Minggu, 24 Februari 2013

Lola And The Boy Next Door (Stephanie Perkins)

Ebook, epub format, 232 pages
Published September 29th, 2011 by Dutton Books
Rating 4/5

Abis baca novel ini, rasanya pengen nyanyi empat lagu sekaligus…

Her name is Lola, she was a show girl…. (Coppacobana by Barry Manilow)
It’s my first love, what I’m dreaming of, when I got to bed…. (First Love by Nikka Costa)
Maybe first love never ever dies; That’s why I’m still in love with you… 
Cricket Bell… Cricket Bell, Cricket all the way… (errr…. Apa dan siapa yah :D )

Gemes rasanya dengan cowok satu ini. Sempurna banget sih ya, tapi kok ngga ngeseli ya. Biasanya cowok sempurna macam Fahri di AAC itu malah ngeseli karena kita tahu cowok macem gitu ngga bakal ada. Tapi tetep saja ngarep, semoga cowok macem Cricket ini ada, meski cuma 10 di dunia, satunya buat saya …. Hwakakakakaka…

Lola, gadis 17 tahun yang sebenarnya ngga loading lambat, tapi terkadang ngeseli juga karena sering kali mengingkari perasaan sukanya pada cinta pertamanya. Perasaan campur aduknya itu ada karena Max, pacar-nya yang penyanyi rock sexy, yang berumur 22 tahun, sangat kepayang pada Lola. Melihat jeda usia yang 5 tahun, sebenarnya tidak masalah ketika Lola sudah tak lagi bau anak SMA, tapi karena dia masih sekolah, maka label anak2 masih melekat padanya. 


Meski masih teen, Lola sangat gila dandan, karena cita2nya menjadi desainer kostum. Sebelum ia benar2 mendesain kostum orang lain, dia mendesain untuk dirinya sendiri. Maka, penampilan Lola sangat berwarna warni tiap hari, dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki. Untuk urusan kostum, tiada hari tanpa being sparkly. Dengan signature seorang Lola, seluruh tetangga hingga teman kerja dan sekolah mengenal Lola dengan ‘warna’nya.
Perasaan mabuk kepayang dua anak manusia, Lola-Max, despite their different age, sangat romantic bahkan cenderung panas. Lola merasa Max adalah the one for her. Tinggal menunggu lulus SMA, dia akan ‘hidup’ bersama Max, pagi sebagai desainer kostum, dan malam hari mendampingi sang pacar manggung. Keliling ke seluruh penjuru negri. Berdua. Semua berantakan dengan kemunculan tetangga, Cricket, yang sekaligus cinta pertamanya. 

Lola dan Cricket serta saudari kembarnya yang ngeseli, Calliope, tumbuh besar bersama. Sebagai seorang atlet skating, Calliope dan keluarga harus hidup berpindah, mengikuti dimana dan kapan saja Calliope berada. Cricket remaja yang digandrungi Lola secara diam2 juga harus pergi, meninggalkan pedih di hati. Owh..owh…owh…  Kemunculan Cricket yang sewaktu-waktu nongol di jendela kamarnya, yang bersebrangan sangat dekat dengan kamar Lola, tentu saja membuat Lola kembali menahan rasa. Rasa ingin melihat Cricket tiap saat, rasa ingin menyentuh rambutnya yang selalu mendongak ke langit, dan rasa ingin menyelinap masuk ke kamarnya. Tapi, ada Max di sisi lain hatinya. Duh….

Comments:

Saya mengenal Stephanie Perkins pertama kali lewat Anna and The French Kiss. Dan untunglah saya menemukan novel itu terlebih dahulu karena itu adalah prequel dari Lola and The Guy Next Door ini. Sosok Anna – Etienne St. Claire tetap hadir di novel kedua ini. Tidak terlalu dominan, tapi Perkins selalu mampu memberi porsi yang menyenangkan untuk karakter pembantu lainnya. St. Clair tetap kocak dan menyenangkan seperti dalan novel pertama, meski porsi main male character adalah Cricket Bell. Meski tidak sebanyak porsi St. Clair, Anna tetap saja muncul sebagai Anna yang dulu, minus kegalauannya. Tentu saja, galaunya dulu disebabkan perasaan terpendamnya pada St. Clair yang sekarang sudah jadi pacarnya. 

Porsi orangtua Lola diceritakan sangat unik. Lola dibesarkan oleh dua ayah yang gay, sementara ibu biologisnya adalah saudara muda dari salah satu ayahnya, Nathan. Mereka sangat protektif menjaga Lola untuk menghindari kejadian hamil muda ibunya yang kurang bertanggung jawab. Sosok Norah, ibu Lola, juga unik, mengingatkan sayaa pada Professor Trelawny di Harry Potter. Dia berprofesi sebagai fontune teller yang membaca sisa teh di cangkir. Hohoho… ada ya ternyata? Quote dari seorang fortune teller cukup menyentuh juga. 


“The secret (to fortune telling) is that I don’t read leaves. And palm readers don’t read palm, and tarot readers don’t read cards. We read people. A good fortune teller reads the person sitting across from them. I study the signs in their leaves, and I use them to give an interpretation of what I know that person wants to hear. People prefer paying when they hear what they want to hear” (Norah)

So, can we believe in what the fortune teller as soon as we know the secret? I still do, hahaha…

Hubungan complex antara Lola-Norah juga mempunyai porsi penyelesaian yang menarik. Demikian juga dengan hubungan Lola-Calliope. Keceemburuan saudara kembar yang terancam saudara kembarnya akan mengurangi perhatian karena pihak ketiga, sama panasnya dengan pihak ketiga dari hubungan percintaan.
Di novel juga saya dapatkan kenyataan unik dari sejarah masa lalu Alexander Graham Bell, yang kalo dirunut silsilahnya adalah kakek dari kakak kakeknya (entaha kakek ke berapa) nya Cricket Bell. Kenal kan ya siapa itu Graham Bell, a great inventor. Sebagai cucu, Cricket juga mempunyai talent sebagai inventor. Tapi kenyataan kakek moyangnya ini tidak membuatnya bahagia. 


“History books are filled with lies. Whoever wins the war tell the story”.
“But Alexander was still a smart man. He was still an inventor. You get that much honestly. Life is not what you get, it’s about what you DO with what you get.” (Cricket, 155)
 Bukan Perkins kalo karyanya tidak bertaburan kata2 sweet romantic. Quote yang saya suka:

“So you believe in second chances?” I bite my lip.
“Second, third, fourth. Whatever it takes. However long it takes, if the person is right.” Cricket adds.
“If the person is……. Lola?”
“Only if the other person is Cricket.”
#lututlemahlunglai
Cricket. Cricket. Cricket ….. #kok jadi bunyinya jengkerik ya? LOL

Note:
Posting ini saya sertakan dalam Reading challenge berikut:
1.       What’s in A Name Reading Challenge
2.       English Books Reading Challenge.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar