Jumat, 25 Januari 2013

Here Lies Bridget by Paige Harbison

Ebook format, 224 pages
Published February 1st, 2011, by Harlequin Teen
Rating: 4/5 stars

Tiada yang tak kenal Bridget Duke di lingkungan sekolahnya. Cantik popular, anak dari penyiar acara olahraga ternama, Richard Duke. Sayangnya, kepopulerannya membuahkan caci maki di dinding kamar mandi sekolah. Bridget yang merasa dirinya dicintai, seua perintahnya dipenuhi, tak ada yang berani mengatakan ‘Tidak’ padanya merasa shock. Bahkan Michelle, sahabat terdekatnya pun memilih meninggalkannya. 

Semua bermula dari kemunculan Anna Judge di sekolah. Anna tiba-tiba merenggut kepopuleran Bridget, bahkan mengambil Liam dari sisi Bridget. Semuanya tiba-tiba memusuhi Bridget. Masalah dengan Mredith, ibu sambungnya, Mr. Ezhno, guru komputernya, serta sahabat karibnya, Michelle, memicu Bridget untuk mengakhiri hidupnya. Dia dapatkan kembali kekuasaannya, meski hanya pada kekuasaan atas mobilnya. Dia injak pedal gas kuat-kuat. Dia ingin tahun, ada berapa orang yang bakal menangisi kepergiannya, berapa banyak orang yang merasa kehilangan atas dirinya, betapa orang-orang akan menyesal akan apa yang telah mereka lakukan terhadapnya. Tapi ternyata Bridget salah… Mobilnya menghantam pohon dengan keras, tapi dia tetap hidup tanpa luka sedikitpun. Dia dapati Anna di depannya. Tersenyum. Dan orang-orang yang dekat namun paling sering disakiti olehnya: Meredith, Michelle, Ezhno, Brett, Liam…


Akankah Bridget mati? Apakah orang-orang di sekitarnya akan benar-benar kehilangan atas dirinya?

Comments:

Terakhir saya mengecek surat kabar, masih saja ada berita seputar kenakalan remaja. Sinetron remaja, masih juga seputar bullying. Here Lies Bridget mungkin adalah salah satu novel yang berpusar pada juvenile delinquency alias kenakalan remaja yang tidak hanya popular di dalam negeri tapi tentu saja lebih banyak di luar negeri. Yang membedakan adalah novel ini bercerita dari point of view si pelaku bullying itu sendiri, bukan dari korban bullying. Bridget benar-benar sosok dumbass yang menyebalkan, tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah. 

Meski terkenal semena-mena, namun dalam hatinya, Bridget cukup sering menyesali apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Kata-kata nyinyirnya terhadap Michelle, nyolotnya pada ibu sambungnya, Meredith, bahkan pencemaran nama baik terhadap guru kelas dan teman sekelasnyanya sempat ia sesali. Namun sayangnya, rasa sombong dan kekuasaan membutakannya. Mungkin saja, Paige sebagai penulis ingin menunjukkan bahwa sebenarnya para pelaku bullying itu punya hati. Hanya, apakah dia mampu mendengarkan kata hatinya atau tidak, itu yang menjadi persoalan. Bridget lebih memilih mengabaikan dan terus menerus melakukan kekerasan, terutama dalam kata-katanya. Hingga suatu hari dia harus menelan pelajaran pahit dari Anna.

Novel yang cukup tipis ini mempunyai problem yang tidak terlalu kompleks sebanarnya, semuanya hanya berpusat pada Bridget. POV pun diambil dari sudut Bridget. Sedikit memudahkan bagi pembaca dan terutama saya untuk menyelami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh Bridget. Paige bisa saja ingin menyampaikan pesan bahwa pelaku kejahatan itu mempunyai waktu untuk memperbaiki diri jika ia mau, jika ia bertemu dengan suatu keadaan yang bisa mengubahnya menjadi lebih baik. Butuh moment of truth dimana ia bisa menunjukkan siapa dirinya tanpa mengandalkan kekuasaan yang ia miliki. Bridget memiliki itu, tapi apakah ia akan mengambilnya untuk perbaikan dirinya atau tidak. Setiap pelaku bullying, dalam bentuk apapun, dimanapun dan kapanpun, saya pikir akan selalu mendapatkan moment penting ini, dan ia akan tetap dihadapkan pada dua sisi, menyadari kesalahannya atau meneruskan kesalahannya. 

PS:
Postingan ini saya ikutkan dalam beberapa Reading Challenge:


 

8 komentar:

  1. wah menarik nih... biasanya kita baca dari sisi korban saja ya...

    BalasHapus
  2. Mabk, ini yg kmrn dpt free juga kah? :D

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Rie: iya, baru sekarang aku nemu juvenile delinquency dari sudut pelaku :)

    Dani: iya, Dan. Mau kah? :p

    BalasHapus
  5. Aku juga mau mbak Lilaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, kan sudah ku forward? Belum masuk ya? (-_-;)

      Hapus
  6. Baca ebooknya di komputer ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adhuh, vaan. Aku kan punya e reader, yang pernah ku tulis di blog sini juga #jitak

      Hapus