Selasa, 10 Oktober 2017

Samantha's Secret by Shandy Tan


Scoop Ebook, 191 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama, November 2010
Rating 2/5

Setelah membaca Peony's World, saya jadi pengen menjajal beberapa horor lokal, meski yah, pengalaman membaca cerita horor saya mentok di Woman in Black, years ago. Dan itu masih terbayang ketakutannya hingga beberapa waktu. Sempat membaca beberapa novel horor, ada yang saking seramnya hingga saya give up reading, macam Heart Shaped Box, tapi ada juga yang ngga kerasa horornya meski sudah digadang-gadang seram oleh si pengumpul horor stories-nya, Book of Roald Dahl's Ghost Stories. Emmmm...mungkin saya memang jenis manusia rumit ya, dikasih horor banget, takut, dikasih horor ngga serem, males hahahaha...

Tapi ternyata buku ini kelar-kelar aja bukunya. Ya iyalah, novel tipis, tapi ceritanya abege abisss..
Samantha, gadis SMA tiba-tiba bisa memiliki penglihatan akan hal-hal gaib setelah ia mengalami kecelakaan jatuh dari tangga. Kok bisa? Ya tanya saja sama penulisnya, gimana bisa terjadi hahaha... Untungnya dulu saya bolak balik kejeduk kepala saya waktu latihan Perisai Diri, saya ngga mendapatkan daya linuwih ini. Amit amit...


Ada 3 roh yang sering nongol di depan Samantha ini: Raka, Tobi dan Hanna. Mereka masing-masing memiliki kisah pilu hingga mereka mati muda dan kelayapan di dunia. Hanya orang-orang macam Samantha yang bisa melihat mereka, orang-orang yang pernah kejeduk hahaha... Samantha yakin, kemampuannya ini bisa dimanfaatkan. Dan itu terbukti...

Samantha bisa meminta teman-teman rohnya ini memata-matai saingannya di pelajaran kimia di sekolah, para roh ini juga memberi info akan siapa cowok yang sedang ditaksir Samantha saat ini sedang naksir siapa. Sayangnya bukan Samantha. Coba misal Samantha bisa meminta para roh gentayangan ini mempengaruhi si cowok idola untuk naksir dia, saya pikir mungkin akan dilakukannya. Maklum, masih abege. Untung ngga bisa. :D

Yang terjadi selanjutnya sinetron banget lah. Mulai dari Samnatha yang benci sahabatnya, Angela, Angela yang tiba-tiba punya masalah keluarga, dan lain sebagainya. Karakter Samantha sama sekali ngga asik, saya malah lebih simpati pada para roh, terutama Tobi dengan diaklesia-nya yang parah. Dialeksia yang adalah plesetan dari disleksia cukup menghibur dan sempat membuat saya bertanya-tanya maksud Tobi sebenarnya. Selanjutnya ya gitu lah. Rupanya saya kudu nyari cerita horor yang lebih menggigit alih-alih roh gentayangan dengan penampakan bagus mereka. Sama sekali ngga ada darah atau genangan menjijikkan sekitar mereka, layaknya di film-film horor lainnya. Yah, tujuan dari penulisnya ini adalah kisah horor 'bersih' jadi ngga perlu ada penampakan seram atau genangan darah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar