Jumat, 11 Januari 2013

BELIEVE – VICTORIA ALEXANDER


Ebook format, 300 pages
Published July 1, 1998 by Love Spell
Rating 3,5/ 5 stars

Ada banyak argument seputar keberadaan legenda Raja Arthur dan Satria Meja Bundar-nya. Dari banyak argumen itu, saya lebih memilih berada di tengah-tengah. Bisa saja Arthur benar-benar ada lengkap dengan para satrianya, dan memberi warna sejarah Britania Raya. Namun apakah sejarah yang beredar itu sama persis dengan yang tertulis di banyak situs, saya kurang peduli. Saya hanya peduli bahwa saya suka banget serial Merlin dari BBC yang baru-baru ini usai di season-nya yang ke-5. Dari serial itu pula, saya menggali berbagai resensi seputar Arthurian Legend. Selain menonton film yang berhubungan dengan legenda yang bersangkutan, saya menemukan ebook ini, yang masih nyangkut dengan Merlin and his magic. 

Tessa St. James, seorang dosen Sejarah (?) undergraduate tidak pernah percaya segala sejarah yang berhubungan dengan legenda Arthur. Sebaliknya, dia percaya itu hanya legenda, mitos seperti halnya para dewa-dewa Yunani. Dia selalu menyatakan pada audiens di kelasnya bahwa cerita Arthur adalah legenda, dongeng sebelum tidur. Hingga muncullah sosok mirip Fred Astaire di salah satu kelasnya dan mendebat kuliahnya. Hidup Tessa berubah 180 derajat setelah ia menemukan buku berjudul My Life and Time: The Story of Merlin, Wizard Extraordinaire and The Counselor to Kings. Di perpustakaan kampus yang sepi, Tessa terjebak dalam gambar-gambar hidup para ksatria Meja Bundar, menyeretnya ke sebuah kapel tua, dimana seorang ksatria sedang berlutut tak bergeming… 


Tessa panic. Apakah ini mimpi? Dia harus bangun untuk segera mempersiapkan diri pergi menuju Yunani untuk penelitiannya. Tapi mimpi itu sepertinya bukan mimpi. Kenyataan ia bertemu dengan seseorang mirip Fred Astaire yang ia temui di kelasnya, dan seorang ksatria yang tengah bersiap dengan ‘quest’nya, mencari Holy Grail…. Kepercayaan terhadap cerita Arthur sebagai legenda mulai goyah, demikian pula dengan kepercayaannya terhadap cinta… 

Comments

Ini adalah oertama kalinya saya membaca novel ber-genre historical romance. Alasannya sudah jelas di awal review ini, saya suka yang berhubungan dengan Arthur, tepatnya Merlin si penyihir #salahkanColinMorgan hihihi… bahkan, saya menulis review ini dengan menikmati lagu2 yang berbau Celtic, album dari David Arkenstone berjudul Avalon Celtic Legend. Lagu-lagunya berjudul Arthur’s Farewell, Enchantments, The Spirit of Excalibur, Road to Camelot, Merlin’s Secret, Guinevere’s Tears, dll. Owh..owh… Nah lo….ngga nyambung ya… 

 Saya membaca novel ini selang beberapa hari saya nangis-nangis nonton akhir serial Merlin yang berakhir tragis, Arthur mati di ujung pedang Mordred. Sebagai pelariannya, saya membaca novel inim, berharap kesedihan saya terobati #lebay… Hasilnya lumayan sih. Saya cukup menikmati kisah asmara dua manusia beda generasi antara Tessa – Galahad. Galahad yang diceritakan sebagai putra Lancelot mengemban tugas dari raja Arhtur mencari Holy Grail. Alih-alih menemukannya, Galahad menemukan Tessa—semula dikiranya sebagai laki-laki dan kemudian disebut sebagai ‘mere woman’—sebagai pengganti cintanya yang terkubur lama hilang. Tessa yang juga kebetulan tak percaya akan cinta sejati menemukannya pada pria yang ia sebagai ‘A hunk’. 

Klise memang. Ada berapa banyak novel yang memasang para tokohnya yang ‘skeptical;’ dengan cinta dan akhirnya menemukan cinta sejatinya setelah bertemu dengan seseorang yang diawali dengan berlembar-lembar adu mulut? OK, I can take that, Ms Alexander. Tapi agak sebal juga dengan Tessa yang dari awal pertemuannya dengan Merlin sudah menganggap bahwa pertemuannya ini adalah mimpi. Racauannya menghabiskan energy pembaca. Terkadang lucu sih, tapi akhirnya terasa konyol terutama setelah berhari-hari dia meyakini ini bukan mimpi, tapi tetap saja ia menganggap sentuhan Galahad yang menimbulkan gairahnya masih seperti mimpi. Hingga akhirnya…… Kipas…mana kipas? :D 

Overall, novel ini lumayan untuk mengobati ‘sakit hati’ saya karena tamatnya serial kesayangan saya. Dialognya sering kali lucu. Membayangkan Tessa dari Kansas bertemu dengan Galahad di jaman Middle Age. Bahasa makian slang Tessa bersahutan dengan gaya santun ala kerajaan oleh Galahad. Symbol Holy Grail yang disebutkan oleh Merlin ternyata berbeda dari konsep aslinya. Saya rekomendasikan novel ini buat mereka yang suka dengan novel2 Hisfic dan pecinta Merlin seperti saya.. Arrrghhh… Nonton Colin Morgan lagi ah….

8 komentar:

  1. Aku juga suka bgt Merlin tapi setelah sampe season 3 berhenti karena nunggu kelar dulu biar bisa nonton marathon. Skg uda sampe season 5 ajah yaa? Cepet bgt!! Harus buru2 donlot nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku punya lengkap, Kyyyyy.... Sini aku transfer.... :D

      Siap2 sakit hati terus di season 5 ya, and sedia tissue untuk episode TERAKHIRnya... :'(

      Hapus
  2. Merlin yg series itu udah tamat, mbak? #salahfokus

    Btw baca terjemahan ato bahasa inggris, mbak? Penasaran terjemahannya gimana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah, Dew.... Ih, sebel masak gitu endingnya? Tapi emang gitu suratan takdirnya soh. Kenapa ngga di twist gitu... :(

      Iya, pengen tau juga terjemahannya kayak apa terutama bagian bahasa Inggris kunonya...

      Hapus
    2. la ini yang diterjemahin ama melo bukan ya?

      Hapus
    3. Yoi... Mau ebooknya? #dikeplak :D

      Hapus
    4. iki kan iso dileboke new authors reading challenge?

      Hapus
    5. Hihi... Tapi aku moh ngapusi, aku khatame tahun lalu hihi...

      Hapus