Minggu, 15 Februari 2015

Never Let Me Go(Jangan Lepaskan Aku) by Kazuo Ishiguro


Paperback 358 pages
Published September 2011 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Gita Yuliani K
Rating: 3/5

Susah juga memulai menulis review buku ini. Biasanya saya selalu kesulitan menulis review jika buku itu saya beri rating 5, tapi untuk buku ini, saya hanya memberi rating 3, tapi tetap terasa sulit memulai menulis reviewnya. Bukannya jelek, tapi....ahhh... 

Sebelumnya saya sempet mengira buku ini adalah buku ber-genre dystopia. Begitu saya membaca sinopsis singkat di belakangnya, saya baru tahu jika buku ini tentang manusia kloning. Kemudian ketika saya membaca, saya kembali mengira buku ini bakal semacam kisah manusia yang dijebak untuk kemudian bakal di kloning dan akan berusaha melarikan diri. Atau memberi tahu dunia, ada semacam praktek ilegal di Hailsham, dan....

Dan saya salah besaaarrr....

Kisah ini diambil dari sudut pandang Kathy H, salah satu siswa asrama Hailsham. Bersama dua sahabatnya, Ruth dan Tommy, mereka menjalani hari-hari di Hailsham, dengan para guardian. Sekilas, tak ada bedanya dengan sekolah umum biasa, belajar sejarah, seni dan bersenang senang dengan lingkungan sekitar. Yang membedakan adalah mereka adalah sekelompok siswa yang sudah dipersiapkan untuk membantu dunia kedokteran sekaligus menyelamatkan nyawa, entah siapa, dengan organ vital mereka.


Dibagi dalam tiga babak, bab pertama menceritakan tentang masa-masa Kathy berada di Hailsham. Persahabatannya dengan Ruth yang unik, dan perasaan terpendamnya pada Tommy. Ditambah dengan banyaknya pertanyaan tentang teori galeri, sosok Madam yang misterius, guardian yang seperti menyimpan sesuatu. Bab kedua menceritakan tentang masa-masa mereka keluar dari Hailsham, dan berada di Cottages. Tak mudah bersosialisasi dengan orang baru disini. Satu demi satu, para mantan siswa Hailsham ini menjalani profesi sebagai perawat, seperti yang sudah digariskan, sebelum mereka mendapat panggilan untuk donasi pertama mereka. Bab ketiga seputar kehidupan Kathy sesudah dirinya resmi menjadi perawat. Pertemuannya kembali dengan dua sahabatnya, membuka rahasia seputar Hailsham dan juga perasaannya pada Tommy. 

Ini adalah perkenalan saya yang pertama dengan Kazuo Ishiguro. Sebelumnya, saya sempat membaca beberapa review di goodreads, dan salah satunya mengatakan tipikal penulis Inggris adalah lambatnya pace dalam bercerita. Dan saya jugamerasakannya. Tertidur di kala duduk membaca buku sudah tak terhitung lagi :D. Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang membuat saya bertahan membaca hingga lembar terakhir. Spoiler dari teman saya yang sudah menonton filmnya terlebih dulu, membuat saya mempersiapkan hati untuk ending yang membuat saya tertegun atau hangover. 

Salah satu yang menarik yang sekaligus membuat saya bertahan dan nyaris tak bertahan adalah gaya bercerita Ishiguro. Antara lambat, tapi sekaligus mengingatkan saya pada gaya bercerita seorang teman yang detil, yang selalu menceritakan background kisah terlebih dulu sebelum masuk ke inti cerita. Menarik tapi sekaligus membuat saya terkadang skip beberapa bagian. Hal lain adalah kisah persahabatan Kathy-Ruth-Tommy. Sejak awal saya sudah mengira Kathy-Tommy ada perasaan khusus, tapi mengapa pada akhirnya Tommy memilih Ruth sebagai pasangannya juga membuat saya bertahan (sekaligus ikut patah hati).

Seusai membaca buku ini, saya sempatkan menonton filmnya yang sudah tertimbun entah berapa lama di HD EXT. Tentu saja ada beberapa adegan yang saya ingin hadir di versi layar yang ternyata tak ada. Ugh, kecewa :( Kedekatan Kathy-Ruth tak terlalu terekspos detil. Obrolan panjang yang membuka rahasia Hailsham dengan para mantan guardian juga nyaris hanya tempelan saja. Padahal bagian inilah yang membuat saya mendapat semua jawaban akan segala kemungkinan, teori tentang galeri yang diungkapkan oleh Kathy-Tommy yang ternyata salah. Obrolan yang membuat saya bertanya-tanya, jadi, apakah kehadiran Hailsham dengan penyediaan manusia kloningnya, yang terbukti memiliki jiwa--tak ada ubahnya dengan manusia non kloning lainnya--bisa dibenarkan di dunia kedokteran? Tuhan saja menciptakan makhluk-Nya dengan Kasih-nya, dan kita manusia tak layak mengakhirinya tanpa ijin-Nya. Manusia kloning ini, mereka mempunyai jiwa, meskipun diciptakan dari penemuan ilmiah kedokteran, apakah diperbolehkan diambil begitu saja? Oh, manusia... 

Ini dia versi filmnya yang dibintangi Keira Knigtley,  Carey Mulligan, Andrew Garfield yang dirilis tahun 2010. For your info, filmnya memiliki ending yang sedikit berbeda dari bukunya yang terasa duuhh...kok gitu aja. Di film, saya lebih terisak-isak... #tsaaahhh #mellow :D


5 komentar:

  1. Aku nggak bisa dibilang suka sama buku ini, tapi kalo disuruh menghibahkan buku ini.. ada perasaan ga ikhlas. xD
    Aku suka sama tulisannya Kazuo meski pacenya lambat (sama, aku berkali2 ketiduran pas baca) ihihih. :p
    Buku ini.. duh... *tepuk2 hati*
    Tapi aku belum nonton pilemnyaaaaa.. >.<

    BalasHapus
  2. Samaaaa, Lindaaa... Itulah kenapa aku antara mau bertahan dan nyaris give up baca bukunya. Tapi ya tetep aja kelar ni buku. Syukurlah. Lagi mikir2, antara mau di swap atau disimpan saja ni buku. Yang jelas ga bakal dibaca lagi, tapi kok pengen ngoleksi juga. waaaa.... Kudu nonton filmnyaaaa... Sediain tissue yaaaa... :D

    BalasHapus
  3. Kemarin sore langsung kutonton!
    Aku berkaca-kaca doang sih, nggak sampe nangis. :')))
    Rasanya habis nonton aku pengin meluk laptop. (?) Perasaan yang sama pas aku selese baca bukunya..
    Masih nggak rela kalau mereka dikloning cuman untuk ngedonorin organ vital. Kejem banget mereka hidup untuk dimatiin, kayak peliharaan aja.. :'(

    BalasHapus
  4. Premisnya agak mirip film The Island yang dibintangi Ewan McGregor sama Scarlet Johanson ya? Tentang manusia kloning yang alat, eh, maksudnya organ vitalnya 'dipanen' buat kepentingan kesehatan manusia asli (non-kloning). Bedanya itu film eksyen sih. Seru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo ini drama se-drama dramanya, paann.. Ini ga cuma alat vitalnya kok yg didonasikan, tp jg jiwanya sdh dicuci otak buat donasi... Sadis...

      Hapus