Jumat, 13 April 2012

MOMO (Michael Ende)



1.       Demi masa
2.       Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian
(Al Qur’an, Al-Asr 1-2)

Surah ini menerangkan bahwa manusia yang tidak dapat menggunakan masanya sebaik-baiknya adalah termasuk golongan manusia yang merugi.

Bagaimana cara terbaik kita untuk tidak masuk dalam golongan yang merugi? Masing2 individu tentu punya cara sendiri. Buat saya, bekerja dan melakukan hal2 positip adalah hal yang menjauhkan dari hal2 yang merugikan itu. Bagaimana dengan orang2 yang ada di sebuah negri antah berantah karangan Michael Ende dalam kisah Momo ini?

Momo memang hadir di sebuah kehidupan antah berantah hasil imajinasi si pengarang, tapi dinamika di dalam kisah ini sangat dekat dengan kehidupan modern metropolitan. Kehidupan sibuk, nyaris tak ada waktu untuk melakukan kesenangan pribadi bahkan untuk keluarga, putra putri, terlebih lagi tetangga dan sahabat dekat. Semua kekurangan waktu.

Ini semua adalah ulah si tuan kelabu yang mencuri waktu mereka, para warga negri antah berantah sehingga mereka tak lagi memiliki waktu untuk sekedar berleha leha sejenak, sekedar bercanda dengan keluarga, menikmati panorama pemandangan ciptaan Tuhan, apalagi hanya untuk mendengar cerita2 dari para sahabat. Interaksi antar manusia hanya di lihat dari sudut materi dan tak ada sentuhan humanis di dalamnya.

Adalah Momo, gadis kecil sebatangkara yang dikaruniai kemampuan mendengar yang luar biasa (sumpah, selama ini saya merasa kemampuan mendengar ini tidak terlalu istimewa, apalagi dibandingkan dengan skill berbicara atau skill lainnya). Saya jadi sadar bahwa mendengar adalah suatu skill khusus yang juga harus dimiliki setiap orang dari buku ini. Dengan mendengar, Momo mampu mengubah segala kehidupan di sekitarnya. Para sahabat yang sedang berbeda pendapat datang padanya, saling mengumpat, saling berbicara keras, hingga akhirnya mereka menyadari kesalahan masing2. Semua itu hanya dengan datang pada Momo, dia mendengarkan sepenuh hati, tanpa menilai, tanpa komentar. Semua masalah mencair dengan sendirinya.

Namun, semenjak kedatangan tuan2 kelabu, yang mempunyai pekerjaan mengelabui sekaligus mencuri waktu para warga negri, tak ada waktu lagi untuk hal2 remeh temeh. Semua bergerak cepat, semua berteriak tak ada waktu banyak. Semua bagaikan robot, tanpa senyum, hanya murung. Hanya Momo seorang yang terbebas dari belitan waktu sempit, hanya ia seorang yang mampu mengembalikan warna kehidupan manusia yang selalu tak punya waktu. Hanya berbekal kembang waktu, dan teman kecilnya, Kassiopiea, sang kura2, Momo menyelamatkan sahabat2nya dan seluruh warga negri.

Komentar:
Tak pernah saya sangka, novel setebal 320 halaman ini bisa saya selesaikan dalam waktu 2 hari saja, mengingat kesibukan saya mengoreksi pekerjaan murid. Pertama kali membuka novel ini, sekilas sedikit saya dihinggapi kisah anak2 setengah absurd seperti Philip Pullman. Dari bab pertama, ternyata saya langsung melaju ke bab ke dua dan ketiga. Menarik!!!

Tak dipungkiri keabsahan ayat suci yang saya sitir di awal review ini, banyak diantara kita yang tidak menggunakan waktu secara bijaksana. Dari kacamata Momo, duduk berdampingan sahabat2nya, saling mendengarkan celoteh masing2 adalah waktu yang menyenangkan. Bagi tuan kelabu, bekerja cepat efisien waktu adalah cara menghabiskan waktu yang sempurna. Tanpa disadari, banyak sekali di antara kita yang ‘terkena’ kutukan para tuan kelabu ini, hidup dalam materi berkecukupaan, tapi asing dalam kehidupan pribadinya. Sebaliknya, banyak pula yang tak terkena ‘kutukan’ para tuan kelabu, menjalani kehidupannya dengan ringan, glundung sana sini tanpa tujuan. Pertanyaannya adalah, dimanakah kita meletakkan diri kita sendiri. Di bawah kutukan, di luar kutukan, atau kutukan itu hanya ‘nyerempet’ saja?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar