Minggu, 03 Februari 2013

Maryam – Okky Madasari


Paperback, 275 pages
Published February 23, 2012, by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5

Apakah definisi sesat itu? 

Menurut Kamus Bahasa Indonesia online (1) tidak melalui jalan yang benar, salah jalan; (2) berbuat tidak senonoh; menyimpang dari kebenaran.

Kata sesat sering disematkan pada orang-orang yang kita anggap menyalahi aturan secara social dan terutama secara aturan agama. Ketika seseorang tidak melakukan sesuatu yang dianggap tidak umum dilakukan sebagian besar orang, maka niscaya ia akan dianggap sesat. Pertanyaannya adalah apakah yang umum dilakukan sebagian besar orang itu siapa yang menjamin bahwa itu adalah benar, bukan sesat?

Maryam Hayati, perempuan yang kebetulan terlahir di keluarga Ahmadiyah, selama hidupnya merasa terkungkung dengan kata sesat yang disematkan pada dirinya. Bahkan ketika ia berada jauh dari lingkungan Ahmadi pun, bersedia melepas keyakinannya sejak kecil, ia masih membawa label sesat. Seberapapun usaha Maryam menunjukkan usaha ‘ketidak sesatannya’, label itu tetap saja melekat. 

Menikah dengan keluarga non Ahmadi, Maryam sadar sepenuhnya dengan konsekuensinya. Ibu mertua yang tak habis-habisnya menyindir akan jalan sesatnya, hingga tidak ada kehadiran keturunan membuat semua masalah kembali berujung pada jalan sesat yang pernah dilaluinya. 

Keluarga Maryam yang tinggal di Gerupuk, Lombok, tak kalah marah dengan label sesat ini. Bersama ratusan anggota keluarga Ahmadi, mereka harus lapang dada menghadapi pengusiran warga setempat. Hukum negara serasa tak berlaku di tanah ini. Tak ada perlindungan warga, tak ada perlindungan hak milik. Semua harus hengkang. Hancurkan dan bakar.

###

Sesak napas saya membaca novel pemenang KLA tahun 2012 ini. Inikah wajah bangsa saya yang (dulu) terkenal penuh senyum, ramah? Tindakan brutal atas nama agama terasa disahkan, meski harus menghancurkan, membakar bahkan kalau perlu membunuh. Darah Ahmadiyah itu halal (hal. 223). Seperti itukah yang dinamakan membela agama? Apakah ini juga termasuk jihad? Jihad seperti inikah yang dilakukan Rasulullah berabad yang lalu? Saya yakin tidak. 

Terus terang, sebelumnya saya tidak mengenal apapun seputar Ahmadiyah. Yang saya tahu adalah beritanya sering kali muncul di surat kabar atau media elektronik. Konyolnya, setiap kali Idul Fitri, berita yang paling saya tunggu adalah berita kapan para jamaah Ahmadi ini melakukan sholat Ied. Dan memang sih, jamaah ini selalu mempunyai waktu berbeda dari sebagian besar Muslim di Indonesia. Tapi apa bedaanya dengan perbedaan penentuan hari raya Islam yang sering kali berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah? Kenapa perbedaan ini tidak mendapat cap sesat? Kedua belah pihak bisa saja meng-claim siapakah yang sesat dan mana yang tidak. Tidak ada garis yang jelas yang mana yang keluar jalan atau menyimpang. Ketika yang satu memakai metode tertentu untuk menentukan hari raya, dan jamaah Ahmadi juga mempunyai cara tertentu, kenapa harus diberi label sesat?

Bagi beberapa orang yang mengenal saya, mungkin ada beberapa juga yang menganggap saya sesat. Ketika banyak orang marah dengan kartun Rasulullah yang digambarkan tidak senonoh, saya tenang-tenang saja. Apakah saya tidak mencintai Nabi saya? Well, saya tidak mau munafik. Di jaman modern begini, bombardir hal-hal yang menjauhkan dari cinta terhadap Nabi tak terhitung banyaknya. Saya lebih greng ketika saya membaca berita seputar bintang film kesayangan saya dibanding mendengar tausiyah seputar mencintai Nabi. Bagaimana mungkin saya greng mendengar tausiyah, jika saya eneg dengan si pemberi tausiyah? Tapi nyatanya, bibir saya tak henti membaca sholawat Nabi di kala perjalanan ke dan dari kantor? Sebelum tidur pun saya lebih memilih membaca sholawat dibandingkan menyebut nama bintang film favorit saya. Pamor Nabi SAW tak lekang dengan berita2 tak senonoh itu bagi saya. Tak perlu saya ikut-ikutan menghujat si penggambar kartun. Ikutan gelombang penuh emosi banyak orang. Apa saya sesat?

Isu SARA hingga saat ini memang tak kunjung usai. Berita seputar pelecehan seorang pengacara terhadap wakil gubernur Jakarta tak habis-habisnya mengganggu timeline social media saya. Seorang teman seringkali menyukai status tersebut ataupun memberi komentar. Ketika saya buka, para pemberi komentar hampir semua memberi komentar yang isinya caci maki terhadap si pengacara. Apakah itu berarti mereka tak pernah melakukan pelecehan SARA? Maaf, saya ragu. Bangsa ini terlalu gampang dibakar tanpa berpikir panjang. 

Untuk merasakan menjadi minoritas, saya rasa seseorang harus berada di posisi tepat sebagai minoritas. Sayangnya, banyak dari kita selalu menjadi mayoritas. Dan itu berarti, kita tidak pernah berganti lingkungan, tak pernah mencoba berganti lingkungan, nyaman dan aman dengan lingkungan. Bergejolak bersama dengan mayoritas, entah benar entah sesat. Semua nyaman dan aman ketika mayoritas bersama kita. Sayang dan mengerikan sekali.

Note:
Novel ini saya sertakan dalam dua Reading Challenge

1.       What’s in A Name, ada konten nama di judul bukunya
2.       Finding New Author Reading Challenge. 

Nama Okky Madasari adalah nama baru bagi saya meskipun kalau tidak salah sudah ada 3 bukunya yang dirilis selain Maryam, 86 dan Entrok. Meski nama baru (buat saya), saya cukup menikmati tulisan Okky.  Beberapa bagian terasa mirip sinetron, tapi untunglah Okky tidak terjebak dengan ‘manis’nya sinetron yang biasanya berujung happily ever after setelah si jahat kalah. Dengan topic utama masalah yang berhubungan dengan SARA, Okky sangat baik menyampaikannya. Emosi Maryam sempat menular pada saya. Dan saya sadar, masalah ini masih sangat sensitive di masyarakat kita. Salut buat Okky Madasari. Selamat untuk kemenangannya di KLA 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar