Minggu, 16 April 2017

Daisyflo by Yenni Hardiwidjaja


Scoop ebook 262 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama, Maret 1, 2012
Rating 3/5

Sebenarnya saya ngga tau gimana mau nulis reviewnya. Jadi begini,  saya sempat kehilangan minat baca, dan beberapa buku sempat saya coba baca, baik dari timbunan paperback maupun timbunan ebook Scoop. Tapi tetap saja mood baca hilang. Sampai kemudian saya mulai membaca Novel yang sudah sering saya temukan di bazaar buku ini. Ohya, saya pernah membaca reviewnya seorang teman yang cukup kaget dengan isi bukunya yang ternyata 'agak sakit' ini. Maklum saja,  sampulnya cukup manis dengan kembang daisy yang cantik. Tapi ternyata isinya memang bikin 'sakit'.

Well, kebingungan saya menulis review buku ini adalah karena ternyata buku ini cukup mengembalikan mood baca saya, tapi saya ngga suka dengan buku ini, kurang suka mungkin tepatnya. Saya tidak bersimpati pada karakter utamanya, Tara, saya juga sebal dengan pacarnya yang posesif  dan matere; dan juga dua cowok sempurna yang mencintai Tara sama besarnya, Junot dan Alexander. Hellooooww, ngga ada cewek lain yang bisa kalian cintai selain Tara? Kalo misal ada cewek macam Tara ini, mungkin apa yang dilakukan Muli cukup masuk akal. Saya justru bersimpati pada Muli.


Tidak cuma para karakternya, saya juga dibikin bingung dengan gaya penulisan si penulis yang maju mundur. Adegan dibuka dengan Tara yang ingin membunuh Tora, pacarnya, atau mantannya? Kemudian Alexander berkorban untuknya. Setelah itu adegan mundur ketika Tara diperbudak oleh Tora, baik secara jasmani maupun materi, penyebab utama mengapa Tara begitu dendam pada Tora. Adegan selanjutnya bisa maju dengan Tara plus misi membunuhnya, atau lebih mundur lagi ketika ia pertama bertemu Junot, selingkuhannya yang manis, dengan kisah tentang bunga daisy. Tidak hanya alur maju mundur, Font yang berbeda juga tidak terlalu tertangkap apa maksud perubahan font disini. Awalnya saya mencoba mencari/ menduga perubahan font ini apakah perubahan point of view pencerita, tapi ternyata ngga. Apakah perubahan font ini untuk situasi sekarang, bukan sedang flashback,  tapi sepertinya bukan juga. Hingga akhirnya saya menyerah untuk mencari tahu 😁😁.

Hmmmm... ini pertama kali nya saya tidak fokus menulis review tentang kisah di dalam Novel,  tapi justru gerutuan saya selama membaca. Overall, lumayan sih konflik ceritanya, lumayan juga endingnya yang berasa nonton dorama. Latar belakang Tara sebagai mahasiswi desain juga menarik dan membuat saya pingin melihat hasil animasi karya Junot. Tapi selama membaca tetap saja saya menggerutu seputar Tara ini, bikin bete dan skip beberapa paragraf biar segera kelar bacanya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Buat yang suka Novel seputar sakit jiwa, monggo dicicipi. Bukunya banyaaak di timbunan diskon toko buku πŸ˜‰

3 komentar:

  1. Oh begitu ya ceritanya. Kemarin pas ada Bazaar buku murah di kotaku pun juga ada, saat itu aku bingung, tapi pada akhirnya aku simpan kembali, ga terlalu menyesal juga saat membelinya, apalagi ditambah review ini.

    BalasHapus
  2. Sudah lama sekali aku baca novel ini. Dulu belum dibazarin dan masih beli pakai harga asli wkwk. Tapi kalau aku malah suka sama ceritanya, meski memang tokohnya menyebalkan banget terutama si Tora itu, tapi aku menikmati jalan ceritanya. Saking lamanya, aku malah udah lupa Muli itu siapa dan yang mana ya? Ehehehe~

    Detil jalan ceritanya juga udah agak lupa, tapi masih ingat garis besarnya. By the way, novel ini malah sempat bikin aku menitikan air mata lho. Pas Tora balik buat minta maaf dengan keadaan yg "ga sama lagi" disebabkan perlakuan Tara ke Tora. Kayaknya tulus banget Tora di bagian itu, jadi merasa kasian juga padahal sblmnya benci banget sama dia wkwk.

    BalasHapus
  3. Wew. Aku tadi sempet kaget waktu baca buku ini 'sakit'. Sakit kenapa sih, kak? O.o Ohh, ternyata begitu. Heuheu. Yaa, kalo nemu mungkin bisa diambil ah ya. Sebagia 'hiburan'

    BalasHapus