!” Dhuh, mana DVD saya ya? :D

OK, overall, saya senang akhirnya membuat review untuk this lifetime favorite book. Thanks to Melisa Mariani yang sudah mengadakan baca bareng Harry Potter, yang sempat mengacaukan challenge lainnya hahaha…

Untuk buku seri satu ini, menurut  http://harrypotter.bloomsbury.com/author/awards, anak-anak yang bisa/ boleh membaca ini adalah

Harry Potter and Philosopher's Stones awards:

Nestlé Smarties Book Prize 1997 Gold Medal 9-11 years
FCBG Children’s Book Award 1997 Overall winner and Longer Novel Category Birmingham
Cable Children’s Book Award 1997
Young Telegraph Paperback of the Year 1998 Carnegie Medal 1998 (Shortlist)
British Book Awards 1997 Children’s Book of the Year
Sheffield Children’s Book Award 1998
Whitaker's Platinum Book Award 2001
 Sumber dari sini

Note:

Postingan ini saya ikutkan dalam 4 Reading Challenge:

5 komentar:

  1. Eh? Main Prince Of Persia juga??? *malah OOT*

    BalasHapus
  2. hahaha,4 challenge sekaligus

    BalasHapus
  3. Huaaa....reviewnya padat dan jelas. Jadi kepikiran edit reviewku. #pusing

    BalasHapus
  4. Harry Potter ini serial yg bertambah dewasa.. seiring bertambahnya usia Harry, bertambah pula usia pembaca yg seharusnya

    BalasHapus
  5. Iya kan banyak yang udah pernah baca seri ini tapi belum buat reviewnya... makanya aku bikin event ini, hehehe.

    BalasHapus