Selasa, 30 April 2013

Paper Romance by Lia Indra Andriana




Paperback, 372  pages
Published April 2013 by Penerbit Haru
Rating 3,5/5

Pernah punya boss galak, yang berlidah tajam plus bertenaga lebih dengan lengkingan beroktaf oktaf ketika emosi? Eliana Chandra pernah. Sebenarnya, Kev Mirrow bukan boss-nya, 'hanya' adik dari boss-nya. Tapi ternyata Eliana harus lebih banyak berurusan dengan Kev yang berprofesi sebagai penulis novel romans dan pemain teater. Karena kecelakaan, Kev tidak bisa menggunakan tangannya untuk mengetik, sehingga dia membutuhkan tenaga asisten untuk mengetik naskah novelnya yang sedang ditulisnya.

Interaksi keduanya berlanjut hingga di luar kantor. Tak jarang, Eli harus menemui boss nya ini di hari libur, apalagi ketika sakit si boss berlanjut. Si boss yang adalah artis terkenal tentu saja menjadi magnet bagi para wartawan. Keberadaan Eli disamping si boss mengundang tanya, belum lagi kondisi ingatan dan emosi Kev yang sempat berubah drastis setelah kecelakaan. Romans mereka berdua, bisa saja berlanjut jika gadis dari masa lalu Kev tidak muncul dan memporak porandakan perasaan keduanya.


***
Ini adalah perkenalan saya yang pertama dengan Lia Indra Andriana, yang ternyata ini adalah karyanya yang ke 19. Wow, produktif juga ya. Bahasa yang digunakan cukup formal, bahasa gaul hanya digunakan untuk dialog beberapa karakter didalamnya. Saya cukup menikmati gaya bahasa mengalir dari penulis kelahiran 1986 ini.

Sayang beribu sayang, gaya bahasa ini tidak didukung dengan karakterisasi di dalamnya. Terus terang, para karakter disini tidak ada yang baru, yang unik yang bisa saya jadikan sebagai book boyfriend di akhir tahun ini. Karakter cowok cewek sangat tipikal drama drama Asia. Sebut saja Kev Mirrow, selama membaca, ada banyak tokoh drama Korea yang bersliweran dalam benak saya. Misal, Lee Yong jae di Full House, yang kebetulan juga artis, mirip Kev. Judesnya juga mengingatkan saya pada Tae Kyung di He's Beautiful ato Pangeran Shin di Princess Hours. Ah, saya sudah lupa siapa saja dan apa saja KDrama yang sudah saya tonton. Pokoknya Kev ini adalah sosknya antagonis protagonis di drama tersebut. Untuk Eliana, saya juga punya banyak gambaran di banyak drama tersebut. Seseorang yang tidak berdaya karena boss yang galak. Go Minam mungkin sedikit mirip. Yang sering dilakukan adalah bengong, kaget dan deg degan. Duh, mbak, mbak, mbok jangan gitu gitu amat. Kev juga manusia biasa kok. k\jika ini adalah drama Asia, saya yakin, tiap kali Eli bengong ato kaget, mata akan melebar, mulut mengerucut atau dilipat, dengan kamera zoom in di wajahnya. Ah, saya memang pernah mabuk Kdrama, dan sempat berhenti nonton drama2 karena saking bosan dengan tipikal para tokohnya.  

Untuk karakter pendamping utama, juga hampir sama. Nathan Black, si ganteng blasteran ini sayangnya perannya hanya sebagai pria-dada-untuk-menangis. Ngga tepat seperti itu sih, tapi paling tidak kehadirannya memang untuk itu. Dia adalah pria yang bisa membuat wajah Eli penuh senyum dan ceria. Dalam bayangan saya, tentu saja si abang ganteng blasteran Korea-Amerika, Daniel Henney. Bahasa Indonesia yang patah patah setali tiga uang dengan Daniel yang dalam perannya selalu lebih banyak ngomong Inggrisnya, daripada bahasa Korea. Liat saja di My Name is Kim Sam Soon dan Spring Waltz.

Oh, well, memang sih, si penulis sah sah saja menciptakan karakter novelnya, tapi kenapa selama membaca saya tak lepas membayangkan adegan di drama ini dan di drama itu? Kali aja saya yang sudah kenyang nonton KDrama ini jadi korslet daya imajinasinya? Hahaha. Anyway, saya suka twist romans di bagian akhir cerita. Dan juga topik penulisan buku, meski tidak dijelaskan secara detil, hanya memfokuskan pada emosi para tokoh di dalamnya, dan penggunaan note warna warni yang digunakan tokoh-tokohnya, menambah romantis novel bersampul hijau muda ini. Saya sangat rekomendasikan buat mereka yang suka drama sweet khas drama Asia.

Ps:
Post saya ikutkan dalam Reading Challenge Finding New Author.

3 komentar:

  1. Satu yg aku sayangkan disini adalah Nathan porsinya kurang banyak, padahal potensial jadi orang ketiga tapi kayaknya dari awal emang bukan takdir Nathan utk gangguin Eli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo jadi orang ketiga, kupikir Nathan terlalu mencolok dari awal. Agak aneh sebenarnya ketika dia kelihatannya senang pas tau kalo Kev-Eli itu hanya pura pura, padal endingnya Nathan ngga ada apa apa sama Eli #maap #spoiler #abaikan ya ;D

      Hapus
  2. kapan2 pinjem ah #lalala #yeyeyeye

    BalasHapus