Selasa, 11 Desember 2012

DANUR (Risa Saraswati)



Paperback, 204 pages
Published January, 2012 by bukune
Rating 3/5

Pernah nonton film The Sixth Sense yang dibintangi Bruce Willis dan Haley Joel Osment? Film horror psychologygarapan Night Syamalan tahun 1999 ini bercerita tentang bocah berusia 9 tahun yang semula diduga mengidap delusional, namun ternyata ia mampu melihat dan bercakap dengan orang yang sudah mati. Disinilah letak kesamaan antara Danur dengan film ini. Risa yang sebelumnya saya kenal sebagai penyanyi bersuara unik dengan nama Sarasvati menceritakan kemampuannya bercakap dengan para makhluk yang keberatan disebut hantu. Sedikit yang membedakan adalah awalnya Risa menikmati kemampuannya ini dengan berteman dengan 5 bocah Belanda yang menghuni rumah neneknya. Dia bercakap, bermain hingga saling curhat bersama. Sementara Cole, di film The 6th Sense sangat tertekan dengan kemampuannya ini. Mungkin karena apa yang ia lihat adalah wujud seram seperti yang sering kita lihat di film2 horror. Sementara Risa melihat para hantu ini dalam wujud mereka sebelum mereka mati, modis dengan baju anak Belanda. 


Kisah seram Risa dimulai ketika ia mulai ‘ditinggalkan’ para sahabat kecilnya. Menjelang dewasa, ia sempat berjanji untuk bersama mereka selama lamanya. Namun ternyata, Risa masih tetap awet hidup dan tak menjadi hantu seperti mereka. Lucu juga ya. Hantu bisa mutung juga. Begitu kisah 5 bocah Belanda ini berakhir, berakhir pula ‘kenyamanan’ membaca novel ini. Saya mulai ngeri dan merinding tiap kali pernampakan akan datang dengan sebelumnya diawali dengan bau Danur menyengat disusul dengan gedebuk bunyi yang ditimbulkan bukan makhluk hidup, lalu penampakan yang… duh, baca sendiri ya. Tak sanggup saya tulis disini (eh, saya nulis review ini malam hari pula).

Sebenarnya, tidak semua kisah disini menyeramkaan, bisa dikatakan menyedihkan malah. Tiap manusia mempunyai kisah masing-masing, dan kebetulan mereka mempunyai kisah yang berakhir tragis. Dan disinilah mengapa Risa menuliskan kisah mereka, untuk kita yang masih hidup untuk selalu mencintai kehidupan. Bagaimanapun kehidupan itu.

Selama membaca novel, saya cukup menikmati kisah tragis di dalamnya. Beberapa terasa seperti kisah2 yang beredar di film hantu Indonesia, namun siapa tahu memang demikianlah adanya. Maksudnya kisah kun**lanak biasanya memang seperti itu, mati mengenaskaan dalama kondisi hamil di luar pernikahan sah. Yang sedikit mengganggu bagi saya adalah pengulangan keluhan Risa sepanjang novel. Okelah, memang dia merasa terganggu dengan kemampuannya itu, tapi toh dia kan (pernah) menikmatinya juga? Beberapa lembar khusus curcol-annya selalu saja ditulis pertanyaan kenapa dan kenapa ia diberi kemampuannya itu. Sedikit bosan juga. Tapi cukup terbantu dengan kisah lainnya. Gaya berceritanya pun cukup variatif, point of view yang berpindah menyelamatkan kebosanan saya akan curhatan Risa yang berulang.

1 komentar:

  1. gak mau baca ah mba, takut malem2 gak bisa tidur hahaaaaa....

    BalasHapus