Selasa, 01 Januari 2013

Journey- From Jakarta to Himalaya (Gola Gong)

Paperback, 243 pages
Published April 2088 by Maximalis
Rating: 3,5/ 5 stars

Ada berapa banyak perjalanan yang sudah kita lalui? Perjalanan, baik secara fisik maupun spiritual? Saya yakin, dari sekian banyak perjalanan itu, ada satu dua atau bahkan banyak yang membekas dalam ingatan, tak bakal lekang oleh kisah perjalanan lain yang menanti di masa datang.

Terobsesi dengan novel Mengelilingi Dunia dalam 80 hari dan Tom Sawyer, Gola Gong kecil menginginkan perjalanan yang sama. Dia jelajahi dari mulai perkampungan di kotanya, hingga penjuru Nusantara, dan melebarkan sayapnya ke penjuru dunia. Tak ada yang bisa mencegah Gong kecil ini, menyusuri jalan2 di Malaysia dengan sepeda gunungnya, hingga Thailand, Laos, India, hingga Pakistan. Sesekali ia mengambil hal2 yang mengingatkannya pada Nusantaranya, secara positif ataupun negative. Semeriah2nya Kuala Lumpur, tak ada gejolak berarti dari para abege-nya. Semua berjalan bergegas seperti robot. (hal. 39). Budaya pamer taka da dalam kamus penduduk Thailand. Mereka menggunakan mobil atau kendaraan sesuai dengan fungsinya:  memboyong hasil bumi dari sawah ke pasar. Kebutuhan sekunder seperti TV, lemari es bukan jal yang bisa dipamerkan, tidak seperti budaya pamer di Indonesia. 


India, terkenal oleh kisah epic Mahabharata dan Ramayana. Tokoh2 dunia seperti Gandhi, Nehru, Bunda Teresa lahir di tanah Shah Rukh Khan ini. Kisah epic yang penuh dengan nilai ciptaan Mpu Vyasa ini ini tersebar di dunia, termasuk Indonesia. Apakah rakyat India seperti yang digambarkan dalam kisah Mahabharata atau orang2 besar yang lahir disana? Alih2 bertemu dengan pengalaman yang diimpikan semenjak kecil, Gong menemui orang2 India yang bangga sebagai orang India, dan para traveller atau turis harus menerima apa adanya, termasuk menipu demi rupee, Sungai Gangga yang disucikan, di pinggirnya para remaja pria menghisap ganja atau hashis, dan perang mulut seperti di film2 India. Tapi, cukup banyak traveller yang tak kapok menjadi turis bagi Negara asal lagu Kuch Kuch Hota Hai ini. 

Pernah nonton film India? Saya pernah. Cukup di VCD saja. Gong mengalami nonton film India di Negara asalnya. Kesan pertamanya yang merasa konyol dengan adegan nyanyi dan tarian setiap kali scene gembira ataupun sedih menjadi berubah. Bioskop India sangat merajai negerinya. Rakyat India sangat mendewakan film2 India, dibuktikan dengan teriakan heboh, ekspresi berlebih dengan berdiri serentak tiap kali adegan seru hingga hengkang sebelum film usai karena kecewa tokoh protagonist-nya mati di akhir cerita. Belum lagi dengan interval alias jeda di tengah film. Mereka bisa pergi minum di lobby bioskop. Ternyata para Indians itu juga menyadari durasi film mereka yang minta ampun lamanya.
Comments:
Terus terang, saya cukup menikmati kisah perjalanan ini meski pada awalnya saya cukup merasa terganggu dengan gaya penceritaan  Gola Gong yang maju mundur-bercampur dengan kisah Bapaknya yang sakit hingga meninggalnya. Kisah perjalanan ini di awal buku serasa terjadi hanya di kepala Gong secara flashback. Tapi seiring dengan berakhirnya kisah Bapaknya yang berpulang ke hadlirat Allah, cerita tak ubahnya kisah perjalanan biasa, menurut saya ini sedikit tidak konsisten. Saya berpikir, satu perjalanan Gong akan selalu dihubungkan dengan apa yang sedang terjadi saat itu—saat dimana ia sedang menunggui bapaknya yang sedang sakit. Di beberapa bab sih demikian, tapi di bab berikutnya tak selalu demikian.

Ketidaknyamanan yang lain selama membaca novel setebal 245 halaman ini adalah typo kata ataupun kalimat (saya merasa ada satu kata yang hilang) yang cukup banyak. Sayangnya saya tak berminat memberi tanda di tiap typo tersebut. Belum lagi sponsor besar Gola Gong selama perjalanan ini disebut berkali kali yang membuat saya malas. Oke lah, dia memang terkenal sebagai jurnalis sebuah penerbit tertentu dan juga penulis tetap suatu majalah, tapi bukan berarti nama2 itu menghiasi  halaman2 novelnya. Mungkin, tulisan ini sempat diterbitkan secara rutin entah di surat kabar atau majalah yang sering disebutkannya, tapi ketika kemudian tulisan itu dirangkum dalam satu novel, ada baiknya di edit sana sini. Kalimat2 tertulis yang terkadang seperti kalimat langsung atau bahasa non tulis terkadang bisa ditemui juga. Hey, saya sering ngomel pada murid saya yang menulis paper dengan gaya bahasa spoken, dan bukan written, mengapa penulis sekelas Gola Gong masih menggunakan kalimat semacam ini? Jika di semua bab, gaya berceritanya memang demikian, mungkin saya akan merasa it’s fine. Tapi kalimat2 semacam ini hanya ditemukan sesekali. Butuh proof reader handal nih kayaknya hahaha…

Satu lagi, maap, sedikit personal ya, Gola Gong sepertinya cukup gender biased. Dia merasa cowok—lelaki, sah untuk pergi, mencari pengalaman dengan melakukan perjalanan jauh. Apakah itu berarti cewek tak boleh? Bagaimana menurutnya seorang Trinity dalam benaknya? Meski tidak terlalu nge-fans dengan Trinity, saya salut dengan tekad Naked—Nekad Traveller-nya. Engg….. satu lagi, mungkin ini hanya perasaan saya saja, ke-aku-an seorang Gola Gong sangat terasa disini. Saya membaca beberapa kisah perjalanan, dan saya tak tahan untuk tidak membandingkan antara satu karya dengan lainnya. Subjective, memang. Tapi apa hendak dikata kalau saya tak bisa menahannya? Agustinus Wibowo dengan Selimut Debu-nya sangat mempesona saya. Tak ada indikasi ‘aku’ yang tinggi disana. Agak sulit menjabarkan seperti apa ‘aku’ yang saya maksud disini. Coba saja baca, dan rasakan sensasi ke-aku-an seorang Gola Gong.

4 komentar:

  1. review yg "dalam", brp tulisan gola gong mmg sgt machoism. tp begitupula sebagian besar penulis novel pria, hanya cowo yg keluar menuntut ilmu sampai negeri cina. ini hanya masalah beda generasi , sih, msh old-fashion. generasi trinity kesana akan berubah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aha, begitu ya? Emang sih banyak penulis pria yang gender biased begini.

      Makasih ya sudah mampir :)

      Hapus
  2. contoh kalimat spokennya kayak gimana ya, mbak? jadi penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hadhuh.... Kudu buka bukunya lagi nih. Padal sekarang lagi terlena oleh Harry Potter. Nanti ya... Kucoba buka lagi. Maklum nulis review tanpa orek2, dan nulisnya 2 mingguan setelah selesai baca bukunya. Duh... malah curcol :D

      Hapus