Minggu, 08 Maret 2015

Fortunetely, The Milk (Untunglah, Susunya) by Neil Gaiman


Paperback 128 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama 2014
Penerjemah: Djokolelono
Rating: 4/5

Akhirnya, saya kelar juga membaca buku terjemahan terbaru milik Neil Gaiman. Seusai membaca buku ini, tiba-tiba saya teringat lagu yang beberapa hari lalu dinyanyikan ponakan saya yang masih berusia jelang 4 tahun. Meski dia sudah hapal banyak sekali lagu anak-anak, tetap saja dia suka menyanyikan lagu sesukanya. Dengan syair ga jelas, apalagi nadanya. Lucunya, tadinya saya percaya memang ada lagu itu. Mungkin dia dapat dari ibu guru di sekolahnya? Pikir saya. Saya sempet terpana mendengar dia bisa menghapal lagu dengan begitu cepat, karena hampir 2 minggu ia absen karena sakit. Eh, tapi setelah saya dengarkan lagi lagunya, kok jadi aneh? Saya jadi curiga dia mengarang bebas lagunya. Lirik dan nadanya, benar-benar seenaknya dia.... =))

Nah, membaca kisah si ayah yang berjuang membeli susu demi sarapan dua anaknya ini, setidaknya saya menemukan garis merah yang menghubungkan antara lagu karangan seenaknya ponakan saya dengan ide absurd Gaiman meramu kisah perjalanan seru si ayah.


Si ayah yang sedang asyik membaca koran, menyadari jika susu untuk campuran sereal anaknya sudah habis. Seterusnya, dia pergi membeli susu di toko ujung gang rumahnya. Tapi ternyata perjalanan si ayah membeli susu ini sangat seru. Dalam perjalanan, ayah bertemu dengan bajak laut yang mau membunuhnya, dan kemudian bertemu dengan Profesor Steg, ilmuwan yang menemukan balon udara untuk transportasi, hingga bertemu para wumvir yang sangat antusias untuk membunuh si ayah yang dikira gorila hahaha... Selama perjalanan itu, si ayah bahkan mengalami maju mundurnya waktu, beratus tahun yang lalu, hingga ke masa yang akan datang. Semua masa menjanjikan ancaman atau bahkan tawaran menarik. Semuanya tak menggoyahkan hati ayah untuk tetap kembali membawa susu untuk sarapan anak-anaknya.

Selama bercerita, si anak-anak ini sesekali menyela, mengomentari hingga memprotes logika si ayah yang bercerita, terutama tentang dimana ikan piranha hidup. Hihihi... Ga kebayang, kisah seru yang kita ceritakan di komplain sana sini. Sama seperti ketika saya memprotes lagu karangan bebas ponakan saya ini. Ketika saya mengatakan lagunya lagu ga jelas, dia marah, dan ngotot kalo lagunya itu jelas... Terserah deh, sayang... Suka-suka kamu deh... Saya cukup merasa sedikit menyesal ketika mengatakan jika lagunya itu lagu ngga jelas. Toh, dia masih balita. Kenapa tidak saya biarkan saja ia berkreasi dengan deretan kosa kata yang ia miliki untuk menyusun lagu karangannya sendiri? Ehm, paling tidak, buku ini membuat saya lebih mengapresiasi keabsurdan lagu karangan ponakan saya itu. Absurd tapi indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar