Jumat, 13 April 2012

Taman Rahasia (Frances Hodgson Burnett)

Entah apa yang membuat saya memutuskan membeli buku ini sementara saya sudah menyimpan ebooknya di hape saya cukup lama. Pertama membacanya dalam bentuk ebook, saya kurang tertarik dengan perjalanan panjang si yatim piatu galak Mary Lennox. Tapi, melihatnya di deretan buku dengan diskon 20 persen, akhirnya membuat saya membeli novel anak2 karangan Frances Hodgson Burnett ini. Setelah membelipun, ternyata butuh waktu lamaaaa sekali buat saya membuka sampul plastiknya karena begitu banyak novel2 baik berupa ebook ataupun novel pinjaman yang menumpuk. Dan pada suatu hari, di awal liburan long weekend, saya memutuskan membuka plastiknya dan mengintip apa yang ada dalam Taman Rahasia itu… Selain bukunya, saya sempat juga mengintip Taman Rahasia dalam bentuk layar lebarnya produksi tahun 1993.


Mary Lennox, bocah usia 10 tahun, yatim piatu yang tinggal di India selama orangtuanya hidup, harus tinggal bersama pamannya di Yorkshire, Inggris. Temperamennya yang galak dan mau menang sendiri harus dikubur jauh2 ketika dia berada di tempat asing. Pertemuannya dengan Martha Sowerby, Dickon, dan Colin membuatnya mengubah segalanya: cara pandanganya terhadap orang lain, gaya berbicara dan tentu saja mengubah seluruh isi rumah suram Misselthwaite Manor.

Comments

Begitu lembar pertama saya membaca buku ini, serasa ada sihir tertentu yang membuat saya enggan meletakkannya. Pun ketika saya membacanya di atas bis yang membawa saya ke Cirebon. Biasanya, membaca di atas kendaraan membuat saya pusing, tapi kali ini, saya kena sihir jauh dari rasa mual dan pusing. Dalam bukunya, Burnett menulis banyak tentang energy sihir putih yang menguatkan dua bocah yang semula berwajah suram, Mary dan Colin. Sihir yang sebenarnya masing2 dari kita bisa mengalirkannya ke dalam diri sendiri untuk terus berpikir positif, untuk selalu bisa melakukan apa yang tadinya tak mungkin. Colin yang merasa hidupnya tak akan lama, akan memiliki punggung bungkuk dan kaki lumpuh, dengan sihir yang datang dari Taman Rahasia, Mary dan Dickon berubah drastis menjadi anak yang percaya akan The Power of Magic.

Membaca buku ini mengingatkan saya akan bacaan masa kecil saya yaitu Lima Sekawan karena banyak sekali jenis makanan yang disebutkan disini. Rasa hangat musim semi adalah awal bagi kehidupan berlibur George Kirrin beserta sepupunya. Selain itu, saya juga serasa menonton kembali kisah Laura Ingalls di Little house on The Prairie. Berbagai jenis tanaman, bunga, padang rumput moor, bau tanah basah selesai hujan, dan sebagainya, yang meski waktu itu saya masih sangat kecil ketika Little House on The Prairie tayang di TVRI, tiba2 saja saya ingat dengan serial ini selama saya membaca Taman Rahasia.

Movie version

Saya kurang beruntung dengan belum mendapatkannya donlotan film ini. Lho? Saya sudah mencoba mencari di beberapa website unduhan film, tapi ternyata tak ada. Begitupun di youtube, yang saya dapatkan hanya potongan2 tak lengkap. Ada dua versi film yang sempat saya tonton, yang pertama yang dilakoni Maggie Smith tahun 1993, dan yang satunya kalau tidak salah tahun 1983. Keduanya sama tak lengkapnya. Haddhehh.. akhirnya saya nikmati saja apa yang ada.

Seperti biasa, ada sedikit perbedaan di sana sini, dari versi buku ke film. Penyakit kolera yang menyerang India, termasuk ibu Mary, ditiadakan, sebagai gantinya adalah gempa bumi yang menewaskan kedua orangtua Mary. Beberapa scene yang sangat ingin saya tonton adalah momen ketika Mary pertama bertemu dengan Colin, ketika Mary bertemu dengan Dickon, dan pada saat Colin marah2 pada Ben, si tukang kebun, dan ia tiba2 berdiri untuk menunjukkan bahwa ia sehat. Sayang, saya tak bisa menemukan potongan video penting itu. Ending versi movie menurut saya lebih dramatis dibandingkan bukunya. Dalam buku, Colin digambarkan memenangkan lomba lari antara Mary dan Dickon dan menubruk ayahnya yang selama ini menjauhinya karena tak tahan melihat putranya sakit2an. Dalam film, ketiga bocah ini asyik bermain petak umpet di taman rahasia mereka ketika Colin yang menutup mata menemukan ayahnya berdiri di hadapannya. Archi Craven terpana melihat putranya yang bertahun tergolek di atas tempat tidur terlihat sehat berada di taman rahasia, taman dimana mendiang ibunya dulu sangat cintai. Begitupun dengan Mary, dalam buku, semua perhatian tertuju pada Colin. Sementara mau tidak mau harus diakui, ini adalah berkat Mary yang keras kepala membawa Colin menikmati musim semi di tengah taman rahasia. Dalam film, Mary menangis tersedu ketika mendapati Colin berbahagia bersama ayahnya, sementara ia merasa tak lagi dibutuhkan. Mr. Craven tentu saja sangat berterima kasih pada Mary. Kalau saja Mary tak menemukan Taman Rahasia itu, akankah sihir itu tetap ada? Well, bagaimanapun, musim semi selalu membawa sihir kehidupan baru bagi siapa saja. Tak peduli di dalam ataupun di luar Taman Rahasia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar