Sabtu, 20 Desember 2014

#44 Magician's elephant by Kate DiCamillo



 
Paperback 148 pages
Published September 2009 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Dini Pandia
Rating 3/5

Do you believe in magic? Do you believe that magic will lead you to your true path? What if it's true? What if it's wrong? What if...

Berawal dari satu florit dan hidup Peter, bocah yatim piatu itu berubah. Satu florit yang seharusnya ia berikan pada penjual roti dan ikan, berakhir di meja peramal. Si peramal hanya mengatakan bahwa adiknya masih hidup dan gajah akan datang bersamanya. Gajah? Di pasar malam itu bahkan tak ada gajah. Bagaimana itu mungkin?

Peter kecil tinggal di kota Baltese, di apartemen Polonaise bersama seorang veteran perang yang kurang waras, Vilna Lutz. Suatu hari, sang gajah yang disebut sang peramal datang, datang dengan cara yang tidak biasa tapi cukup mengesankan. Sang gajah datang dari rapalan mantra hebat seorang penyihir di sebuah pertunjukan. Kedatangan gajah ini selain menuai kehebohan juga menuai celaka bagi Madam LaVaughn yang kakinya tertimpa gajah. Karena ini, si penyihir dan gajah harus mendekam di penjara.

Semenjak kedatangan sang gajah, perhatian publik teralih, dari keluarga terpandang Count dan Countess Quintet ke gajah yang muncul dengan dramatis. Mereka tak mau kehilangan perhatian ini, mereka tetap ingin menjadi pusat perhatian dengan menghadirkan sang gajah di rumahnya yang mewah. Sementara itu, tak jauh dari kehebohan sang gajah, seorang gadis kecil beberapa kali bermimpi seekor gajah mengetuk pintu rumah yatim piatu dimana ia tinggal. Mimpi itu berulang terus menerus dan ia percayai sebagai pertanda. Di tempat lain, seorang polisi memperhatikan rasa ingin bertemu Peter dengan sang gajah. Seorang pengemis yang berdendang lagu-lagu tentang gajah dan bocah perempuan kecil bernama Adele.

Bagaimana mereka semua bisa saling bertemu? Ehmmm... Silakan baca sendiri yaaaaa...

Ini adalah buku keempat Kate DiCamillo yang saya baca secara maraton. Saya akhirnya mengerti signature seorang DiCamillo, suram. Dari mulai Edward Tulane, The Tiger Rising, hingga yang satu ini, semuanya suram. Tokoh-tokohnya cenderung berasal dari anak-anak yang bersedih dan berakhir dengan kebahagian yang tidak sama dengan kisah-kisah fairy tale, happily ever after. Ending Edward Tulane yang bahagia tapi bikin sesak, Tiger Rising dengan ending meletusnya senapan yang membuat saya sedikit terlompat, dan kali ini sang gajah yang harus 'kembali'. Bagi pembaca anak-anak, mungkin saja buku-buku DiCamillo tak jauh beda dengan kisah-kisah klasik seperti The Happy Prince. Tak ada ending yang benar-benar bahagia dengan kelimpahan yang berlebihan dan dengan sadarnya si antagonis di jalan yang benar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar