Kamis, 31 Maret 2016

Posting Bareng BBI: Orang Orang Proyek by Ahmad Tohari



Paperback 220 halaman
Published 2007 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5

"Apa kamu kira negara kita yang konon ber-Pancasila ini, dan yang semua aparatnya sudah ditatar P4, adalah negara Republik demokrasi? Bangun, bangun! Hentikan mimpimu. Dan sadarilah di tahun 1991 ini kita hidup di bawah orde feodal baru." (Hal. 111)

Bagi kalian yang pernah mengalami hidup di bawah kekuasaan bapak Pembangunan yang memerintah selama 32 tahun, rasanya buku ini membuka luka lama, terutama bagi mereka yang merasa keadilannya terampas, kejujurannya menjadi tumpul karena kondisi, dan keberanian melawan pada waktu itu hanya bisa dilakukan dalam diam.

Insinyur Kabul, 30 tahun, menjadi kepala proyek pembuatan jembatan di sungai Cibawor. Selama hampir 2 tahun dia curahkan perhatiannya pada pembangunan proyek ini. Idealisme untuk membuat jembatan, fasilitas untuk rakyat, harus sesuai dengan Undang Undang No 18 tahun 1990; pemborong wajib menjamin bangunan yang dikerjakan bisa dimanfaatkan setidaknya selama sepuluh tahun. Sayangnya pemerintah, pejabat terkait, hingga atasan Kabul, Dalkijo, susah diajak kompromi untuk mewujudkan idealisme seorang Kabul.

Partai politik yang berkuasa pada waktu itu, tidak memberi ruang bagi Kabul untuk idealismenya, sebaliknya, partai Golongan Lestari Menang memberi ruang seluas-luasnya untuk mencuri, menilep, membengkakkan angka, dan tentu saja segala yang berhubungan dengan K-O-R-U-P-S-I!! Kabul, sang mantan aktivis kampus merasa ada sesuatu yang harus dilakukan, ada hal yang harus diluruskan, ada hal yang harus dihilangkan dari sistem proyek ini. Tapi apa daya seorang Kabul, seorang diri menghadapi semua itu. Ia terus menerus merasakan pergulatan batin antara ingin terus melanjutkan proyek atau berhenti dengan konsekwensi yang tidak ringan.


Ditulis oleh penulis, Ahmad Tohari sekitar tahun 2001, semula membuat saya bertanya-tanya tentang terbit buku ini, dan apakah ada drama pembredelan buku yang sangat kental membongkar kebobrokan pemerintah orde baru? Tapi ternyata buku ini terbit jauuh setelah bapak pembangunan itu lengser keprabon =) . Tak heran jika buku ini lolos sensor dari tangan-tangan partai yang membesarkan dan menyuburkan korupsi dan budaya ABS di negara ini. Konflik yang dialami Kabul adalah potret yang pasti pernah ada di jaman itu. Penggambaran kebobrokan yang sangat detil benar-benar membuat saya bergidik. Dan mungkin, karena itu pula, meski saya sangat awam di dunia politik, tapi mungkin apa yang pernah dibisikkan bapak saya semasa menjabat Kepala Keuangan kredit sebuah bank yang wajib memilih satu-satunya partai itu membuat saya tak pernah ingin bekerja di pemerintahan. Biarlah saya bekerja tanpa ada embel-embel negeri, atau janji-janji pensiun atau fatamorgana pekerjaan mudah dan sedikit tapi gaji gedhe. Dan percaya atau tidak, saya pernah merasa sanggaatt benci dengan seragam wajib pakai bagi para pekerja negeri ini. Ditambah lagi, sosok-sosok berseragam ini keluyuran di jam yang semestinya mereka bekerja di tempat-tempat yang mungkin tak ada hubungannya dalam pekerjaan. Katakan saja, para ibu-ibu yang heboh menawar anthurium atau gelombang cinta di pameran flora fauna, bertahun yang lalu. Well, mungkin saya picik menilai hanya dari satu sudut pandang saja. Tapi stigma itu berasa menempel dalam benak saya dan tak mau lepas. Iya, saya juga mengenal beberapa teman yang benar-benar berdedikasi dalam pekerjaannya untuk negeri, tapi tetap saja saya lebih baik menghindari pekerjaan atau apa saja yang berhubungan dengan pemerintahan. I'm really really sorry for this.

Daaannnnn mengapa review saya jadi begini ya? *emot elus dagu, mata muter*

Ohya, selain kental isu politiknya, ada juga sentuhan romens di novel ini. Perjodohan antara Kabul dan Wati, sang asisten, bikin suasana sedikit hangat. Sayangnya, saya kurang suka dengan sosok Wati yang menurut saya egois. Dia naksir Kabul, tapi masih punya pacar yang dia lakukan secara LDR. Ketika Kabul mulai galau dengan pekerjaannya yang dipenuhi skandal, alih-alih memberi saran, atau paling tidak kata-kata yang mendukung Kabul, dia justru khawatir bakal ditinggal Kabul. Helloww... siape eluuu, Wat? Belum lagi celotehan si mak pemilik warung yang getol banget mempromosikan Wati ke Kabul, tak peduli si insinyur ini sedang budrek mikir proyek, catutan dana yang nyaris membuat proyek ini menjadi proyek ecek-ecek karena mutu bangunannya yang tak sesuai. Si Mak ini kayaknya kudu ditatar membaca mood seseorang deh. Tapi yah, maklum saja. Si Mak ini hanya mak comblang yang ngebet pasangan yang dicomblanginya bersatu hahahaha...

Overall, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk bacaan sastra ringan. Deskripsi suasana Ahmad Tohari sangat indah dan hidup. Saya berasa berada di tempat dimana beliau mendeskripsikan tempatnya. Isu politik sepertinya selalu menjadi satu trade mark-nya, bagus untuk anak muda yang ingin mengenal sejarah tanpa benar-benar membaca buku sejarah.

Note:

Posting ini saya sertakan dalam Posting Bareng BBI dengan tema #BBILagiBaca bulan Maret 2016.


Kebetulan saya, Alvina dan Cindy kompak membaca karya Ahmad Tohari di posbar kali ini :) Bisa ditengok reviewnya yaa;


7 komentar:

  1. Ini baca di iJak atau bukunya langsung?
    Kayaknya udah pernah baca, tapi lupaa :)

    BalasHapus
  2. Yang ini ngga ada di iJak deh kayaknya. Aku baca buku fisiknya yang sudah buluk :D

    BalasHapus
  3. ahhh iya sama lila, akupun sejujurnya nggak pernah tertarik jadi PNS karna dulu mamaku sempet lumayan lama jd PNS, menderita banget di jaman orba itu apalagi masih kental diskriminasi gender dan agama. Akhirnya beliau berhenti dan jadi dosen di univ swasta, hidupnya lebih hepi LOL.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaahhh.... ternyata ngga cuma aku yang keras kepala ngga pengen jadi PNS ya, Trid.... #toosss...

      Hapus
  4. Kapan ya bisa nemu buku ini di obralan 20rb-an #eh

    BalasHapus
  5. Kalau ada obralan murah buku ini, saya nitip ya Mbak Lil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa, Yoonn... Ntar kalo ada yg 20ribuan, ku beliin deh, tapi tuh A sudah ngg jadi 4 aja wkwkwkwk...

      Hapus