Senin, 22 Juli 2013

Janji Hati by Elvira Natali




Paperback, 280 pages
Published Juni 2013 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 3/5

First love never dies….. though there must a chance to second, third and next love, but the first would linger forever….

Amanda Tavari menyimpan cinta pertamanya yang berakhir tragis jauh dalam hatinya. Kakak tirinya, Revan Tavari adalah cinta pertamanya yang meninggal karena tabrak lari 3 tahun yang lalu. Selama itu pula, tak ada cinta lain yang hinggap di hatinya, hingga ia bertemu dengan dua cowok, kakak beradik tiri yang sama sama mengisi hatinya, Leo dan Dava. Ia harus memilih di antara mereka. Tapi ternyata cintanya kali ini pun tak bisa bertahan lama. Kematian kakak tercintanya membayangi hubungan antara dirinya dan salah satu dari dua kakak beradik tersebut. Leo dan Dava harus rela Amanda memilih salah satu dari mereka.


Well, sebenarnya itu adalah pokok cerita utama dari novel Janji Hati ini. Bumbu yang ada sebenarnya cukup menarik disimak. Hanya saja, saya cukup ilfeel dengan pengulangan kata yang tersebar hampir di setiap bab, seperti kata pusing. Amanda yang menurut saya cukup labil ini sering mengambil keputusan yang kemudian membuat dirinya pusing, pertemuan dengan dua kakak beradik yang menarik hatinya itu juga membuat dirinya pusing, Dava yang berkarakter ajaib membuatnya pusing, dan berbagai hal lain yang mengakibatkan dirinya pusing, pusing dan pusing. Saya sampe cukup jengkel dengan pengulangan ini. Selain kata pusing, penggambaran Amanda yang cantik bermata bulat juga diulang entah berapa kali. Ditambah jenis mobil yang dinaiki Leo jenis Everest warna biru gelap. Dua kali, saya masih maklum tapi kalo sudah dua tiga kali, aduh, iya iya mobilnya Everest, warnanya biru. Kenapa harus diulang lagi dan lagi???

 Model prolog yang diberikan di awal cerita (ya iyalah, namanya juga prolog), sudah sangat memberi spoiler bagi pembaca. Bagi mereka yang tidak menyukai unhappy ending, saya yakin akan meletakkan buku ini begitu selesai membaca prolog. Karena saya harus menulis review, maka saya harus menyelesaikan buku ini hahaha… Well, saya bukan penulis, tapi setidaknya saya membaca banyak buku yang di awali dengan prolog, tapi itu justru membuat saya penasaran dengan isi cerita, bukan membuat cerita sendiri dalam kepala saya yang ternyata rata rata dugaan saya benar. Jadi, alur cerita ini saking ringannya hingga saya sudah menebak jalan ceritanya begitu selesai membaca prolog. Si ini bakal mati, si itu bakal  bernasib begitu. 

Yang saya cukup salut adalah ternyata penulis ini masih berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku SMA. Secara plot, cukup runtut dan enak diikuti. Jalinan emosi antar karakter cukup mulus. Namun yang menjadi ganjalan adalah banyak adegan disini yang sangat mirip dengan drama drama Asia, sebutlah Korea. Adegan jatuh dan ditangkap, dengan ditambah momen saling beku saling tatap, adegan sakit yang kemudian melumerkan perasaan beku seorang cowok, kaki kesandung dan jatuh di saat yang tepat dalam pelukan, karakter antagonis yang ajaib dan berakhir menjadi protagonist karena hatinya tersentuh (mirip dengan fragmen Agama di TVRI duluuuu), oh oh oh…. Apalagi ya? Well, oke, oke, seperti yang dibilang teman saya, tak ada ide cerita yang orisinal, dan pasti begitu juga dengan adegan adegan di dalam sebuah kisah apalagi sebagai bumbu, saya pikir sah sah saja. Hanya saja, saya jadi berpikir, apa adegan begitu itu ada dalam kenyataan ya? Ato hanya eksis di sinetron saja? Entahlah, saya pribadi belum pernah mengalami salah satu adegan yang menurut saya cukup klise itu.

Overall, novel ini saya rekomendasikan bagi para abege yang suka cerita cerita setipe dengan Ilana Tan atau cerita cerita dengan bumbu manis dan berakhir tragis. Duh, maaf, spoiler ya? Oke, banyak hal manis di dalamnya kok. So, why don’t you give it a try?

1 komentar:

  1. Ok bagus novel aq udah baca dari bab 1-11 emang kata ya diulang ulang tapi aq ingin baca lagi novelnya sampai selesai jadi tolong ada bab 12 sampai akhir aq suka dengan dava yaitu ali

    BalasHapus