Minggu, 24 Februari 2013

Saga No Gabai Bachan by Yoshichi Shimada



Paperback, 264 pages
Published April, 2011 by Kansha Books
Rating: 3,5/5

Menjadi miskin bukan pilihan setiap orang. Tapi menjadi miskin yang riang gembira bisa dipilih setiap orang. Pertanyaan adalah, bisakah seseorang gembira di tegah-tengah kemiskinan?

Bisa sekali. Paling tidak ini adalah jawaban yang diberikan oleh nenek Osano yang hidup dalam kemiskinan garis keras. Ternyata bukan hanya fraksi agama saja yang bisa mempunyai garis keras, tapi juga paham kemiskinan.

Bom baru saja melanda Hiroshima Nagasaki ketika Akihiro harus kehilangan ayahnya. Ibunya yang sibuk berdagang, memilih menitipkan akihiro di desa Saga bersama neneknya. Nah, neneknya inilah yang mempunyai paham kemiskinan garis keras. Bayangkan saja, gaji sebagai seorang tukang bersih sekolah pastilah sangat sulit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tapi, Akihiro tidak pernah kekurangan makan berkat supermarket istimewa neneknya. 


Tepat di depan rumah nenek, ada sungai yang selalu membawa segala macam dari berbagai sumber, terutama pasar. Di sanalah sang nenek meletakkan galah, yang nantinya segala yang mungkin mereka bisa dibutuhkan akan tersangkut di dalamnya. Itulah supermarket istimewa nenek. Timun, apel, lobak, sawi putih, hingga sandal kayu akan terbawa arus sungai dan memberi keuntungan bagi nenek-cucu ini. Belum lagi kebiasaan nenek yang selalu meletakkan magnet di seutas tali yang diletakkan di pinggangnya. Selama perjalanan, magnet ini akan menarik segala sampah logam yang bisa dijual kembali dengan hasil lumayan. “Benda yang di dapat dari memungut sekalipun, belum tentu pantas dibuang.” (Nenek, hal. 73)

Nenek Osano tidak hanya cerdik dalam hal mengatasi kemiskinan, tapi juga mengelabui Akihiro yang polos. Udang karang sebagai lauk Akihiro dikatakan sebagai lobster yang dipercaya mentah2 oleh cucunya, hingga membuat terheran-heran wali kelasnya. Bagaimana mungkin, keluarga miskin bisa menikmati lobster. Belum lagi pilihan olahraga Akihiro yang membutuhkan biaya besar. Judo dan Kendo paling tidak membutuhkan seragam dan juga peralatan. Nenek yang miskin tentu saja keberatan dengan biaya olahraga yang mahal itu. Sebagai gantiya, Akihiro dia suruh berolaahraga lari. Gratis tempat dan graatis kostum. Hahaha… sebagai anak-anak yang polos, Akihiro menurut. Dan inilah yang kemudian menjadi kelebihannya di masa remaja kelak.

Menurut nenek Osano, miskin dibagi dua, miskin muram dan miskin ceria. Dan mereka adalah miskin yang ceria. Selain itu, mereka bukanlah baru-baru ini menjadi miskin, jadi tak ada yang perlu dicemaskan. Tetaplah percaya diri. Keluarga mereka memang sudah turun temurun miskin. Menjadi kaya, menurut nenek adalah hal yang tidak enak. Makan enak, selalau bepergian, hidup selalu sibuk. Belum lagi pakaian selalu bagus. Hingga kalau para orang kaya ini jatuh, mereka harus memperhatikan jatuh merekaa. Sedangkan orang miskin yang selalu baju kotor, di waktu panas atau hujan, sehingga jika mau duduk di tanah, jattuh, ya terserah saja. “Untung saja kita ini miskin”, kata nenek. 

What can I say about this? What can you say about this? Speechless. 

Berapa orang yang sangat menerima kehidupan mereka sebgai orang miskin? Berapa orang yang mampu mengatasi masalah di kala kemiskinan tengah melanda? Nenek Osano adalah nenek hebat yang cerdik mengatasi keadaan sulit, bahkan di masa Jepang yang tengah sulit setelah pengeboman Nagasaki Hiroshima. Kemiskinan tidak membuatnya pelit, apalagi yang berhubungan dengan sesaji kepada dewa-nya. Bahkan pada tetangga yang meminta bantuan, hingga keinginan membahagiakan cucu tercinta dengan membelikan sepatu mewah seharga 10.000 yen. Dan ini yang membuatnya terkenal di seantero desa Saga. Para guru, hingga dokter setempat sangat memahami keadaan nenek Osano. Dan ini yang membuat nenek mempunyai quote yang menyentuh: “Kebaikan yang sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain yang menerima kebaikan.”

Comments:

Saya pertama kali di tag seorang teman untuk review buku ini, entah mengapa saya kurang tertarik membacanya. Namun ketika Okky, target Secret Santa saya tahun lalu menge-tag saya review ini karena mengirimnya sebagai kado Secret Santa, entah mengapa saya jadi tertarik, dan berniat membeli. Dan benar pilihan saya, saya menyelesaikan buku ini hanya dalam hitungan jam. Duduk. Dan tenggelam dalam kisah Akhiro Tokunaga tentang neneknya yang hebat. Kecerdikannya membuat saya teringkal-pingkal sekaligus tersentuh. Sekilas buku ini mengingatkan saya pada Totto Chan, Gadis Kecil di Jendela. Dan ternyata, Tetsuko Kuronoyagi mempunyai andil cukup besar dalam mempopulerkan buku ini. 

Yoshichi Shimada yang sekarang berprofesi di bidang pertelevisian dan panggung, mempunyai pandangan  yang bijaksana dalam kehidupannya. Baginya, tak ada benda bermerk, interior canggih, atau sajian mewah. Yang ada hanya sandang, pandang dan papan yang sederhana. Kesederhaan inilah yang ia ingin sampaikan dari bukunya. 

Meski tidak sekocak Totta Chan, cerita yang diambil dari latar belakang sesudah pengeboman Jepang ini, tetap saja kisah Nenek Hebat dari Saga ini sangat menghibur. Sangat cocok untuk bacaan ringan di kala suntuk dengan bacaan serius… :D

3 komentar:

  1. kagum sama pemikiran nenek Osano. beliau juga nggak merasakan kemiskinan sebagai suatu penderitaan tapi berjuang mengatasi keterbatasan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hebat ya. Jaman sekarang mana ada yang bisa ceria di kala miskin. Yang kaya aja belum tentu bisa ceria :)

      Hapus
  2. Saya juga suka cerita ini, sangat memotivasi :)

    BalasHapus