Sabtu, 28 Juli 2012

THE PALACE OF ILLUSIONS (Chitra Banerjee Divakaruni)


Paperback, 496 pages
Published by Gramedia, 2009
Rating 4/5


Siapa yang tak kenal cerita Mahabharata? (geleng2 kepala kalo ada yang tunjuk jari)

Saya mengenal kisah epic apik ini sejak masih berlangganan majalah Ananda ketika saya masih SD. Gambar2 para pelakon wayang yang nggantheng dan cantik masih membekas kuat dalam benak saya. Nama2 para tokohnya pun  kebetulan menjadi nama2 jalan di kota di mana saya tinggal. Beberapa kali masih terlintas kelebatan siapa nama raja yang berkuasa di kerajaan tertentu. Misalnya saja saya dulu bersekolah di sebuah SMP yang terletak di jalan Indraprasta. Siapa nama raja yang berkuasa di sana? Teman saya tinggal di jalan Nakula, seberang jalan Indraprasta, warnet yang dulu saya tongkrongi jaman belum memasang internet sendiri di rumah ada di jalan Wiroto. Nah, bagaimana mungkin saya bisa lupa kisah2 yang ada di dalam cerita berasal dari India ini?

Jika demikian apa dong yang membedakan kisah The Palace of Illusions dengan Mahabharata? Kalau dulu, saya membaca komik dengan illustrasi dan cerita oleh R. Kosasih, dari sudut pandang si penulis, sementara novel ini diceritakan dari sudut pandang Dropadi alias Panchali. Well, nama ini memang sangat powerful di novel ini, berbeda dengan komik yang saya baca dulu. Nama Drupadi memang nama penting di kisah ini, namun karena kisah diceritakan dari sudut pencerita, sehingga peran penting Dropadi tidak terlalu terlihat. Namun meski demikian, satu hal yang masih saya ingat adalah Dropadi lah yang mendampingi para Pandawa menuju swargaloka, bukan istri2 ke lima Pandawa lainnya. Jadi mengapa Dropadi?


Kisah inilah yang bertahun kemudian menjawab pertanyaan saya. Dalam penyebaran agama Islam, para wali memasukkan unsur kisah Mahabharata dalam syiarnya, dalam wayang tepatnya, sehingga  dibuatlah Dropadi sebagai istri Yudhistira, sang sulung dari para Pandawa, meski Arjuna lah yang memenangkan sayembara kerajaan Drupada untuk mendapatkan Dropadi. Sementara dalam novel hampir setebal 500 halaman ini, Dropadi adalah istri kelima Pandawa. Tentu saja ini sangat bertentangan dengan hukum para wali. Poliandri dalam kisah ini tidaklah sama dengan poliandri pada umumnya. Dropadi menjadi istri masing2 Pandawa dalam tahun2 yang berbeda. Giliran tahin ini dimulai dari Yudhistira, diikuti Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Byasa (atau Begawan Abyasa dalam komik) memberi astra pada Dropadi selalu menjadi perawan kembali ketika ia berganti suami (wuih… tanpa operasi??? Mauuuuuu)

Dropadi terlahir dari doa2 para orang bijak ketika Dropada menginginkan keturunan yang nantinya akan mengubah sejarah pada kerajaannya. Dia lahir bersamaan dengan kakaknya Drestadyumna. Alih2 kakaknya yang akan mengubah sejarah, melainkan Dropadi yang terlahir  dengan kulit hitam dan mempunyai pikiran liar sendiri.

Cara berpikir Dropadi dari kacamata Chitra Banerjee sangat feminis yang sering kali menanyakan kenapa wanita begini dan begitu. Suatu ketika, Dropadi mendapatkan sesi belajar bersama sang kakak, Dre, sang guru menolak kehadirannya. Demikian pula sang ayah, yang kemudian pada akhirnya terpaksa menyetujuinya atas kehendak Krisna. Dropadi kecilpun sangat haus akan ilmu-ilmu yang cukup membuat semua kalangan khawatir akan segala pertanyaannya yang diajukan, kekeraskepalaanya, berbicara lebih mirip lelaki dibandingkan perempuan. Namun, demi takdir yang sudah dituliskan untuknya, semua berjalan dengan semestinya. Bagaimana dengan permepuan lain yang lahir tanpa ramalan?

Saya membayangkan kisah romantic nan manis pada pertemuan Dropadi dan Arjuna. Namun banyangan saya salah besar. Sayembara mendapatkan Dropadi sama sekali tidak meninggalkan kesan itu, yang ada hanya bayangan laki laki lain yang menambat hati Dropadi, di luar lima suami yang kemudian dinikahinya. Owh, sifat manusia memang tak pernah puas akan apa yang dimilikinya. Apakah ini karena cinta pada pandangan pertama Dropadi bukan pada Arjuna, melainkan pada saudara se-ibu lain ayah?

Kisah hubungan antara anak menantu dan mertua digambarkan sangat manusiawi disini. Kunti dan Dropadi pada masa saya membaca komik Mahabharata dulu tidak ada penggambaran emosional secara khusus. Siapa sih yang tidak cemburu adanya wanita baru diantara kelima putranya setelah berpuluh tahun bersama? Kunti yang arogan harus berhadapan dengan Dropadi yang sebenarnya mempunyai sifat hampir mirip. Tidak hanya persamaan sifat, mereka juga harus mengalami kepahitan yang sama. Kunti mendampingi para Pandawa dalam keterasingan setelah kebarakan di Waranawata.  Kunti mendampingi para Pandawa selama 13 tahun pengasingan yang kemudian berakhir dengan Bharata Yudha.

Beberapa lakon khusus semacam Krisna Triwikrama, kelahiran dan kematian Gatot Kaca yang fenomenal, yang masih hangat terekam dalam ingatan saya, tak saya temukan di novel ini. Perubahan fisik Krisna sempat digambarkan sekilas oleh Arjuna yang bisa melihat bentuk kosmis dari Krisna, namun mengenai Gatot Kaca tak ada yang istimewa. Apakah ini hanya imajinasi local dari illustrator sekaligus pencerita R.A Kosasih. Tak tahulah.

Ending dari Bharata Yudha digambarkan sangat detil, lengkap dengan kehancuran para laskar kerajaan, merintihnya para istri yang kehilangan para suami dalam perang, penyesalan tak habisnya dari pihak Pandawa yang telah membawa perang besar dalam sejarah. Semua penyesalan itu membawa mereka ke puncak Himalaya, letak dimana para dewa bersemayam. Kematian satu persatu anggota Pandawa beserta Dropadi masih persis sama dengan komik yang saya baca dulu. Hanya kehadiran seekor anjing yang menyertai perjalanan mereka ke puncak tidak saya temukan di novel. Kisah anjing yang menyertai ini saya dengar mengadaptasi dari kisah para sufi yang melakaukan perjalanan menuju ke surga. Anjing yang menyertai ini kemudian berubah fisik kosmisnya menjadi dewa yang menyambut kehadiran para Pandawa.

Last but not least, kisah Mahabharata dalam pandangan Chitra Banerjee ini sangat humanis, penuh konflik emosi yang tak terduga meski saya masih hapal luar kepala kisah yang menghiasi masa kecil saya ini. 

4 komentar:

  1. blogwalking..
    buku bagus,
    belum tercapai keinginan membaca buku ini ..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah berkunjung
      Ayo bacaaaa..... :)

      Hapus
  2. reviewnya keren mb, bukunya juga keren :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Sulis
      Bukunya emang kwereeennn

      Hapus