Kamis, 01 November 2012

Selimut Debu (Agustinus Wibowo)



 Paperback 461 pages
Published September 2011 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5

“Kamu kalau melakukan namaz (shalat), begini atau begini?” “Begini” yang pertama adalah meletakkan kedua tangannya menutup perut—cara sembahyang umat Sunni. “Begini” yang kedua adalah tangannya lurus disamping badan—pertanda umat Syiah. (hal. 420)

Untuk pertanyaan sensitive begini, di sebuah Negara Islam—Afghanistan, yang sering dilanda konflik, tidak hanya dari luar, tapi juga dari dalam, bagi seorang non Muslim seperti Agustinus Wibowo—si penulis novel mendebarkan ini, bagaiman harus menjawabnya? Untunglah seseorang telah mengajarkannya untuk menjawab, “Tak perlu saya ber-namaz ‘begini’ atau ‘begini’. Agama itu yang penting adalah insaniat—kemanusiaan, bagaimana kita mencintai sesame manusia.”


Katakan saya tak mengenal sejarah2 dunia, katakan juga saya ini tak membaca berita2 luar negri, katakan apa saja yang kalian mau mengenai saya, karena dengan membaca Novel setebal 450 halaman ini, saya jadi (baru) mengerti, bahwa Afghanistan adalah penghasil opium terbesar di dunia dengan kualitas terbaik, bahwa rakyatnya, meski tau dampak negative dari opium, masih tetap saja ada yang menghirupnya, sekedar melepaskan beban hidup susah, bahwa tanah konflik ini pernah menjadi pusat ibadah ummat Buddha dengan adanya patung Buddha raksasa, sebelum datangnya agama Islam, yang kemudian semenjak berkuasanya Taliban, hancurlah peninggalan bersejarah yang memiliki nilai seni tinggi, dan bahwa penduduk Afghanistan mempunyai budaya—menjijikkan, yaitu bachabazi alias playboy. Jika diterjemahkan secara harafiah, play berarti bermain, dan boy adalah anak laki laki. Jika digabungkan adalah bermain anak laki laki. Dan demikianlah arti sebenarnya, kaum laki laki Afghan, tak terduga adalah penggemar bermain dengan anak laki laki, secara seksual. Fiuh. Bachabazi bisa dibilang lebih bisa dimaafkan dibandingkan zina. Pada jaman berkuasanya Taliban, pelaku bachabazi ini akan dihukum dengan cara diambruki tembok!!! Sementara pelaku zina akan dihukum dengan dipendam dalam tanah dan dirajam hingga mati. Lebih ringan mana? Maka karena itu, masih ada saja playboy ini…

Sepanjang novel, saya menemukan banyak sekali persamaan tak terduga antara Indonesia dan Negara bekas jajahan Uni Soviet ini. Indonesia adalah Negara kaya dengan laut yang melimpah dan tanah yang subur, namun, berapa banyak kemiskinan melanda Negara ini? Afghanistan bukan Negara kaya namun garis batas antara kaya dan miskin pun juga terlihat jelas. Para penggalang dana untuk Afghanistan tak terhitung jumlahnya, namun kemana kah aliran dana itu? Wallahualaam. Indonesia terdiri banyak suku, tak terhitung berapa kali terjadi tawur antar suku. Seingat saya dalam novel ini, Agus menuliskan adanya pertikaian tak terlihat antara Tajik dan Hazara. Kaum Tajik mengatakan ini dan itu seputar kaum Hazara. Demikian pula sebaliknya. Indonesia pun bagi sebagian orang, menganggap stereotype orang Jawa begini, Batak begitu, Madura demikian dan seterusnya. Ahhh… Bagaimana dengan penganut agama tertentu. Missal Islam, jelas sekali Indonesia mempunyai dua organisasi masyarakat Islam besar, NU dan Muhammadiyah. Tak jarang, ada juga yang mengatakan ini itu terhadap aliran masing masing. Sama halnya dengan Sunni dan Syiah di awal review ini. 

Apa yang tersisa dari perang yang berkepanjangan? Kebencian dan kekerasan seolah telah mendarah daging bagi penduduk negara ini. Simak saja soal matematika yang ada, “Jika saya membunuh tiga Rusia, dan kamu membunuh dua Rusia, berapa orang Russia yang kita bunuh?” Segala guyonan pun sudah tak terasa lagi lucunya—bagi saya. Simak saja:

Seseorang ingin  membeli keala kambing ke bazaar. “Berapa harga kepala kambing ini?” tanyanya. “Lima puluh afghani.” Jawab si penjual. “Apa? Lima puluh afghani? Mahal sekali. Dua puluh afghani ya?” tawar si pembeli. “Apa? Dua puluh afghani? Kamu kira ini kepala manusia?” 

Sama sekali tidak lucu, bukan? Pahit.

Tak sedikit dari para Afghani ini masih bernostlgia dengan penjajahan Russia terhadap Negara ini. Beberapa orang seolah masih hidup di masa lalu, masa-masa dimana merah nya Komunis merajai Negara tandus ini. Tak mengherankan, Russia membebaskan kaum perempuan dari bungkusan burqa dan membebaskan mereka untuk keluar rumah, untuk ke sekolah. Kedatangan Taliban mengembalikan mereka, kaum perempuan ini terbungkus dan hidup dalam dua dunia saja, rumah dan liang kubur. “Khazay la, ya kor, ya gor”, demikian pepatah Pashtun, yang terjemahan harafiahnya adalah, “Perempuan, di rumah atau di kubur.”.
Masalah perempuan dan burqa bias memakan waktu yang sangat panjang bagi sebagian orang. Sementara bagi sebagian penduduk Taloqan, bagian Propinsi Takhar, burqa adalah budaya yang sudah hidup berates-ratus tahun. Mereka bahkan menganggap burqa ini sudah ada bahkan sebelum Islam datang. “Dalam kitab suci, tidak pernah disebutkan seorang wanita harus menutupi seluruh wajahnya. Lalau bagaiman burqa selalu diidentikkan dengan agama?” Sa’dat, seorang wartawa Takharistan menjelaskan.  Agama kemudian menjadi justifikasi kultur. (hal. 169).

Mengikuti perjalanan Agustinus ini serasa naik roller coaster bagi saya. Suhu panas Afghanistan ikut membawa saya kepanasan, suhu panas konflik politik disana, juga membuat saya merinding, kontur tanah yang naik turun sesekali memerosokkan truck tua juga membuat mual perut saya, apalagi kekesalan hati turis yang ditinggal kendaraan selama berhari-hari membuat saya begidik karena kesal. Namun, tak jarang hati ini terasa hangat mengingat keramahan sebagian penduduk yang begitu memuliakan mehman—tamu yang mereka jamu. Ahhh… ingin rasanya ikut menjelajah tanah mantan jajahan Jengis Khan ini. Tapi mengingat bahaya ranjau yang mungkin masih mengancam dan cuaca panas menyengat, serta bom bunuh diri yang beritanya bagai mahasiswa tawur saja, saya memilih membaca saja kisah nekad penulis yang sedari kecil bercita-cita sebagai turis ini. Salut…

Check video wawancara Agustinus di Kick Andy




1 komentar:

  1. You know, mbak. Dulu itu aku suka menyesali kenapa lahir di Indonesia yang semrawut ini. Tapi sejak tahu tentang negara-negara afrika dan timur tengah yang kebanyakan hidup di bawah garis kemiskinan, sejak membaca betapa terkungkungnya masyarakat Korut, saya bersyukur banget lahir di Indonesia.

    Saya juga semakin mengimani QS Ar Rahman ayat 33 : "Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?"

    Baca review ini, lagi-lagi saya teringat surah itu. Reviewmu bagus, mbak. Ayo ajukan jadi resensi pilihan :D

    BalasHapus