Rabu, 28 Agustus 2013

Gregor The Overlander: The Code of Claw




Ebook 412 pages by Scholastic Press
Rating: 3,5/5
Gregor harus memegang senjata peninggalan Sandwich sesuai dengan prophecy yang sudah tertulis untuknya. Berbentuk pedang yang nyaman di tangan Gregor. Akan tetapi menaklukkan pasukan The Gnawertidak hanya membutuhkan senjata yang tepat dan pasukan yang handal, Regalia dan penghuninya harus memecahkan sebuah Code yang sudah dituliskan oleh Sandwich. Code ini berguna untuk ‘membaca’ gerakan pasukan Gnawer. Sayangnya, princess yang dimaksud prophecy sangat jauh dari Boots yang masih berusia 3 tahun. Alih2 membantu, Boots membawa untaian prophecy pelik itu ke belakang roknya dan berlari. Mirip ekor hahaha… 

Secara mengejutkan, Gregor mendapat kunjungan tak terduga dari Lizzie, adik keduanya yang selama ini selalu ketakutan setiap kali mendengar cerita seputar Underland. Desakannya pada Gregor adlah untuk kembali ke dunianya, Overland, karena ayahnya kembali sakit dan neneknya dirawat di rumah sakit. Bingung, Gregor harus memilih, tetap tinggal menuntaskan tugasnya sesuai dengan prophecy atau mengurus keluarganya. Lizzie, tanpa diduga sangat menyukai tantangan pemecahan prophecy. Rupanya, ia adalah ‘Princess’ yang dimaksud. Kakak dari Princess Boots, tentu saja adalah Pincess Liziie. Meski itu juga tidak membuat nyaman Gregor menjadi Prince Gregor hahaha. Singkat kata, Lizzie membantu memecahkan puzzle prophecy yang rumit.


Perang telah dimulai. Telah banyak pasukan yang gugur. Luxa terluka. Howard pun demikian. Dan tentu tak sedikit anggota pasukan yang gugur. Teka teki prophecy masih saja menjadi pikiran bagi para team khusus pemecah prophecy. Gregor tak kalah gundah mengingat salah satu kalimat dari Prophecy of Claw bahwa sang Warrior akan menemuai ajal dan Monster of Beast akan terkalahkan. Dengan kata lain, kematian The Bane akan dibayar dengan jiwanya. Siapkah Gregor menghadapi kematiannya sendiri seperti kata ramalan? Percayakah ia akan semua ramalan itu? Ripred yang bijaksana mempunyai kata bijak sebelum mereka terjun dalam peperangan:


"No, I don't. If I really believed in them (prophecies), would I have run after the Bane and tried to kill him myself? It would have been pointless. I pretend like I believe in them, even try to convince myself I do for short periods, because everybody else down here does. So if you want to make them do something, it has to fit the prophecies, you see?" said the rat.

"Not really," said Gregor. What was Ripred saying?

"Look, there are hundreds of prophecies predicting all kinds of things. If you wait around long enough, numerous events that resemble each and every one of them are bound to come up. Take that plague. We've had loads of plagues down here. Might have been interpreted to fit any of them," said Ripred.


Well, terus terang, saya pribadi ingin menyangkal bahwa warrior yang dimaksud dalam ramalan itu bukan Gregor, karena ternyata ‘Princess” yang selama ini mengacu pada Boots beralih pada Lizzie. Ada harapan kan ya kalo Gregor bakal lolos dari maut? Wah, baca saja sampe akhir kisah ya...

Comments:
Sepertinya saya mempunyai perasaan yang sama ketika membaca buku terakhir seri The Overlander ini dengan Mockingjay. Suzanne Collins mulai sedikit maju mundur kurang jelas dengan plotnya. Perang yang tak berkesudahan tapi masih sempat Gregor menyembuhkan luka2nya, istirahat yang cukup, makan yang cukup enak dan bersembunyi di balik dinding tebal, menghindari takdirnya melawan the Bane. Namun prophecy , meski tidak untuk selalu dipercayai, sepertinya memang begitulah jalan yang harus dijalani Gregor. Barangkali saya kembali merasa lelah dengan seri ini namun saya harus menyelesaikannya. Reading challenge sih #tutupmuka.

Meski sedikit mengesalkan di bagian akhir seri, tapi saya cukup lega dengan ending kisah ini. Hubungan malu2  Gregor-Luxa terungkap di beberapa adegan. Cukup hangat dan romantic namun pahit. Berpoto session bersama (konyol sekali ketika pertama kali Gregor membawa kamera Polaroid ke negeri bawah tanah ini), menghabiskan sisa roll dengan gaya remaja, dan berakhir dengan …… #hindarispoiler. Ripred, yang dari buku pertama sangat cynical pada Gregor dan orang2 di sekitarnya ternyata mempunyai masa lalu yang menyedihkan. Hubungan unik antara Ripred-Lizzie juga menghangatkan. Lizzie yang sering mengirimi Ripred makanan enak, sepertinya merasa ada hubungan emosional, bahkan sebelum mereka bertemu. Sweet. Saya terharu dengan kedekatan mereka. Solovet yang dari awal memang mengesalkan dan cenderung menjadi antagonist di serial ini, ternyata juga menyimpan sesuatu bagi Gregor. Last but not least, kebingungan Gregor untuk kenbali ke Overland atau tetap tinggal di Regalia, adalah kebingangan saya juga. Ooowwhhh…. Gregor the Overlander, fly you high…

My Impressions:
Oke, saya cukup gatal untuk menulis pengalaman selama membaca serial ini dalam waktu tiga bulan. Sebenarnya ini bisa dikatakan cukup lambat dibandingkan teman2 lain yang sudah mencapai tingkat bookworm akut hahaha. Tapi buat saya yang model omnibook, saya cepat bosan dengan satu seri ke seri berikutnya. Meski Suzanne Collins sangat mahir mengolah konflik dan juga bumbu komikalnya, tetap saja saya memilih memberi jeda dengan membaca buku lainnya di tengah serial ini.

Pada awalnya, saya takjub dengan Collins yang memilih hewan2 di sekitar kita alih2 menggunakan hewan aneh seperti di Harry Potter dan Percy Jackson. Tapi semakin saya membaca, persahabatan antara Boots dan Temp, yang saling memberi atau menyisakan makanan, saya kok jadi jijik ya? Belum lagi Lizzie yang tidur bersama Ripred dengan nyaman. Sementara di kamar saya yang tak berdosa itu dihuni sekeluarga tikus yang hobi sekali pecicilan di tengah malam ketika lampu sudah gelap. Iiihhh…… jijiikkk… hahaha…. 

Saya suka sekali serial ini karena sebagian besar tokohnya protagonist. Ada sih beberapa karakter yang berubah di akhir cerita atau bagian akhir seri, tapi tetap saja menyenangkan dengan banyaknya tokoh protagonist. Meski demikian, tetap saja series ini menyimpan banyak kejadian seru dan menegangkan. Sosk Gregor sedniri sebenarnya sedikit mengingatkan saya pada Percy, cowok setengah dewa rekaan Rick Riordan. Sifatnya yang berani namun nekad, pemalu pada cewek yang ia taksir dan beberapa sifat lain yang saya lupa haha.. . oya beberapa komentar yang mampir di postingan saya di blog untuk review ini, rata rata tidak mengenal series ini, dan lebih mengenal trilogy The Hunger Games. Saya pribadi ingin juga jika novel ini diterjemahkan. Namun harapan itu sepertinya sangat jauh, mengingat lamanya tahun terbit buku ini dan banyaknya novel lainnya yang sudah pasti dalam antrian untuk diterjemahkan. 

Dari sekian banyak karakter, saya jatuh simpati pada sosok Hazard, anak laki laki sekitar 7 tahun yang ditinggal mati bapaknya setelah ibunya meninggal ketika ia masih kecil. Hazard ini mempunyai kemampuan berbicara dengan binatang  yang ia pelajari sedari ia kecil. Selain itu, dia juga berperan cukup penting dalam perjalanan Gregor. Manis deh pokoknya hahaha..
Well, overall, novel ini saya rekomendasikan pada penyuka fantasy ringan yang seru dan kocak. Untuk konsumsi anak2 usia 10-15 tahun saya pikir cukup layak dengan segala konflik didalamanya. I think I’m gonna miss this series soon.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar