Jumat, 25 Mei 2012

TUESDAYS WITH MORRIE



Paperback, 220 pages
Published 2006, Gramedia Pustaka Utama 
Rating 5 of 5

Bagaimanakah perasaan kita jika kita melihat ‘upacara pemakaman’ kita berlangsung di depan mata, sementara kita masih hidup?

Morrie Schwartz, tokoh sentral dalam novel ini berinisiatif mengadakan upacara pemakamannya sebelum kematiannya, karena ia merasa bahwa akan sangat percuma memberi kesan2 positif kepada yang bersangkutan sementara ia  berada dalam peti mati. Begitulah Morrie. Ia mengundang sanak saudara, kawan, sahabat, untuk menghadiri upacara pemakamannya sebelum ia meninggal. Ia bias menangis sekaligus tertawa bersama hadirin. Ngilu.

Sosok Morrie adalah Guru Sampai Akhir bagi Mitch Albom, si penulis novel ini, tetapi mungkin juga bagi semua orang yang membaca buku ini. Tak berlebihan, jika saya pun secara pribadi mengharapkan adanya sosok seperti Morrie dalam kehidupan nyata saya. 


Dalam novel setebal 207 halaman ini, saya di’jejali’ dengan kata2 bijak yang rasanya ingin semua saya garis bawahi. Kata ‘jejal’ saya gunakan disini, karena saking banyaknya dan juga sedikitnya otak saya mengunyahnya. Morrie banyak membicarakan seputar kisah2 hidup yang ia jalani selama lebih dari 70 tahun ia hidup. Ada rasa bahagia, bangga, sesal, kecewa yang ia tumpahkan. Pernyataan pasrahnya terhadap penyakit mematikan Lou Gehrig yang ia derita adalah semacam pelajaran hidup untuk menikmati apa yang saya dapatkan saat ini.

Tentang Dunia
Meski berada di ujung maut, tak ada alasan bagi Morrie untuk tidak peduli pada sesame. Ia tidak hanya menangisi diri sendiri, tapi juga menangisi orang lain yang ia rasakan penderitaannya. Morrie manangisi penderitaan warga bosnia yang ditembaki di jalanan, orang2 yang bahakn ia tak kenal. Berapa banyak diantara kita yang justru menyakiti orang yang kita kenal tanpa rasa penyesalan?
Inikah yang yang akan terjadi pada akhirnya. Mungkin kematian semacam wuqualizer besar, sesuatu yang akhirnya membuat seseorang menitikkan air mata atas penderitaan orang lain yang betul2 asing bagi dirinya”. (hal. 54)

Tentang Mengasihani diri Sendiri
Seberapa sering kita benar2 melihat ‘ke dalam’ diri sendiri? Pada saat2 seperti apakah kita melihat ke dalam? Saya pribadi sering2 tiba2 mengingat diri sendiri pada malam menjelang tidur, atau pagi hari setelah bangun tidur. Apakah ada perasa an tertentu yang saya rasakan? Tentu saja. Demikian juga pada Morrie. Dia sering kali menangisi diri sendiri di pagi hari.dia sering kali harus merasa ‘berkabung’ setiap kali ia menyadari ada kemampuan fisiknya yang hilang karena penyakitnya.
Memang ngeri menyaksikan bagaimana tubuhku perlahan-lahan kehilangan fungsinya. Tapi aku juga bersyukur atas kesempatan yang cukup luang bagiku untuk mengucapkan salam perpisahan.  Tak semua orang seberuntung aku.” (hal, 62). Duuhh…

Tentang Penyesalan diri
Saya yakin, semua atau paling tidak banyak diantara kita yang pernah merasakan penyesalan pada diri sendiri. Saya yang sering ‘nyablak’ terkadang menyesal dengan kelancangan saya sendiri. Perlakuan kurang adil terhadap murid, membiacarakan teman kerja di belakang punggungnya, berkata keras pada ibu saya atau saudara saya,  owh, banyak sekali. 

Saya pernah mengikuti sebuah ‘aliran’ budaya (kalau tidak bisa disebut sekte), dimana disitu diajarkan agar kita harus lepas dari yang namanya attachment. Sebenarnya tidak hanya dalam aliran itu saja, semua agama akan mengajarkan kita untuk tidak terlalu terikat dengan kebendaan yang kita miliki. Saya? Addhuuhh… susahnyaa jauh dari smartphone saya.  Belum lagi angan2 kebendaan lain yang ingin saya dapatkan. Jadi ingat dengan salah satu lagu milik Emha Ainun Najib
Ketika belum kepengen sudah
Ketika sudah kepengen nambah
Sesudah ditambahi
Kepengen lagi, lagi dan lagiiii (Tak Sudah Sudah, Emha Ainun Najib)
Cocoook bener saya dengan irik lagu di atas. Sementara apa kata Morrie tentang hal ini? “Kita begitu terbelit dengan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan sendiri, karir, keluarga, uang cukup banyak, melunasi hipotek, membeli movil baru………………………..Maka kita tidak terbiasa berdiam diri sejenak untuk merenungkan hidup kita dan berkata, Hanya inikah? Hanya inikah yang kuinginkan? Ada seuatu yang hilang? Kita memerlukan seseorang untuk mendorong kita kearah itu. Jekadiannya tidak otomatis.”
Kita butuh GURU.

Comments:
Saya harus komen apa ya untuk buku ini. Bintang 5 yang saya berikan memang subjektif, tetapi buat saya penyuka novel segala genre, buku ini seperti oase di tengah kegelapan tema2 seputar vampire, werewolf, setan, jin, dewa2 Yunani yang mata keranjang, dsb. Buku ini adalah buku ke tiga yang saya baca yang diambil dari kisah nyata. Buku kedua yang membuat saya berkaca-kaca setelah The Last Lecture-nya Randy Pausch (buku ini malah belum sempat ditulis reviewnya).
Overall, buku ini bagus buat anda yang kehilangan semangat karena sesuatu alasan.  Tak ada alasan untuk berlama-lama terpuruk. Seorang Morrie yang sudah mendapat penalty akhir hidupnya pun masih bersemangat untuk bicara seputar kehidupan, bukan kematian yang sudah dekat padanya. Menghargai waktu dan kebersamaan dengan keluarga, kawan, sahabat adalah pesan yang ingin disampaikan guru Morrie Schwartz.

Movie version:
Pertama, saya ingin berterima kasih pada pihak yang sudah dengan senang hati mengunggah video Tuesdays With Morrie lewat situs Torrent. Semoga kebahagiaan bersamanya. Lol.
Sayangnya, movie versionnya tidak terlalu mengharu biru seperti bukunya. Hal2 yang saya inginkan ada di film beberapa memang ada, seperti momen Janine, istri Mitch, menyanyikan lagu The Very Thought of You (meleleh rasanya denger lagu ini), momen pesan2 di acara pemakaman Morrie yang dihadiri Morrie sendiri, dll. Tapi, beberapa adegan saya tidak terlalu menemukan feel-nya, ketika acara ngobrol  setiap Selasa-nya Mitch. Kenapa ya? Bintang 3 aja deh buat filmnya. 

PS. Selama membaca buku ini, saya membayangkan seperti apa nanti bentuk review yang bakal saya tulis. Tadinya asaya ingin menulis sosok Morrie dari kacamata Multiple Intelligence (saya sedang mengajar materi itu di kelas ketika membaca buku ini). Akan tetapi perkembangangannya sangat kompleks jika menulis dari kacamata itu. Kemudian saya ingin menulis sosok Morrie sebagai unsung hero bagi siapa saja. Saya yakin, lagu Tanpa Tanda Jasa masih ditujukan bagi guru. Dan Morrie adalah professor yang mengajar dengan cara uniknya. Tapi ternyata saya cancel juga. Hasilnya? Yaa..seperti yang sudah jadi ini hehehe. (kurang maksimal saya rasa. Huhuhu)

4 komentar:

  1. ....Buku ini adalah buke ke tiga yang saya baca yang diambil dari kisah nyata. ....
    typho, seharusnya buku ketiga
    ....saya ingin berterima kasih pada yang sudah dengan...
    pada ?????? yang sudah
    *digetok kaka lila*
    kapan ngefollow blogku?
    *gantian getok kaka lila* :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buset... Ada ijul kedua di mari.... (sudah dikoreksiiii *melet*)
      Makasih koreksinya yaaa..

      Lho? aku belum follow ya? Sudah deh perasaan, jaman giveaway dulu. Yo wess... mari kuintip dulu bentar...sudah apa belum nderek jamaah blog mu wkwkwkwk

      Hapus
  2. hai mb Lila salam kenal ya, nggak secara langsung udah kenalan di grup BBI :)
    reviewnya kebanyakan b.inggris dan suka motonya 'Ngakunya cinta buku, nyatanya banyak baca ebook' *komen yg nggak nyambung sama isi reviewnya*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga sang Peri hutan (nama yang sangar tapi kereen)

      Makasih sudah mampir di 'hutan' sini hihihi...

      Hapus