Kamis, 28 Februari 2013

The Invention of Hugo Cabret by Brian Selznick



Paperback, 541 pages
Published January, 2012, by Mizan Fantasy
Rating: 4/5

Kecintaan seseorang terhadap sesuatu atau seseorang  bisa mewujud dalam berbagai bentuk ekspresi. Kecintaan Brian Selznick terhadap film dan Georges Meliies terwujud dalam kisah spektakuler The Invention of Hugo Cabret. Kecintaannya itulah yang melahirkan Hugo Cabret yang dalam ekspresi cintanya pada peninggalan ayahnya, dia berusaha setengah mati untuk mewujudkan temuan automaton rusak menjadi hidup. 

Hugo Cabret hidup sebatang kara setelah kematian ayahnya. Kehidupannya bersama pamannya tidak memberi perbaikan apapun. Alih2 lebih baik, Hugo diperkerjakan oleh pamannya untuk menjadi tukang jam di penjuru kota; memeriksa jam, memutarnya, memberi minyak pada putaran yang aus. Hingga suatu hari, Hugo tertangkap tangan Georges Mellies ketika ia mencuri sesuatu di toko mainannya. Hukuman yang diterima Hugo adalah diambilnya buku catatan peninggalan ayahnya untuk meneruskan automaton yang ditemukan dalam kondisi rusak. Meski dalam keadaan menyedihkan, Hugo sudah jatuh cinta pada benda berbentuk manusia duduk dengan pulpen di tangan itu. 


Hukuman kakek Georges Mellies pada Hugo berlanjut ke aktifitas Hugo di toko mainannya sebagai asisten reparasi mainan rusak. Bakat ayahnya mengalir deras di darahnya. Kesempatan ini dimanfaatkan Hugo untuk mencuri alat2 atau benda yang dibutuhkan Hugo untuk menyelesaikan perbaikan automatonnya. Hingga pada sentuhan akhir, Hugo membutuhkan kunci bermata hati untuk mengaktifkan automaton dan mengetahui apa yang bakal ditulis olehnya. Masalahnya, kunic berbentuk hati itu dimiliki oleh Isabel, putri angkat Mellies. Apa hubungan antara automaton, Isabel, Mellies dan ayah Hugo? 

Comments:

Sangat jarang bagi saya untuk bisa menikmati novel yang sebelumnya saya sudah tonton versi filmnya. Flipped dan The Boy in Striped Pajamas gagal membuat saya menikmati bacaan karena tidak ada suspens yang berbeda dari versi filmnya. Tapi berbeda dari novel karangan Brian Selznick ini. Kekhawatiran saya tidak bisa menikmati bukunya karena spoiler dari filmnya tidak terbukti. Mungkin yang membedakan adalah, 2 film yang saya tonton sebelumnya, saya sangat menikmatinya, sebaliknya, versi layar lebar Hugo membuat saya mengantuk di bagian akhir. Saya bahkan lupa bagian mana scene serunya dan bagian endingnya saya bertanya tanya mengapa Hugo dan Isabelle berada di suatu tempat yang berhubungan dengan film. Hahaha… 

Selain itu, grafis dalam novel ini begitu indah, hidup, hingga menciptakan suspens tersendiri. Saya sangaaat menikmati tiap gambar yang uniknya bercerita layaknya paragraph kata2 di dalam novel. Awalnya, saya berpikir bahwa saya akan menskip tiaap gambar, tapi ternyata porsi gambar itu tidak bisa di skip begitu saja. Selznick sebagai penulis menyebut novelnya bukan novel, bukan pula buku bergambar, atau novel grafis, atau film, melainkan kombinasi dari kesemuanya (Wikipedia).
 Gambar diambil dari google image

Novel yang terbit 2 Juni , 2008 ini memiliki 284 gambar dari 533 halaman novelnya. Novel yang meraih penghargaan Caldecott Medal  tahun 2008 ini telah dirilis adaptasi filmnya. Asa Butterfiled yang imut menghidupkan tokoh Hugo. Saking imutnya, saya lupa kalo hidupnya sengsara hahaha. Film yang dirilis oleh Paramount Pictures dalam format 3D mulai tayang di bioskop tanggal 23 November 2011. Martin Scorsese harus berbangga hati karena film rilisannya ini diganjar 5 penghargaan Oscar, masing2 untuk Best Sound Editing, Best Sound Mixing, Best Art Direction, Best Art Cinematography, dan Best Visual Effect. 



Buku dengan illustrasi indah ini sangat pas diberikan pada anak2 usia 10-13 tahun yang mungkin masih sedikit susah mengunyah bacaan setebal 500 halaman. Ya iyalah. Orang dewasa saja masih sedikit ngeper kalo disuruh baca dengan ketebalan cukup seksi ini. Tapi dengan kesederhanaan ceritanya, saya yakin, mereka bakal mudah memahami isi dari novel ini.
 
 Poster film The Invention of Hugo Cabret diambil dari IMDB
The movie trailer

PS
Postingan ini saya ikutkan dalam 3 Reading Challenge Blogger Buku Indonesia:
1.       What’s in A Name Reading Challenge
2.       Reading Challenge BBI bulan February untuk Oscar winning
3.       Find New Authors
4.       Children Literature, award category

Saya sangat menikmati karya besar Selznick ini. Menurut pengamatan saya dari website searching, Selznick menghasilkan 5 karya lain, The Houdini Box, The Boy of a Thousand Faces, Wonderstruck dan The Robot King. Semuanya mempunyai ciri khas gambar grafis yang memukau. Dari pantauan goodreads, para reviewer rata2 memberi bintang 3-5 untuk buku2nya. Selain itu, Selznick juga menjadi illustrator untuk beberapa buku dari penulis lainnya. Waahh…. Kapan ya buku2 Selznick yang lain diterjemahkan ke bahasa Indonesia secara ebooknya susah didapet #tempeleng…

7 komentar:

  1. hahaha mbak lila maniak ebook, walau tebel baca buku ini bisa cepet banget karena selain tulisan gambarnya juga bercerita, keren banget pokoknya, sayangnya aku belum nonton filmnya, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku punya soft copy, Lis. Mau? Hihihi... Bajakan mulu ya? #pendosanih... :D

      Hapus
  2. Balasan
    1. Arghhhh... Ini kan sudah film tahun lalu banget.... :D

      Hapus
  3. Toss, aku juga ngereview buku ini :D
    Tapi aku malah kebalikan dari Lila, lebih suka filmnya daripada bukunya :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh... Aku mo nonton ulang filmnya ah. Siapa tau jadi suka hahaha...

      Hapus
  4. Setuju, filmnya bikin ngantuk, hi2

    BalasHapus